Kebakaran Way Kambas Meluas, Pemadaman Diperkuat Water Bombing dan Drone Thermal
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Lampung, mendapat dukungan operasi udara dengan mengerahkan helikopter water bombing.
Helikopter BNPB berregistrasi N360UH tiba di kawasan TNWK sekitar pukul 16.00 WIB. Pesawat jenis Sikorsky UH-60A Black Hawk itu kemudian menjalankan misi pendinginan pada sejumlah area yang terdampak kebakaran.
Dalam operasi tersebut, helikopter mengambil air dari sungai yang berada di sekitar batas kawasan TNWK dengan menggunakan helibucket. Air kemudian dijatuhkan ke titik-titik yang masih terbakar.
Penyiraman dari udara berlangsung selama kurang lebih tiga jam di sekitar Desa Braja Luhur, Kecamatan Braja Selebah.
Pengerahan armada udara tersebut dilakukan setelah Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat secara virtual dengan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.
Dua helikopter dilaporkan disiapkan untuk mendukung penanganan karhutla. Armada tersebut masing-masing didatangkan dari Palembang dan Jawa Timur untuk menjangkau kawasan yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Kehadiran helikopter menjadi bagian dari operasi terpadu yang melibatkan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, TNI, Polri, serta personel gabungan.
Gunakan Drone Thermal untuk Cari Bara
Penanganan kebakaran tidak hanya dilakukan melalui water bombing. Tim di lapangan turut memakai drone thermal untuk memetakan titik panas dan mencari bara yang masih berada di bawah permukaan tanah.
Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, pemantauan dengan teknologi thermal dilakukan untuk mengetahui potensi titik api yang dapat kembali membesar.
"Tadi sudah kita adakan surveillance dulu, pengamatan menggunakan thermal untuk melihat titik api yang masih mungkin menjadi bara dan menyebabkan kebakaran berulang. Selanjutnya, sesuai instruksi Presiden dan Panglima TNI, kita menerjunkan Tim Alfa ke lokasi-lokasi sulit yang masih menyisakan hotspot," ujar Kristomei, Rabu 26 Agustus 2026.
Setelah titik panas teridentifikasi, personel gabungan diterjunkan menuju area yang sulit diakses. Metode fast roping digunakan untuk menurunkan anggota tim ke lokasi yang terisolasi sehingga proses pemadaman dapat segera dilakukan.
Penanganan di darat tersebut kemudian diperkuat penyiraman melalui udara. Tim juga menyiapkan drone penyemprot dengan kapasitas yang beragam untuk membantu menangani titik api yang tidak dapat didatangi melalui akses darat.
"Siang ini kita menyiapkan penanganan water bombing untuk menyirami titik hotspot agar suhunya turun. Selain itu, kami mendatangkan drone semprot berkapasitas 16 liter, 30 liter, hingga 100 liter yang bisa beroperasi bolak-balik menyiram kawasan yang tidak bisa dijangkau dengan jalan kaki," tambah Kristomei.
Pengoperasian drone semprot diharapkan dapat memperluas jangkauan pemadaman, terutama pada lokasi yang tidak dapat dilalui kendaraan ataupun didatangi personel.
Lebih dari 800 Hektar Terdampak
Data penanganan menunjukkan kebakaran melanda sejumlah bagian kawasan TNWK dalam beberapa hari terakhir.
Pada 21-22 Agustus 2026, luas area yang terdampak api di wilayah Braja Harjosari diperkirakan mencapai 673 hektar.
Kebakaran kemudian kembali ditemukan pada 23-24 Agustus di wilayah Braja Kencana dan Braja Luhur dengan luas sekitar 123 hektar.
Selain itu, kawasan Rantau Jaya juga mengalami kebakaran dengan luasan sekitar 6,4 hektar.
Dengan demikian, total area yang terdampak berdasarkan data tersebut mencapai sekitar 802,4 hektar.
Kristomei menyebut vegetasi yang terbakar didominasi savana dan padang alang-alang. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam upaya pengendalian kebakaran di kawasan konservasi.
"Langkah cepat ini diprioritaskan untuk mengamankan kawasan TNWK sekaligus melindungi satwa liar dilindungi seperti gajah dan badak sumatra dari dampak asap dan api," kata Kristomei.
Hingga kini, operasi penanganan karhutla di TNWK masih berjalan. Tim gabungan mengombinasikan pemantauan dari udara, penyiraman menggunakan helikopter, penggunaan drone semprot, serta pengerahan pasukan di darat.
Pemantauan terhadap hotspot dan bara api juga terus dilakukan untuk mencegah munculnya kebakaran baru. Selain mengendalikan api, petugas berupaya menjaga kawasan konservasi dan melindungi habitat satwa liar yang berada di dalam TN Way Kambas. (nba)
Load more