179 Ribu Warga NTT Mengungsi Takut Gempa Susulan, BNPB: Bukan Semua Korban Terdampak
- Sekretariat Presiden
“Ini yang kami terus perangi, gotong royong semua unsur untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat,” tegas Suharyanto.
Dalam laporan yang sama, BNPB mencatat dampak kemanusiaan yang cukup besar akibat rangkaian gempa Flores.
Hingga Rabu (26/8/2026), tercatat 105 orang meninggal dunia, 1.678 orang mengalami luka-luka, dan 179.037 orang mengungsi.
Kerusakan juga terjadi pada sedikitnya 81.436 unit rumah. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan turut terdampak.
“Untuk yang meninggal dunia ada 105 jiwa Bapak Presiden; luka-luka 1.678; mengungsi 179.037 orang; rumah rusak data sementaranya 81.436 orang (unit); dan fasilitas umum yang lain: sekolah, masjid, kemudian juga ada kantor pemerintah,” kata Suharyanto.
Meski kerusakan terjadi di berbagai wilayah, kondisi jembatan relatif lebih baik. Suharyanto menyebut tidak ada jembatan yang mengalami kerusakan parah, meski terdapat sejumlah jembatan yang terdampak longsor.
“Alhamdulillah untuk jembatan-jembatan tidak ada yang rusak parah, hanya ada beberapa yang longsor,” ujarnya.
Dari sejumlah wilayah terdampak, Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua daerah dengan kondisi paling parah. Kabupaten Nagekeo juga masuk dalam wilayah dengan tingkat dampak cukup berat.
“Yang terparah ada dua kabupaten yaitu Manggarai dan Manggarai Timur, tetapi juga Nagekeo ini juga termasuk kabupaten yang cukup parah, kalau dibuat ranking adalah nomor tiga Bapak Presiden,” kata Suharyanto.
BNPB juga memisahkan antara korban yang terdampak langsung oleh gempa dengan korban meninggal yang terjadi setelahnya.
Menurut Suharyanto, korban yang terkena dampak langsung gempa tercatat sebanyak 48 orang.
“Kemudian kami laporkan yang sebetulnya terkena gempa langsung korbannya itu 48 orang Bapak Presiden,” ujarnya.
Adapun tambahan 57 korban meninggal berasal dari berbagai kondisi setelah bencana, termasuk korban yang ditemukan dalam operasi pencarian dan pertolongan, pasien yang menjalani perawatan namun tidak tertolong, serta warga yang mengalami trauma dan kelompok rentan seperti lanjut usia dan anak-anak.
“Kemudian ada tambahan 57 ini ada datanya lengkap, memang hasil dari operasi SAR yang dilakukan oleh Basarnas, kemudian dirawat di fasilitas-fasilitas kesehatan yang tidak selamat, kemudian juga ada yang trauma, ada yang lansia, ada anak-anak, sehingga menambah 57 sehingga meninggal dunia sekarang 105 orang,” jelas Suharyanto. (agr/rpi)
Load more