Prabowo Perintahkan BRIN-TNI Bikin Teknologi Desalinasi Pengolah Air Laut, Pulau Palue NTT Jadi Prioritas
- Youtube/Setpres
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Pertahanan (Unhan), TNI, dan fakultas-fakultas teknik mengembangkan teknologi desalinasi yang dapat dibangun secara mandiri di dalam negeri.
Teknologi ini ditujukan untuk memasok kebutuhan air di daerah yang mengalami keterbatasan sumber air, terutama wilayah kepulauan dan pesisir.
Pulau Palue, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu wilayah yang secara khusus diminta Prabowo untuk mendapat teknologi tersebut.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari solusi ketersediaan air bagi masyarakat di tengah penanganan dampak gempa NTT.
“Saya minta BRIN, mungkin dengan Unhan, ya, TNI, dan fakultas-fakultas teknik, saya minta teknologi desalinasi untuk yang kita mampu bangun sendiri segera dikirim ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan,” kata Prabowo, dalam rapat terkait penanganan bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagaimana ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (26/8).
“Terutama Pulau Palue, ya? Segera dikirim ke pulau-pulau tersebut atau ke daerah-daerah yang membutuhkan di pinggir pantai-pantai, ya,” ujarnya menambahkan.
Desalinasi menjadi salah satu opsi yang didorong pemerintah untuk mengatasi keterbatasan air di kawasan pesisir.
Teknologi tersebut memungkinkan air laut diolah menjadi air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Prabowo menekankan teknologi yang dikembangkan harus dapat dibangun sendiri sehingga penerapannya di daerah-daerah yang membutuhkan dapat dilakukan lebih cepat dan tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi dari luar.
Selain mengarahkan pengembangan teknologi, Prabowo juga membahas rencana pengembangan kawasan pertanian dan perikanan di Nagekeo.
Dalam rapat tersebut, ia mendapat laporan mengenai pembangunan bendungan yang ditargetkan rampung dalam beberapa bulan mendatang.
Pembangunan infrastruktur air tersebut dinilai dapat menjadi fondasi untuk membuka lahan produktif dalam skala besar. Prabowo menyatakan pemerintah akan mendukung rencana tersebut dengan catatan sistem irigasi telah siap.
“Baik, kalau asal irigasinya sudah siap, ya, kita dukung proyek ini. 8.000 hektare ya? 8.000 hektare, mungkin yang 100 hektare dekat pantai kita bikin budi daya ikan. Dan yang pantai kita juga bikin budi daya ikan juga. Ada yang langsung di pantai, ada yang masuk sedikit ke pantai, enggak apa-apa,” tuturnya.
Dari total 8.000 hektare lahan yang disiapkan, Prabowo mengarahkan sebagian area di sekitar pantai untuk kegiatan budi daya ikan. Sementara sebagian besar kawasan akan dikembangkan sebagai lahan pertanian.
“100 hektare itu cukup besar untuk budi daya ikan, ya. Untuk 8.000 hektare untuk pertanian,” tandasnya.
Skema tersebut dirancang untuk menggabungkan pemanfaatan sumber daya darat dan laut dalam satu kawasan produktif.
Dengan dukungan bendungan dan irigasi, lahan pertanian diharapkan dapat dikembangkan secara optimal, sedangkan wilayah pesisir dimanfaatkan untuk memperkuat sektor perikanan. (agr/dpi)
Load more