Presiden Prabowo Gaungkan Revolusi Hijau di NTT: No Tree, No Forest
- Youtube/Setpres
Jakarta, tvOnenews.com - Presiden Prabowo Subianto mendorong penghijauan besar-besaran di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan melibatkan pemerintah daerah hingga masyarakat.
Menurut Prabowo, pemulihan tutupan pohon harus berjalan beriringan dengan pembangunan pertanian dan penguatan ketahanan air.
Prabowo menekankan pentingnya mengubah perilaku masyarakat, terutama generasi muda dan anak sekolah, agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar atau menebang pohon secara sembarangan.
“Jadi nanti Provinsi dan Kabupaten selain pertanian tapi juga penghijauan kembali. Menanam pohon dalam jumlah yang sangat banyak, ya,” kata Prabowo, saat rapat terkait penanganan bencana gempa di NTT, sebagaimana ditayangkan melalui YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (26/8).
Menurut Prabowo, penghijauan tidak cukup hanya dilakukan melalui penanaman pohon. Edukasi sejak usia dini dinilai penting agar upaya pemulihan lingkungan dapat bertahan dalam jangka panjang.
“Dengan pendidikan mulai dari anak-anak muda, anak-anak sekolah, bahwa tidak lagi boleh bakar atau tebang pohon seenaknya,” ujarnya.
Prabowo kemudian menekankan keterkaitan langsung antara keberadaan hutan, ketersediaan air, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat.
“Pohon adalah sumber kehidupan, ya. Pohon adalah sumber kehidupan. No tree, no forest. No forest, no water. No water, no life. Ingat ya,” tegas dia.
Persoalan air menjadi salah satu perhatian utama Prabowo dalam rencana pembangunan NTT. Pemerintah didorong mengombinasikan pemulihan lingkungan dengan pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
Prabowo mengatakan teknologi desalinasi yang dikembangkan lembaga pendidikan dalam negeri telah tersedia.
Di sisi lain, teknologi dari luar negeri juga dinilai semakin terjangkau sehingga dapat menjadi pilihan untuk mempercepat penyediaan air bersih.
“Ya masalah air ini jadi sangat penting. Ya kita pakai teknologi desalinasi, ya desalinasi yang kita kembangkan oleh lembaga pendidikan kita sendiri sudah ada,” katanya.
“Tapi teknologi dari luar negeri juga harganya sudah menurun. Ini nanti kita integrasikan ya, kita bantu ke semua Kabupaten, Kecamatan, desa yang membutuhkan air bersih. Tapi kita harus edukasi rakyat kita,” lanjut Prabowo.
Pengembangan teknologi tersebut akan diarahkan hingga tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa yang membutuhkan.
Namun, Prabowo kembali menekankan bahwa penyediaan infrastruktur air harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Untuk mempercepat penghijauan, pemerintah pusat akan membantu membangun pusat persemaian atau nursery dan fasilitas perbenihan di tingkat provinsi maupun kabupaten.
Fasilitas tersebut akan menjadi tempat penyemaian benih pohon produktif sebelum ditanam di berbagai kawasan terbuka.
“Jadi nanti dibantu oleh pusat, kita bangun nursery, perbenihan ya, di Provinsi dan di tiap Kabupaten perbenihan untuk disemaikan benih-benih pohon yang produktif,” ungkapnya.
Prabowo mengarahkan agar lahan terbuka tidak dibiarkan begitu saja. Selain tanaman produktif yang dapat memberikan manfaat ekonomi, pohon yang memiliki fungsi menjaga ketersediaan air juga harus ditanam.
“Ya, pohon dan tanaman produktif. Semua lahan yang terbuka kita tanam pohon yang produktif dan pohon-pohon untuk mengamankan air,” tutur dia.
Untuk kawasan pegunungan, Prabowo mendorong penerapan konsep permaculture. Ia mengakui metode tersebut tidak akan memberikan hasil secara instan, tetapi dapat memberikan manfaat besar terhadap tata air jika dilakukan secara konsisten.
“kemudian gunung-gunung kita lakukan apa yang disebut permaculture. Permaculture ini memang tidak bisa langsung satu-dua tahun hasilnya, tapi kalau dilakukan dengan teliti dalam empat, lima, enam tahun itu bisa menampung dan menambah air di dalam bumi,” tandasnya. (agr/dpi)
Load more