IHSG Tersungkur 1% ke 6.611, Asing Lepas Rp1,31 Triliun, Saham Bank Jumbo Jadi Sasaran
- ANTARA
Jakarta, tvOnenews.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (10/9/2026). Setelah sempat menguat pada awal perdagangan dan menembus level 6.700, indeks berbalik arah hingga mengalami pelemahan cukup dalam pada perdagangan sesi II.
Berdasarkan data hingga pukul 14.25 WIB, IHSG anjlok 1% atau 66,50 poin ke level 6.611,70.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada rentang yang cukup lebar. Indeks sempat mencapai level tertinggi 6.712,50 sebelum akhirnya berbalik turun. IHSG bahkan menyentuh level terendah 6.608,21.
Tekanan terhadap indeks semakin terasa memasuki sesi II. Pelemahan terjadi seiring dengan turunnya mayoritas saham berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama IHSG.
Beberapa saham big caps tercatat mengalami penurunan cukup signifikan, di antaranya:
Pergerakan tersebut turut memperbesar tekanan terhadap indeks karena saham-saham berkapitalisasi besar memiliki pengaruh terhadap pergerakan IHSG.
Hampir 500 Saham Berada di Zona Merah
Tekanan pasar juga terlihat dari luasnya pelemahan saham secara keseluruhan. Hingga pukul 14.25 WIB, sebanyak 495 saham tercatat melemah.
Sementara itu, hanya 172 saham yang mampu menguat. Sebanyak 296 saham lainnya bergerak stagnan.
Data tersebut menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada sejumlah saham tertentu, tetapi juga menyebar ke berbagai saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia.
Kondisi pasar yang didominasi saham melemah membuat laju IHSG semakin sulit untuk kembali ke zona penguatan setelah indeks sempat menembus level 6.700 pada awal perdagangan.
Harga Minyak Brent Tembus US$101 per Barel
Salah satu faktor yang ikut menekan pergerakan IHSG berasal dari sentimen eksternal. Pasar saham Indonesia bergerak melemah di tengah lonjakan harga minyak mentah Brent yang telah menembus US$101 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi ini kembali menimbulkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian investor karena dapat meningkatkan biaya energi dan berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Sentimen tersebut kemudian ikut memengaruhi keputusan investor di pasar keuangan.
Di sisi lain, imbal hasil atau yield US Treasury 10 tahun juga masih berada pada level tinggi, yakni sekitar 4,86%.
Load more