Luhut Yakinkan Investor: Jangan Ragu Masuk, Indonesia Tidak akan Kolaps
- ANTARA
tvOnenews.com - Ketidakpastian ekonomi global membuat keputusan menanam modal menjadi semakin penuh perhitungan.
Di tengah situasi tersebut, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan justru menyampaikan pesan langsung kepada investor domestik maupun internasional agar tidak melihat Indonesia sebagai negara yang sedang menuju kehancuran ekonomi.
Dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026), Luhut menegaskan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang menurutnya sehat.
Ia mengakui terdapat berbagai persoalan di dalam negeri, tetapi pemerintah disebut terus berupaya menyelesaikannya sembari memperkuat industri, tata kelola pemerintahan, dan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Pernyataan tersebut sekaligus membawa pesan lain yang tidak kalah penting bagi calon penanam modal. Pemerintah tidak lagi hanya menginginkan investasi yang membawa uang dan teknologi ke Indonesia. Luhut mendorong agar kerja sama berikutnya menghasilkan kemampuan baru, riset bersama, tenaga ahli yang semakin kuat, hingga inovasi yang dapat dikembangkan di dalam negeri.
Luhut: Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Sehat
Luhut menyampaikan keyakinannya di hadapan para pelaku usaha dan investor yang hadir dalam forum keberlanjutan tersebut.
"Pesan saya sangat jelas dan sederhana bagi para investor: jangan ragu untuk berinvestasi di negara ini. Fundamental ekonomi kita tetap sehat dan prospek jangka panjang kita sangat kuat. Indonesia tidak akan kolaps," ujar Luhut.
Ia tidak menutup mata terhadap persoalan yang masih dihadapi Indonesia. Menurut Luhut, tantangan tersebut perlu diakui sekaligus diselesaikan melalui penguatan industri nasional, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta peningkatan kualitas SDM.
Dengan demikian, pesan kepada investor tidak hanya berupa ajakan untuk menanam modal. Pemerintah juga ingin memberikan gambaran bahwa investasi ditempatkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kemampuan ekonomi Indonesia.
Forum ISF 2026 sendiri mengangkat tema “Investing for a Resilient, Sustainable, and Prosperous World”, dengan pembahasan yang mencakup investasi, teknologi, inovasi, pertumbuhan rendah karbon, serta ketahanan ekonomi.
Dari Transfer Teknologi ke Joint Innovation
Perubahan paling menarik terletak pada pendekatan pemerintah terhadap investasi.
Luhut menyebut Indonesia kini perlu bergerak lebih jauh dari sekadar menerima alih teknologi atau technology transfer. Target berikutnya adalah membangun joint innovation, yakni inovasi yang dikembangkan bersama antara Indonesia dan mitra internasional.
Dalam pandangan tersebut, investor tidak hanya membawa modal dan teknologi yang sudah tersedia. Mereka juga diharapkan ikut membangun kemampuan riset, melatih tenaga ahli, serta mengembangkan solusi teknologi yang relevan dengan kebutuhan industri Indonesia.
Salah satu contoh yang disorot adalah sektor nikel, baterai, dan kendaraan listrik atau EV. Luhut mendorong mitra internasional membangun laboratorium bersama, melatih para insinyur Indonesia, sekaligus memberikan persoalan nyata yang dapat dikerjakan oleh peneliti muda.
Ia menilai para insinyur Indonesia perlu terlibat langsung dalam penelitian dan pengembangan teknologi bersama mitra dari luar negeri. Pendekatan ini diharapkan membuat investasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas produksi, tetapi ikut menciptakan kemampuan teknologi di dalam negeri.
Sektor baterai dan kendaraan listrik menjadi salah satu contoh. Pengembangan rantai pasok, teknologi baterai, daur ulang, hingga produksi yang lebih bersih dan efisien disebut sebagai ruang kerja sama yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Investasi Diminta Sabar, Pemerintah Janjikan Kemudahan
Model investasi berbasis inovasi tentu membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan sekadar pembangunan fasilitas produksi. Karena itu, Luhut menekankan pentingnya pendanaan yang sabar, terutama untuk penelitian tahap awal.
Teknologi yang menjanjikan juga membutuhkan proyek percontohan. Setelah berhasil melewati tahap tersebut, proyek masih memerlukan modal tambahan agar dapat diperbesar dan masuk ke tahap komersialisasi.
Di sinilah pemerintah ingin mengambil peran melalui kepastian kebijakan dan penyederhanaan birokrasi. Luhut memastikan pemerintah berkomitmen menjaga konsistensi kebijakan agar berbagai komitmen investasi dapat benar-benar diwujudkan menjadi proyek konkret.
Pendekatan serupa juga dapat diterapkan di sektor lain. Di bidang pertanian, misalnya, Luhut melihat teknologi genomik dan bioteknologi sebagai peluang untuk menghasilkan benih yang lebih baik dan tanaman yang lebih tahan terhadap berbagai kondisi. Kerja sama universitas, pelaku usaha, dan petani dinilai dapat membuka ruang bagi riset sekaligus meningkatkan produktivitas.
Pada akhirnya, pesan Luhut kepada investor memiliki dua lapis. Pertama, ia ingin meyakinkan bahwa Indonesia tidak sedang menuju kolaps dan fundamental ekonomi serta prospek jangka panjang negara tetap dinilai kuat. Kedua, pemerintah menginginkan kualitas investasi yang masuk ikut berubah.
Artinya, modal asing maupun domestik diharapkan tidak berhenti pada pembangunan aset dan fasilitas produksi. Investasi berikutnya diarahkan untuk membawa riset, inovasi, talenta, teknologi, dan kemampuan industri sehingga manfaatnya tidak hanya terlihat dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari meningkatnya kapabilitas Indonesia dalam jangka panjang. (udn)
Load more