Ritual Teing Hang di Manggarai, Rutin Dilakukan Saat Penutupan Tahun
- Tim tvOne/Jo Kenaru
Manggarai, NTT - Salah satu karya spiritual yang berhubungan dengan tema tahun baru adalah ritus Teing Hang yang dilakoni masyarakat Manggarai Raya Provinsi Nusa Tenggara Timur setiap tanggl 31 Desember.
Tradisi Teing Hang berarti memberi makan roh ayah ibu atau anggota keluarga dari sebuah klan. Pada malam jelang tutup tahun setiap rumah tangga orang Manggarai, Manggarai Timur dan Manggarai Barat masing-masing menyembelih ayam jantan putih.
Ritual adat Teing Hang, juga memberi makna ucapan syukur kepada sang pencipta dan leluhur, memohon ampun atas segala kesalahan sekaligus memohon pertolongan agar kehidupan di tahun baru bisa lebih baik dari tahun sebelumnya.
Ritus Teing Hang diawali dengan mantra memanggil roh orang-orang yang akan dikasih makan. Media utama yang dipakai antara lain cepa atau sirih pinang serta tuak (arak).
Beranjak ke acara inti yakni penyembelihan seekor ayam putih yang telah didoakan dalam bahasa adat bermakna ucapan syukur serta pernyataan menolak bala.
Bagian toto urat (memperlihatkan pratanda yang ditunjukkan hati dan usus ayam yang disembelih) merupakan bagian pamungkas ritus ini yang diteruskan dengan helang atau menghidangkan daging kurban di atas tikar sebagai santapan untuk orang yang sudah meninggal yang disebutkan dalam ritual Teing Hang.
Tradisi melawan lupa
Kanisius Theobaldus Deki, penulis yang sering mengangkat tema budaya Manggarai mengatakan, kekuatan ritual Teing Hang menitikberatkan pada sebuah keyakinan bahwa leluhur atau keluarga yang sudah meninggal adalah penyambung pesan orang hidup dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pria yang pernah belajar Teologia di Israel ini berkata, ritual teing hang empo pada acara tutup tahun di Manggarai adalah kenyataan tak terbantahkan tentang keterjalinan sejarah hidup manusia dan teori melawan lupa.
"Apakah yang terjadi jika ada amnesia kronis melanda manusia?. Semua kebaikan akan terhapus tanpa cerita. Bahkan kenangan akan kehilangan dayanya di hadapan kekuasaan peristiwa hidup yang terus berlanjut. Lebih lebih celaka lagi, orang tidak bisa belajar dari sejarah. Kesadaran akan kebaikan masa lalu menyebabkan muncul kerinduan untuk menulis sejarah sebuah upaya mencatat kembali apa yang terjadi di waktu lampau," sebut Kanisius dihubungi Minggu (1/1/2023).
Dijelaskannya, roh leluhur, ende agu ema (mama dan bapak) adalah bukti penciptaan yang berkesinambungan.
Dosen lulusan S2 Filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero ini menjelaskan, adanya manusia kini disebabkan adanya manusia terdahulu. Kata dia, sesuatu tidak mungkin ada dari kenihilan (creatio ex nihilo).
"Menyaksikan kekhusyukan acara dan sikap bathin pelaku yang meyakini upacara teing hang empo sebagai bagian esensial dari ritual tahunan jelang tutup tahun melahirkan pertanyaan mengapa orang Manggarai masih terikat pada tradisi semacam itu?," Ungkap Deki.
Lebih lanjut dia menerangkan, ritual Teing Hang pada galibnya adalah sebuah mimesis akan mengalirnya waktu dan peristiwa-peristiwa. Kebersamaan dalam situasi yang bahagia, kisah tentang keberhasilan dan kesuksesan bahkan kegagalan yang lalu memberi pesan kuat untuk lebih berusaha adalah tirisan refleksi pengikat memori.
"Ada benang merah yang tak dapat disangkal pada persambungan kehidupan manusia yang akrab disebut regenerasi. Alih generasi ini muncul dalam wajah yang jamak: nilai-nilai persaudaraan, semangat kekeluargaan, persatuan, kebersamaan, kasih, saling memaafkan, pengalaman, pengetahuan, dan keyakinan. Di sini ritual teing hang ingin menegaskan bahwa eksistensi kita sebagai manusia tak pernah seutuhnya menjadi milik kita. Eksistensi itu terus mengalir pada nadi pribadi dan waktu yang terus berputar menghasilkan kisahan-kisahan baru atau new story telling," tekan Kanisius Theobaldus Deki.
Kolomnis di sejumlah media itu berkata, empo (leluhur) ataupun roh mama dan bapa (ende-ema) yang telah berpulang sebagai pengingat sanak keluarga yang masih hidup agar tidak boleh lupa bahwa hidup pada prinsipnya tak pernah final.
"Kebaikan tak pernah sempurna. Ia menjadi katarsis yang selalu menggema di sepanjang kehidupan pada saat memoria kita tetap bersujud di hadapan kerapuhan waktu. Waktu yang usang karena dibatasi nama hari, minggu, bulan dan tahun senantiasa diperbarui oleh kenangan akan kebaikan kehidupan para pendahulu. Serentak keyakinan bahwa mereka tetap menjunjung kita dalam doa yang tak kunjung putus di hadapan sang khalik, pemilik kehidupan itu," ulas dia lagi.
Sejarah tanpa cerita kata Deki dikhawatirkan akan berlanjut pada amnesia kronis di mana orang tak bisa mencatatkan kenangan sedangkan peristiwa hidup terus berlanjut. (jku/mii)
Load more