GULIR UNTUK LIHAT KONTEN
News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

Martabat Palestina

Operasi bersandi Badai Al Aqsa dianggap berjalan sukses. Dunia tersentak, sadar, ternyata ada bangsa yang masih menggeliat memperjuangkan terus menerus kemerdekaannya.
Senin, 16 Oktober 2023 - 10:14 WIB
Kolase - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa mewawancara salah satu pendiri Hamas, Khaled Mashal (insert kanan bawah). Background Demo antri Israel.
Sumber :
  • tim tvonenews.com

Catatan Ecep S. Yasa/Wapemred tvOnenews.com.

PADA awal dan akhirnya semua yang dilakukan Mohammed Deif adalah ihwal martabat. Sepanjang sejarah hidupnya, lelaki berjuluk ‘kucing bernyawa sembilan ini’ mengalami martabat yang diinjak dan harga diri yang direnggut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan kejutan yang ia gagas pada Sabtu (7/10) lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-50 perang Israel melawan Arab, ketika warga Yahudi tengah berleha-leha menikmati libur sabatikal adalah usaha membangkitkan kembali martabat warga Palestina

Dengan serentak, diawali serangan pesawat tanpa awak (drone) menyerang pos pengawasan, disusul ribuan roket Al Qassam menghujani wilayah Israel yang tak mampu dihalau sistem pertahanan udara Iron Dome, disusul serangan yang lebih mematikan: infiltrasi fisik. 

(Roket ditembakkan ke arah Israel dari Jalur Gaza, Minggu, 8 Oktober 2023. Sumber: AP Photo)

Ketika panik dengan serangan ribuan roket, pejuang Hamas menyerang Israel dari berbagai arah. Hamas menyerang sasaran militer Israel, membunuh dan menangkap tentara, serta merampas peralatan militer.

Yang paling meruntuhkan adalah penggunaan perangkat audio visual untuk merekam dan menyebarkan serangan di perbatasan Israel yang ternyata sangat meruntuhkan psikologis lawan. Menggunakan gadget merek tertentu dari China yang kerap dilecehkan secara teknologi, ternyata justru efektif mengelabui radar, sensor dan penyadapan Israel. 

Operasi bersandi Badai Al Aqsa dianggap berjalan sukses. Dunia tersentak, sadar, ternyata ada bangsa yang masih menggeliat memperjuangkan terus menerus kemerdekaannya. Ada sebuah negeri yang harga dirinya senantiasa diringkus dan terus berusaha bangkit. 

"Dengan jiwa dan darah, kami menebusmu, Deif," kata warga di sambil bernyanyi saat merayakan suksesnya serangan Hamas sebelum Israel membabi buta menyerang balik wilayah itu.

Mohammed Deif!... Mohammad Deif!... Nama itu  diserukan pemuda pemuda dengan wajah penuh debu di jalanan Gaza sambil mengibarkan bendera tiga warna: hitam, putih dan hijau karena  telah memberi mereka (meski sesaat) apa maknanya memiliki harga diri dan martabat dalam hidup.

(Warga Palestina di kamp pengungsi Palestina al-Bass, di kota pelabuhan selatan Tyre, Lebanon, merayakan serangan yang dilakukan kelompok militan Hamas terhadap Israel. Sumber: AP Photo)

Deif memberi harga diri bagi bangsa yang tersia-sia justru karena mengalami bagaimana rasanya ditampik dan disingkirkan. Lahir di kamp pengungsi Khan Yunnis di Jalur Gaza pada 1965, Deif memiliki nama lahir Mohammed Diab Ibrahim al-Masri.

Sejak lahir ia hampir tak pernah merasakan menetap, tinggal, berdiam pada sebuah rumah. Ia tak pernah memiliki rumah, seperti ayam, burung atau kucing di jalanan Gaza yang diberi tempat tinggal. Ia dijuluki ‘Deif’; bermakna ‘tamu’ (arab) karena selalu mengembara tak tentu rimba, berpindah pindah. Sebagai ‘tamu’ ia hanya datang sejenak atau sesaat setiap berada di sebuah wilayah, lebih banyak menghabiskan hari harinya di lorong lorong bawah tanah.  

Sejak kecil ia mengalami moral yang dipermainkan. “Cintailah orang asing itu: kalian juga orang asing tatkala hidup di Tanah Mesir”.  Itu sabda Tuhan dalam Taurat, kitab suci umat Yahudi. Tapi, ia melihat pemukim Yahudi yang semakin banyak jumlahnya--- umumnya datang dari Brooklyn, New York ---selalu menghardik dirinya dengan kebencian.

Pada 1994 ia melihat Baruch Goldstein pada Jumat pukul 5:20 pagi saat umat Muslim baru saja selesai menegakkan shalat subuh, tiba tiba masuk ke tempat ibadah  sambil menenteng senjata dan memberondong orang yang tengah sujud di Masjid Ibrahim, Hebron, Palestina. Puluhan jamaah tersungkur. 

“Mereka itu patogen yang menjangkiti kita,” ujar Goldstein tak menyesal atas perbuatannya. Moralitas agama ia jadikan sebagai alat untuk membenci.  

Satu hari setelah serangan Badai Al Aqsa, ia menulis surat yang dimuat Middle East Monitor menyebut serangannya bagian dari mengutuk pemukim-pemukim baru yang sikapnya seperti Goldstein. 

“Pendudukan Israel melarang warga Palestina mengakses Masjid Al-Aqsa dan mengizinkan pemukim pemukim baru kolonial Israel mengotori situs suci umat Islam dan melakukan penggerebekan setiap hari ke kompleks suci umat Islam,” tulis Deif dengan lancar.

(Arsip Foto - Masjid Al-Aqsa. Sumber: ANTARA)

Deif beruntung saat muda masuk Hamas. Organisasi perlawanan modern yang diinisiasi aktivis Ikhwanul Muslimin pada 1970-an itu terus melahirkan pejuang pejuang baru dari kancah pertempuran.

Pada 2010 saya pernah memasuki markas tertinggi mereka di Gaza. Dengan mata tertutup, para pengawal bersenjata dan orang orang sipil membawa saya dengan kendaraan ke sebuah tempat. Selanjutnya saya memasuki lorong lorong bawah tanah (juga dengan mata tertutup) yang agaknya dijadikan benteng pertahanan sekaligus tempat menggembleng pejuang-pejuang terbaik Hamas.

Setelah beberapa saat barulah mata saya dibuka. Dalam keremangan saya melihat bendera pembebasan Palestina terpasang pada sebuah dinding batu di ruangan seluas 5 meter x 5 meter. Ada peta wilayah terpancak di satu sisi ruang. Beberapa pengawal bersenjata menjaga pintu masuk ke ruang tersebut. Sesosok pria jangkung dengan mata teduh lalu menyapa saya. 

Ia kemudian saya kenali sebagai Khaled Mashal, orang yang ikut mendirikan organisasi berwibawa ini pada 1987.

Sejujurnya, saya tidak terlalu ingat percakapan kami soal pandangan politiknya saat itu dalam membedah konflik Palestina-Israel. Yang terkenang hingga kini adalah gaya bicaranya yang runtut, teratur, terasa menghormati lawan bicara, termasuk saat terlihat takzim ketika mendengar dan menjawab.

(Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa (kanan) mewawancara salah satu pendiri Hamas Khaled Mashal (kiri). Sumber: Dok Pribadi)

Dengan pengalaman ini, saya jadi paham bagaimana Mohammed Deif punya kecanggihan pengetahuan perang dan diplomasi. Ia barangkali adalah Che Guevara bagi bangsa Palestina. Selama tahun 2000-an, dia selamat dari empat upaya pembunuhan oleh Israel walau harus menderita luka-luka parah --termasuk kehilangan salah satu mata dan beberapa bagian tubuhnya.

Upaya pembunuhan kelima atas Deif terjadi saat operasi militer Israel di Gaza pada 2014. Saat itu Israel melancarkan serangan udara atas sebuah rumah di kawasan Sheikh Radwan di Gaza, yang menewaskan istri Deif, Widad, dan anaknya yang masih bayi, bernama Ali. Israel mengira serangan itu turut menewaskan Deif. Tak lama kemudian, Hamas menyatakan bahwa Deif "masih hidup dan memimpin operasi militer" atas Israel.

Ia membangun roket Al qassam, salah satu harga diri Hamas yang dilecehkan selama bertahun tahun sebagai “teror” yang tak efektif. Roket yang baru dimiliki pejuang Hamas pada 2001 ini memang dibangun perlahan lahan. Ia hanya rakitan dari besi besi tua berpelontar yang diberi bahan peledak. Daya jangkaunya rendah, bahkan kerap jatuh di wilayah Palestina sendiri.

Siapapun yang pernah dinista dan diabaikan pasti mafhum apa yang bergejolak di dada Deif ketika melihat warga Palestina hidup dalam tahanan terbesar di dunia.  

Pada 2002 Perdana Menteri  Ariel Sharon membangun dinding dinding pembatas dari beton setinggi 10 meter atau dua kali lipat lebih tingginya dari tembok Berlin. Israel beralasan tembok hanya untuk menandai batas batas wilayahnya, namun kenyataannya demarkasi itu meruyak sepanjang 650 kilometer, merentang melintasi Tepi Barat Sungai Yordan dan Yerusalem Timur. Tak cukup, kawat berduri, radar, kamera pengintai, juga parit di gali di kedua sisi. 

Pagar seolah membawa pesan, ada pihak yang di dalam, “ditahan”, ada yang di luar, bebas berkeliaran. Bagi anak anak Palestina tembok menghapus identitas mereka. Seolah jadi anak Palestina adalah beban, memanggul KTP Palestina adalah kesengsaraan hidup. 

Deif terpukul melihat warga kota el Azariyah, misalnya setiap pagi perlu alat pengangkut barang untuk menyeberangkan anak-anak mereka melintasi dinding untuk pergi ke sekolah.

“Mereka terus melanggar batas merah, tidak peduli pada apapun,” tulis Deif dengan getir. “Pemimpin dunia tak ada yang bertindak,” tambah Deif.

(Warga Palestina mengibarkan bendera nasional mereka dan merayakannya dengan tank Israel yang hancur di pagar Jalur Gaza di timur Khan Younis selatan Sabtu, 7 Oktober 2023. Sumber: AP Photo)

Ia malah menyaksikan pengkhianatan satu persatu negeri serumpun. Secara provokatif Presiden Amerika Donald Trump menginisiasi empat negara Arab (Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan dan Maroko) untuk menormalisasi hubungan dengan Israel. Artinya sudah enam negara Arab berdamai dengan Israel setelah Mesir (1979) dan Yordania (1994).

Kini, juga lewat kebijakan Abang Sam, Arab Saudi memasuki tahap akhir negosiasi normalisasi dengan Israel. Sebelum resmi diketok pun, dengan mata telanjang publik melihat menteri-menteri Israel keluar masuk Saudi secara terang terangan.

Dengan serangan Badai Al Aqsa, Mohammed Deif berhasil memberi martabat bagi warga Palestina. Ia mengenalkan lagi makna harga diri bagi seorang manusia. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Seperti kata penyair Palestina, Mahmoud Darwish, “Israel adalah kubur bagi kebesaran yahudi.”

(Ecep Suwardaniyasa Muslimin)

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Mahfud MD Minta Nusron Wahid Diperiksa, KPK Beri Tanggapan Begini soal Kasus OTT ATR/BPN

Mahfud MD Minta Nusron Wahid Diperiksa, KPK Beri Tanggapan Begini soal Kasus OTT ATR/BPN

KPK tanggapi pernyataan Mahfud MD soal peluang pemeriksaan Nusron Wahid dalam kasus dugaan korupsi ATR/BPN. Penyidik kini masih melengkapi bukti dan mendalami perkara.
DVI Polda Jatim Terima 76 Data Ante Mortem dan 42 Sampel DNA Keluarga Korban KM Virgo Transport 8

DVI Polda Jatim Terima 76 Data Ante Mortem dan 42 Sampel DNA Keluarga Korban KM Virgo Transport 8

Posko DVI Tanjung Perak masih dibuka bagi keluarga korban yang membutuhkan layanan pengumpulan data Ante Mortem, pengambilan sampel DNA, maupun informasi pendukung lainnya.
4 Shio Dapat Sinyal Manis, Cinta Berubah 20 September 2026

4 Shio Dapat Sinyal Manis, Cinta Berubah 20 September 2026

Ramalan cinta shio 20 September 2026 membawa kejutan asmara. Empat shio mendapat sinyal manis, hubungan makin dekat dan hati lebih berbunga.
Opening Ceremony Asian Games 2026: Dibuka dengan Meriah, Tim Indonesia Pamerkan Busana Bernuansa Budaya Nusantara

Opening Ceremony Asian Games 2026: Dibuka dengan Meriah, Tim Indonesia Pamerkan Busana Bernuansa Budaya Nusantara

Asian Games 2026 akhirnya secara resmi dibuka lewat gelaran Opening Ceremony yang berlangsung dengan sangat meriah pada hari Sabtu 19 September sore tadi WIB..
Permintaan Khusus Erick Thohir ke 23 Pemain Timnas Indonesia Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

Permintaan Khusus Erick Thohir ke 23 Pemain Timnas Indonesia Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

Ketua Umum PSSI Erick Thohir memberikan suntikan semangat membara kepada 23 pemain Timnas Indonesia yang terpilih masuk dalam skuad final untuk FIFA ASEAN Cup -
Apa Itu Vape Etomidate yang Dikaitkan dengan Kasus Jule? Ini Fungsi Obat Bius dan Risikonya

Apa Itu Vape Etomidate yang Dikaitkan dengan Kasus Jule? Ini Fungsi Obat Bius dan Risikonya

Apa itu vape etomidate yang dikaitkan dengan kasus Jule? Kenali fungsi obat bius dan risiko berbahaya apabila disalahgunakan.

Trending

Pelatih Hyundai Hillstate Bicara Jujur soal Megawati Hangestri dan Tantangan Musim Baru

Pelatih Hyundai Hillstate Bicara Jujur soal Megawati Hangestri dan Tantangan Musim Baru

Hyundai Hillstate bersiap menghadapi V-League 2026-2027 dengan sejumlah perubahan besar, termasuk kehadiran Megawati Hangestri. Namun, pelatih Kang Sung-hyung.
Bak Petir di Siang Bolong, Calon Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Malah Dipanggil Timnas Jerman

Bak Petir di Siang Bolong, Calon Pemain Naturalisasi Timnas Indonesia Malah Dipanggil Timnas Jerman

Calon pemain naturalisasi Timnas Indonesia mendapat panggilan mengejutkan ke Jerman U-21, membuka babak baru dalam perebutan jasanya di level internasional.
Selamat Berbahagia! 5 Zodiak Paling Beruntung 20 September 2026: Ada yang Ketiban Rezeki Tak Terduga

Selamat Berbahagia! 5 Zodiak Paling Beruntung 20 September 2026: Ada yang Ketiban Rezeki Tak Terduga

Berikut 5 zodiak yang diprediksi paling beruntung pada 20 September 2026: Ada yang ketiban rezeki tak terduga. Zodiakmu termasuk?
Kondisi Terbaru Pasutri yang Sering Siram Air Kotor saat Warga Mau ke Masjid untuk Shalat, Berujung Digeruduk Warga

Kondisi Terbaru Pasutri yang Sering Siram Air Kotor saat Warga Mau ke Masjid untuk Shalat, Berujung Digeruduk Warga

Pasangan suami istri (pasutri) yang menyiram air kotor ke warga yang menuju masjid untuk shalat Jumat di Kutabaru, Pasar Kemis, Tangerang digeruduk oleh warga.
Lamine Yamal Blak-blakan soal Rasisme: Terjadi Setiap Hari Tanpa Disadari

Lamine Yamal Blak-blakan soal Rasisme: Terjadi Setiap Hari Tanpa Disadari

Bintang Barcelona, Lamine Yamal, mengungkap pengalaman pahitnya menghadapi rasisme yang disebut telah terjadi ribuan kali. Ia menyoroti komentar dan tatapan.
Artis Julia Prastini Ditangkap Polisi Terkait Kasus Narkoba! Jule Diciduk di Apartemen Jaksel

Artis Julia Prastini Ditangkap Polisi Terkait Kasus Narkoba! Jule Diciduk di Apartemen Jaksel

Artis Julia Prastini ditangkap oleh Satresnarkoba Polres Bandara Soekarno-Hatta terkait kasus narkoba. Penangkapan Jule diduga berkaitan dengan kasus narkoba etomidate.
Asian Games 2026: Indonesia Berhasil Amankan Tiket Babak Semifinal pada Dua Cabor Ini Sebelum Opening Ceremony

Asian Games 2026: Indonesia Berhasil Amankan Tiket Babak Semifinal pada Dua Cabor Ini Sebelum Opening Ceremony

Indonesia mengamankan dua tiket semifinal Asian Games 2026 Aichi-Nagoya melalui cabang olahraga teqball dan soft tennis beregu putra.
Selengkapnya

Viral