News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

New York! New York!

Inilah New York, big apple yang diperebutkan oleh jutaan imigran di seluruh dunia. Di sini kita harus terus merasa terasing. “Kita harus memiliki polisi sendiri,” ujar salah satu puisi tentang New York.
Senin, 6 November 2023 - 18:05 WIB
Kolase Foto - Wapemred tvonenews.com Ecep S Yasa, background peserta New York Marathon.
Sumber :
  • tim tvonenews

UNTUK ketiga kalinya saya menginjakkan kaki di kota yang kerap disebut dalam banyak karya fiksi dunia: New York. Saya bersandar pada bangku di Central Park, taman ikonik yang banyak bagiannya terasa surealis: ada hutan di tengah sebuah kota yang penuh dengan gedung pencakar langit.

Saya memandangi pohon pohon besar yang entah apa namanya. Seketika teringat kalimat pembuka novel Saman karya Ayu Utami. Laila, tokoh perempuan dalam novel itu menulis taman kota seluas 800 hektar itu saat menunggu kekasihnya Sihar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium, juga pohon pohon yang tak pernah kita tahu namanya atau umurnya. Bukankah tak setiap keindahan perlu dinamai?”

Seperti Laila saya adalah turis di New York yang menikmati taman kota yang dibangun Frederick Law Olmsted dan Calvert Vaux itu. Sejujurnya, taman ini salah satu alasan saya ikut lomba lari jarak jauh New York Marathon pada pekan pertama November 2023 ini.

Di sekeliling saya memandang rumput yang dipenuhi pasangan yang tengah bermesraan. Deretan pohon maple dengan warna daun yang tak hanya hijau, tapi juga, merah, kuning, jingga. Kota menjadi kaya warna, tak hanya monokrom saja. Sebagian daun bertebaran di tanah. Mengeluarkan bunyi kres…kres…kres yang saya suka saat terinjak hak sepatuku saat berlari.

Inilah New York, big apple yang diperebutkan oleh jutaan imigran di seluruh dunia. Di sini kita harus terus merasa terasing. “Kita harus memiliki polisi sendiri,” ujar salah satu puisi tentang New York. Kita memang dengan gampang bisa menemukan tunawisma membuka tenda di jalanan Queens atau Manhattan. Tapi ini tetap kota yang diimpikan seluruh warga dunia.

Start spreading the news, i'm leaving today

I want to be a part of it - New York, New York

These vagabond shoes, are longing to stray

Right through the very heart of it 

New York, New York

Semua orang rela tersesat asalkan menjadi bagian kota itu. Suara Frank Sinatra yang tebal pas menyanyikan lagu pengiring film New York! New York! Karya sineas Martin Scorsese tentang impian imigran menaklukan gemerlap kota yang tak pernah tidur itu. 

Ada 20 juta warga yang bertarung setiap hari, dari aneka bangsa dan warna kulit. Seorang warganya. Leah Ross-Kugler, menulis apa yang ia sukai dari New York: “Di pagi hari, saya mengucapkan 'shukran' kepada petugas koran saya, membeli croissant dari toko roti Yahudi Belgia, berjalan ke kereta bawah tanah dan menyapa beberapa tetangga yang baru saja datang. pindah dari Texas ke lingkungan saya di Brooklyn, pergi ke peron kereta bawah tanah di mana seorang pelajar Tiongkok berusia 11 tahun yang berbakat bermain keyboard sementara saya menunggu kereta.”

Kota bangsa bangsa yang selalu gaduh dan bergegas. Saya akan selalu mengenangnya dengan indah. jembatan jembatan yang pernah saya lihat dulu pada selembar kartu pos, yang di bawahnya mengalir sungai sungai jernih.

Berlari di bawah fasad fasad jembatan itu entah kenapa menimbulkan energi untuk bertahan dari rasa sakit berlari 42 kilometer. Gedung gedung bertingkat yang seperti dibangun sore kemarin karena bentuknya yang modern. Saking tingginya kota menjadi selalu teduh dan suram, seperti wajah kota dalam film Gotham City.

Kegaduhannya tak tergantikan, bahkan meski tak ada 50 ribuan peserta New York Marathon, kota ini tetap sibuk dan bising. Sirine mobil polisi meraung raung bersaing dengan derap kaki kaki pejalan kaki dan pengamen jalanan di simpang Times Square Garden, salah satu perlintasan paling sibuk di dunia.

Aku melihat lagi wajah wajah pelari pelari di jalanan New York yang sebagian tampak acuh tak acuh, tapi sebenarnya diikat nilai nilai bersama ini. Aku pernah terpaku membaca berita bagaimana warga kota antre puluhan kilometer hanya untuk memberikan darah ketika kota ini luluh lantak oleh serangan teror Black September yang meluluhlantakan menara kembar World Trade Center (WTC).

Salah satu ciri warga kota adalah mereka memiliki solidaritas dan keyakinan politik yang tinggi. Dan nilai nilai liberalisme, emansipasi, keadilan juga diperjuangkan di arena marathon.

Pada 1970-an, misalnya enam orang perempuan unjuk rasa di titik start New York Marathon menentang perlakuan berbeda di ajang marathon oleh Persatuan Atletik Amatir Amerika Serikat. Saat itu pelari perempuan berlari lebih awal atau lebih belakang dari pelari laki-laki.

Keenam perempuan itu mengacung acungkan poster betapa dungunya memperlakukan perempuan dengan cara membiarkannya memulai lomba secara berbeda. Aksi duduk di titik start sebelum pistol menyalak ternyata menarik perhatian media massa dan penonton.

Apalagi,  saat itu perjuangan gerakan persamaan hak perempuan memang sedang mengalami musim semi di New York. Perempuan perempuan pekerja saling mengorganisasi diri aktif melakukan unjuk rasa di ruang publik. Beberapa bulan sebelumnya, Presiden Richard Nixon menandatangani undang-undang yang melarang diskriminasi jenis kelamin di sekolah dan membuka jalan bagi lebih banyak peluang bagi perempuan dalam olahraga atletik sekolah.

Tuntutan enam pelari lalu disetujui penyelenggara New York Marathon: aturan perbedaan waktu start pelari perempuan dan laki laki pun dihilangkan. Kini kita tahu, dua tahun setelah demonstrasi tersebut Kathrine Switzer menjuarai New York Marathon. Demikian nilai nilai New Yorker tak pernah mati. Seorang liberalis sejati adalah seorang pejuang politik kebebasan individu di lapangan apapun, termasuk di lapangan olah raga. 

Saya melihat lagi wajah wajah pelari yang kelelahan dari banyak bangsa dan warna kulit ini. Mereka terbang ribuan kilometer hanya untuk mencecap nilai nilai kebebasan tersebut. Nilai nilai yang telah membuat kota ini terus bisa memperbarui dirinya, jadi kota yang terus menjadi tujuan imigran warga negara manapun.

Saya memilih untuk kembali fokus. Dengan berlari saya kembali menemui diri sendiri, menggumuli lagi pikiran pikiran yang paling dirasa penting, menyisihkan pikiran pikiran yang tak terlampau penting yang sebelumnya mendominasi.

Marathon bagi saya semacam ritual meditatif. Ia seperti ajang seleksi mengeluarkan pikiran, ide, gagasan yang tak relevan untuk hidup saat ini dan di sini, lalu memusatkan pikiran untuk gagasan, ide,pikiran penting lainnya.  Marathon mengajarkan saya mengenali ruang dan waktu yang paling dekat dan utama, yakni diri sendiri.

Saya ingat renungan renungan pelari jarak jauh Haruki Murakami yang juga novelis nominator hadiah Nobel. “Pikiran yang terpikir saat saya berlari seperti awan di langit. Awan dengan segala ukuran berbeda. Mereka datang dan mereka pergi, sementara langit tetap ada, langit yang selalu sama. Awan hanyalah tamu di langit yang berlalu dan lenyap, meninggalkan langit." Saya jadi belajar, mana awan dan mana langit saat berlari marathon.

Demikian lah, race jarak jauh bagi saya adalah ujian mengenali lagi fokus hidup, selain mengelola daya tahan. Tak perlu terburu, menghadapi hidup yang berlarat larat.  Harus jeli membedakan, mana yang bermakna dan mana yang tak bernilai. Kita akan kelelahan, seperti pelari yang tersungkur di pinggir arena ketika  terlalu hirau pada hal hal yang palsu, tapi abai pada yang sejati.

”Kalau kami ingin lari, larilah sejauh satu kilometer. Tapi, kalau kamu ingin hidup yang berbeda, larilah maraton.” Seorang pelari jarak jauh dari Ceko, Emil Zatopek mengingatkan hal itu. Ya, saya belajar hidup dari lintasan ini di Central Park. Sambil berkalung medali finisher full marathon New York Marathon 2023, satu dari enam  lomba marathon terkemuka di dunia, dalam dekapan hawa dingin yang tak bisa dihalau meski dengan mantel tebal ini,  saya selalu bersyukur menemukan makna terdalam dari kehidupan lewat gelanggang marathon. (Ecep Suwardaniyasa Muslimin)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Fabio Capello Murka! Sebut Kegagalan Italia Aib Nasional, Desak Pimpinan FIGC Mundur

Fabio Capello Murka! Sebut Kegagalan Italia Aib Nasional, Desak Pimpinan FIGC Mundur

Legenda sepak bola Italia, Fabio Capello, melontarkan kritik keras usai Timnas Italia kembali gagal lolos ke Piala Dunia.
Menko Polkam: Pelaku Serangan di Lebanon Harus Dihukum

Menko Polkam: Pelaku Serangan di Lebanon Harus Dihukum

Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago secara tegas meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) transparan dalam melakukan
Dari Kartu Merah ke Sanksi Tambahan! Nasib Maguire di Ujung Tanduk Bersama Manchester United

Dari Kartu Merah ke Sanksi Tambahan! Nasib Maguire di Ujung Tanduk Bersama Manchester United

Bek Manchester United, Harry Maguire, tengah menghadapi masalah serius setelah didakwa oleh The Football Association (FA) terkait perilaku tidak pantas dalam laga kontra Bournemouth.
Forkopi Sodorkan Usulan Terkait DIM Pemerintah RUU Pekoperasian ke Fraksi Partai Demokrat DPR RI

Forkopi Sodorkan Usulan Terkait DIM Pemerintah RUU Pekoperasian ke Fraksi Partai Demokrat DPR RI

Forum Koperasi Indonesia (Forkopi) menyampaikan usulan terhadap Daftar Inventarisasi Masalah (DIM) pemerintah terkait Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkoperasian.
Banjir Pujian saat FIFA Series, Dony Tri Pamungkas Malah Bilang Belum Puas Bela Timnas Indonesia! Ada Apa?

Banjir Pujian saat FIFA Series, Dony Tri Pamungkas Malah Bilang Belum Puas Bela Timnas Indonesia! Ada Apa?

Pemain Timnas Indonesia, Dony Tri Pamungkas, mengaku belum merasa puas dengan penampilannya bersama skuad Garuda di ajang FIFA Series 2026, meski mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.
Ono Surono Berpeluang Kembali Dipanggil KPK Setelah Dilakukan Penggeledahan di Rumahnya

Ono Surono Berpeluang Kembali Dipanggil KPK Setelah Dilakukan Penggeledahan di Rumahnya

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka kemungkinan memanggil kembali Ketua DPD PDIP Jabar, Ono Surono usai penggeledahan di rumahnya.

Trending

Kondisi Terkini SPBE Gas yang Meledak di Bekasi, Korban Dilarikan ke RSUD

Kondisi Terkini SPBE Gas yang Meledak di Bekasi, Korban Dilarikan ke RSUD

Seperti diketahui, warga Bekasi dikejutkan dengan insiden ledakan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) gas di awasan Cimuning Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi
Tak Hanya Apresiasi, DPR Soroti Kinerja MIND ID, Tekankan Hilirisasi Mineral

Tak Hanya Apresiasi, DPR Soroti Kinerja MIND ID, Tekankan Hilirisasi Mineral

Pimpinan Komisi VI DPR RI, Nurdin Halid, memberikan apresiasi atas kinerja korporasi sejumlah entitas tambang yang tergabung dalam holding MIND ID sepanjang
Soal Kasus di PN Depok, KPK Periksa Saksi Untuk Dalami Alur Perintah Suap

Soal Kasus di PN Depok, KPK Periksa Saksi Untuk Dalami Alur Perintah Suap

Komisi Pemberantasan Korupsi memeriksa tiga saksi terkait kasus suap di Pengadilan Negeri (PN) Depok yang menyeret I Wayan Eka Mariarta selaku Ketua PN Depok
Banjir Pujian saat FIFA Series, Dony Tri Pamungkas Malah Bilang Belum Puas Bela Timnas Indonesia! Ada Apa?

Banjir Pujian saat FIFA Series, Dony Tri Pamungkas Malah Bilang Belum Puas Bela Timnas Indonesia! Ada Apa?

Pemain Timnas Indonesia, Dony Tri Pamungkas, mengaku belum merasa puas dengan penampilannya bersama skuad Garuda di ajang FIFA Series 2026, meski mendapat banyak pujian dari berbagai pihak.
3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pemerintah Pertimbangan Mundur dari BOP

3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pemerintah Pertimbangan Mundur dari BOP

Anggota Komisi I DPR RI TB Hasanuddin meminta pemerintah mempertimbangkan keputusan untuk keluar dari keanggotaan Board of Peace (BOP). Legislator PDIP itu
Pelatih Argentina Lionel Scaloni Turut Geram! Kegagalan Italia Disebut Tak Adil dan Sulit Diterima Dunia

Pelatih Argentina Lionel Scaloni Turut Geram! Kegagalan Italia Disebut Tak Adil dan Sulit Diterima Dunia

Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun terus menuai reaksi dari berbagai pihak. Kali ini, simpati datang dari pelatih Argentina, Lionel Scaloni, yang mengaku sedih melihat nasib Gli Azzurri.
Ono Surono Berpeluang Kembali Dipanggil KPK Setelah Dilakukan Penggeledahan di Rumahnya

Ono Surono Berpeluang Kembali Dipanggil KPK Setelah Dilakukan Penggeledahan di Rumahnya

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuka kemungkinan memanggil kembali Ketua DPD PDIP Jabar, Ono Surono usai penggeledahan di rumahnya.
Selengkapnya

Viral