Nusantara dan Perubahan Makna Dari Masa ke Masa
- ANTARA
Selanjutnya, saat Majapahit dihadapkan pada era keruntuhan, istilah Nusantara pun kehilangan gemanya dan seolah terlupakan oleh masyarakat.
Namun ketika memasuki abad ke-20, Ki Hajar Dewantara kembali memperkenalkan Nusantara. Akan tetapi, bukan merupakan Nusantara yang merujuk pada pulau terluar untuk dikuasai, melainkan sebagai alternatif penyebutan Hindia Belanda hingga sekarang cenderung digunakan sebagai padanan kata Indonesia, negara yang terdiri atas pulau-pulau.
Dari sejarah itu, dapat dipahami bahwa beberapa perubahan makna telah terjadi dari waktu ke waktu, mulai dari pulau-pulau terluar yang hendak ditaklukkan hingga sebuah kepulauan yang telah dipersatukan.
Nusantara bebas dari unsur etnis tertentu
Kini, Nusantara kembali menjadi perbincangan hangat di antara masyarakat sejak dipilih oleh pemerintah menjadi nama ibu kota negara yang baru.
Beragam opini mulai bermunculan menanggapi usulan nama tersebut. Untuk itu, wawasan dalam mengenal istilah Nusantara secara lebih mendalam menjadi penting dimiliki guna mencegah timbulnya polemik di tengah masyarakat Indonesia, terlebih terkait pandangan yang mengarahkan Nusantara mewakili etnis tertentu.
Meskipun istilah Nusantara akrab diketahui sebagai cara pandang Jawa melalui kekuasaan kerajaan Majapahit, nyatanya asal usul bahasa yang dipergunakan dalam pandangan Rudy Wiratama tidak merujuk pada unsur etnis tertentu.
Menurutnya, Nusantara berasal dari bahasa Kawi dan Sansekerta yang dahulu umum digunakan oleh masyarakat. Terutama bahasa Kawi, bahasa itu digunakan di wilayah Melayu, Jawa, Bali, bahkan Vietnam serta Malaysia.
"Kata 'nusa' itu dari bahasa Kawi, ‘antara’ itu dari bahasa Sansekerta. Kedua bahasa ini memang berkaitan erat. Pada dasarnya, kalau kita berangkat dari sejarah bahasa Kawi itu di Melayu, Jawa, Bali, bahkan di Vietnam dan Malaysia itu ada juga bahasa Kawi yang digunakan untuk membedakan dengan bahasa sehari-hari. Seperti sekarang, ada bahasa Indonesia berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia) dan ada bahasa sehari-hari," jelas Rudy.
Dengan demikian, kata dia, Nusantara yang dikatakan mengarah pada etnis tertentu merupakan pandangan yang kurang tepat.
Berdasarkan jalan panjang yang telah dilalui istilah Nusantara untuk hidup di tengah masyarakat itu, Rudy Wiratama memandang sudah sepatutnya kata tersebut tidak dipahami oleh masyarakat secara sempit.
Load more