News Bola Daerah Sulawesi Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali

PHK Massal di Media Massa dan Lahirnya Angkatan Displaced Journalist

Suatu pagi di Jakarta, seorang jurnalis senior duduk di halte dengan map cokelat berisi surat PHK. Ia baru saja keluar dari kantor berita tempatnya bekerja selama dua dekade. Di dalam map itu, ada nama besar medianya. Ada sisa gaji. Tapi yang lebih berat adalah lembar tak tertulis: kehilangan makna.
Minggu, 4 Mei 2025 - 16:28 WIB
Denny JA
Sumber :
  • IST

Ketika Pena Tak Lagi Membuka Pintu Rezeki

Oleh: Denny JA (penulis dan pendiri Lingkaran SUrvei Indonesia)

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA


Suatu pagi di Jakarta, seorang jurnalis senior duduk di halte dengan map cokelat berisi surat PHK. 

Ia baru saja keluar dari kantor berita tempatnya bekerja selama dua dekade. Di dalam map itu, ada nama besar medianya. Ada sisa gaji. Tapi yang lebih berat adalah lembar tak tertulis: kehilangan makna.

Ia bukan satu-satunya.

Apa arti PHK massal terhadap lebih dari 1.200 wartawan setahun ini—di media online, cetak, dan televisi? Dari Kompas hingga MNC Grup, dari Republika hingga Liputan 6, dari Jawa Pos hingga Tribun Grup, semua dalam satu koor yang sama: merumahkan wartawannya. (1)

Pada musim dingin 2023, sebuah kafe kecil di Brooklyn menjadi tempat pertemuan sunyi. Tiga jurnalis duduk berdekatan, namun tak satu pun sibuk mengetik berita. Dulu, mereka bekerja di media raksasa. Kini, ketiganya telah kehilangan pekerjaan.

Mereka menyebut diri mereka sendiri: Displaced Journalists.

Itu bukan sekadar label. Itu adalah nama dari sebuah zaman baru. Zaman ketika pena kehilangan daya tawar. Ketika keahlian menyusun fakta dan narasi tak lagi menjamin penghasilan. Ketika algoritma menggantikan ruang redaksi.

-000-

Apa Itu Angkatan Displaced Journalists?

Displaced Journalists adalah generasi jurnalis yang kehilangan peran profesionalnya akibat gelombang perubahan struktural dalam industri media.

Mereka bukan jurnalis gagal. Mereka bukan tidak berbakat. Mereka justru generasi terbaik yang terlempar dari sistem karena profesinya tidak lagi “terbeli”.

Mereka menguasai reportase, kode etik, verifikasi. Tapi kini pasar kerja tak lagi menyerapnya. Mesin lebih cepat, lebih murah. Platform lebih kuat, lebih memonopoli.

Angkatan ini bukan satu-dua orang. Ini angkatan global. Dari New York ke Jakarta. Dari Delhi ke Buenos Aires. Ribuan, bahkan ratusan ribu. Dan jumlahnya terus bertambah.

-000-

Di Mana dan Kapan Mereka Lahir?

Angkatan ini lahir secara simbolik pada dekade 2020-an. Tapi kehamilannya telah lama berlangsung.

    •    Pada 2018, BuzzFeed mulai mem-PHK massal jurnalis.

    •    Pada 2020, pandemi mempercepat migrasi ke dunia digital.

    •    Pada 2022–2023, AI generatif seperti ChatGPT dan Bard mulai menulis artikel, ringkasan, dan bahkan analisis opini.

    •    Di Indonesia, sejak 2021, banyak media daring mengecilkan newsroom dan hanya mempertahankan content creator visual.

Tak ada satu tempat yang melahirkannya. Ia lahir serentak di mana-mana. Di ruang-ruang redaksi yang senyap. Di surat keputusan PHK yang dingin. Di notifikasi Slack yang berkata: “We’re letting you go.”

-000-

Mengapa Mereka Terlahir?Karena dunia berubah.

    1.    Teknologi telah menciptakan ghostwriters yang tak bergaji. Mesin kini bisa menulis laporan pasar, berita politik, hingga ringkasan debat.

    2.    Model bisnis media ambruk. Iklan pergi ke Meta dan Google. Pembaca malas membayar paywall.

    3.    Perubahan selera publik. Yang viral lebih penting dari yang benar. Yang cepat lebih penting dari yang cermat.

    4.    Institusi tak lagi sakral. Dulu, redaksi adalah pelindung. Kini, jurnalis bertarung sendirian di tengah badai algoritma.

Jurnalis bukan tak dibutuhkan. Tapi jurnalisme sebagai institusi formal kini tergantikan oleh jurnalisme sebagai fungsi informal.

-000-

Bagaimana Mereka Bertahan?

Sebagian menyerah. Berpindah profesi. Menjadi penulis iklan, content creator, guru, atau bahkan penganggur. Tapi sebagian lainnya—mereka yang keras kepala dan setia pada makna kata—bertransformasi.

    1.    Membuka kanal sendiri: Substack, newsletter, podcast, atau YouTube—mereka membangun kredibilitas personal.

    2.    Menggunakan AI, bukan melawannya: AI menjadi mitra kerja, bukan musuh. Membantu riset, mengatur data, membuat naskah awal.

    3.    Mengubah sudut pandang: Dari jurnalis institusional menjadi narator independen. Dari pengejar berita ke perenung makna.

Mereka sadar: redaksi mungkin mati. Tapi kebenaran, cerita, dan nurani tak bisa dibunuh.

-000-

Apa Makna Angkatan Ini bagi Dunia?

Angkatan Displaced Journalists adalah cermin perubahan zaman. Mereka mewakili nasib profesi lain yang akan menyusul. Guru, dosen, analis, desainer—semua kini hidup di bawah bayang-bayang disrupsi.

Tapi di balik derita itu, tersembunyi peluang.

Dulu, jurnalis tunduk pada agenda pemilik media. Kini, mereka bisa memilih agenda sendiri. Jika bisa membangun komunitas, kepercayaan, dan otoritas, mereka bahkan bisa lebih berpengaruh dari sebelumnya.

Displaced bukan berarti hilang.
Kadang, kita harus dipindahkan agar menemukan rumah baru.

-000-

Epilog: Dari Pena ke Nurani Digital

Seorang jurnalis muda di Bandung pernah berkata setelah ia di-PHK:

“Dulu saya menulis untuk halaman depan. Sekarang saya menulis untuk hati pembaca.”

Mungkin inilah peran baru mereka:
Bukan sekadar pencatat peristiwa, tapi penyala cahaya dalam kabut data.
Bukan lagi bagian dari industri besar, tapi bagian dari kebangkitan suara-suara kecil yang jujur.

Mereka tak lagi punya kantor. Tapi mereka punya suara.
Dan suara itulah yang akan menyambut dunia baru—dengan nurani, bukan sekadar notifikasi.

Di tengah sunyi ruang redaksi yang kosong,
Pena-pena tua menari di atas puing harapan.
Mereka menulis bukan lagi untuk bertahan,
Tapi untuk menyalakan cahaya di lorong zaman.

Angkatan Displaced Journalists bukan akhir sebuah profesi.
Melainkan awal dari cara baru hidup dari kata-kata yang menyala, jika memiliki sumber penghasilan lain.

Di sudut-sudut digital, bayangkan ini bisa dilakukan untuk merajut mimpi kolektif yang baru. Misalnya:

- Seorang jurnalis Jawa Timur mengorganisir decentralized newsroom di blockchain. Setiap  verifikasi fakta dibayar dengan kripto.  

- Di Buenos Aires, mantan editor mendirikan perkumpulan jurnalis lepas, yang menjual analisis kebijakan ke NGO via platform Web3.  

- Di Jakarta, podcast investigasi "Suara Puing,” dibiayai oleh 1.000 pelanggan setia, tanpa iklan, tanpa algoritma.  

Mereka bukan lagi korban. Mereka arsitek ekosistem baru. Ini area  crowdsourced fact-checking bertemu AI audit transparan.  Fungsi informal" jurnalisme menjelma jadi networked truth-telling.  

Tapi di baliknya, pertanyaan menganga:  Akankah kebun kata ini cukup subur  
untuk memberi tempat baru ribuan yang terusir dari pabrik berita?  

Jika tidak, angkatan The Displaced Jurnalists ini bukan hanya kehilangan profesi tapi mengalami krisis identitas.*

Jakarta, 4 Mei 2025

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.


 

Berita Terkait

Komentar

Topik Terkait

Saksikan Juga

Jangan Lewatkan

Dibantai Belanda 1-5, Graham Potter Ambil Hikmah untuk Selamatkan Swedia di Piala Dunia 2026

Dibantai Belanda 1-5, Graham Potter Ambil Hikmah untuk Selamatkan Swedia di Piala Dunia 2026

Pelatih Timnas Swedia, Graham Potter, tidak ingin larut dalam kekecewaan setelah timnya dibantai Belanda pada lanjutan Grup F Piala Dunia 2026. Mantan pelatih Chelsea itu justru mengambil hikmah dari kekalahan tersebut.
Jonathan Tah Bongkar Kunci Kebangkitan Jerman usai Comeback Dramatis atas Pantai Gading hingga Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026

Jonathan Tah Bongkar Kunci Kebangkitan Jerman usai Comeback Dramatis atas Pantai Gading hingga Lolos 32 Besar Piala Dunia 2026

Bek Timnas Jerman, Jonathan Tah, mengungkapkan kunci kemenangan dramatis Jerman atau Pantai Gading. Der Panzer mampu comeback dengan skor 2-1 di matchday kedua Grup E Piala Dunia 2026, Minggu (21/6/2026).
Pihak Sarwendah Yakin Menang soal Gugatan Hak Asuh Anak

Pihak Sarwendah Yakin Menang soal Gugatan Hak Asuh Anak

Pihak Sarwendah yakin menang dalam gugatan hak asuh anak melawan Ruben Onsu dan siap membuktikannya di pengadilan. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Respons Tegas Atalia Praratya soal Kasus Dugaan Penyekapan 3 Tahun di Bandung, Dorong Sikap Peduli terhadap Lingkungan

Respons Tegas Atalia Praratya soal Kasus Dugaan Penyekapan 3 Tahun di Bandung, Dorong Sikap Peduli terhadap Lingkungan

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Atalia Praratya menyoroti kasus dugaan penyekapan di Bandung yang tengah viral di media sosial.
Jadwal MotoGP Ceko 2026, Minggu 21 Juni: Marco Bezzecchi Didiskualifikasi, Marc Marquez Cs Siap Beraksi

Jadwal MotoGP Ceko 2026, Minggu 21 Juni: Marco Bezzecchi Didiskualifikasi, Marc Marquez Cs Siap Beraksi

Jadwal MotoGP Ceko 2026 hari ini Minggu (21/6/2026), di mana Marc Marquez (Ducati Lenovo) dkk siap beraksi. Sedangkan Marco Bezzecchi (Aprilia Racing) dilarang tampil.
Kantor Kecamatan Kalijati Berantakan, KDM Semprot Pegawai saat Sidak: Kantor Pemerintahan Itu Harus Berwibawa

Kantor Kecamatan Kalijati Berantakan, KDM Semprot Pegawai saat Sidak: Kantor Pemerintahan Itu Harus Berwibawa

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melakukan sidak ke Kantor Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang. 

Trending

Mantan Kabareskrim Bocorkan Peluang Bebas Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Mantan Kabareskrim Bocorkan Peluang Bebas Roy Suryo dan Dokter Tifa di Kasus Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Eks Kabareskrim Polri Komjen (Purn.) Susno Duadji bocorkan peluang bebasnya dua tersangka kasus dugaan ijazah palsu mantan Presiden ke-7 Jokowi, yakni Roy Suryo
Pemerintah Diminta Lanjutkan MBG dengan Kepastian Hukum Bagi Mitra SPPG

Pemerintah Diminta Lanjutkan MBG dengan Kepastian Hukum Bagi Mitra SPPG

Sejumlah pihak meminta Pemerintah Indonesia kembali melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat mengalami permasalahan terkait dugaan praktik korupsi.
Harga Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Banyuwangi Dihantui Kebangkrutan

Harga Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Banyuwangi Dihantui Kebangkrutan

Peternak ayam petelur yang tergabung dalam Asosiasi Peternak Unggas Maju Makmur mengaku tengah menghadapi ancaman kebangkrutan usai anjloknya harga telur yang kini berisar harga Rp20.000 per kilogram.
Belanda Langsung Pecahkan Rekor Usai Hancurkan Swedia 5-1, De Oranje Lewati Catatan Tak Terkalahkan Brasil di Piala Dunia

Belanda Langsung Pecahkan Rekor Usai Hancurkan Swedia 5-1, De Oranje Lewati Catatan Tak Terkalahkan Brasil di Piala Dunia

Kemenangan telak 5-1 yang diraih Belanda atas Swedia pada Minggu (21/6/2026) hadirkan rekor baru di ajang Piala Dunia. De Oranje resmi memecahkan rekor Brasil.
Link Live Streaming Piala Dunia 2026: Jerman Vs Pantai Gading

Link Live Streaming Piala Dunia 2026: Jerman Vs Pantai Gading

Baik Jerman maupun Pantai Gading mencatatkan kemenangan pada pertandingan sebelumnya. Keduanya tentu mengejar kemenangan lagi demi memperbesar peluang lolos ke babak 32 besar.
Piala Dunia 2026: Ronald Koeman Masih Anggap Belanda Belum Sempurna Meski Sudah Menang 5-1 atas Swedia

Piala Dunia 2026: Ronald Koeman Masih Anggap Belanda Belum Sempurna Meski Sudah Menang 5-1 atas Swedia

Timnas Belanda tampil menggila saat bantai Swedia 5-1 dalam lanjutan Grup F Piala Dunia 2026. Namun, Ronald Koeman menegaskan De Oranje masih memiliki banyak PR
Dukung Asta Cita Presiden Prabowo No 4, Ratusan Anak Dapat Khitanan Massal Gratis

Dukung Asta Cita Presiden Prabowo No 4, Ratusan Anak Dapat Khitanan Massal Gratis

Sebanyak 200 anak dari 20 desa dan kelurahan di lima kecamatan di wilayah sekitar Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengikuti khitanan massal gratis, pada Sabtu (20/6/2026).
Selengkapnya

Viral