Piala Dunia 2026: Spanyol dan Revolusi Taktik Lapangan Hijau Barcelona
- REUTERS/Hannah Mckay
Mengutip The Guardian, enam hal itu adalah. Pertama, penguasaan bola (possession as control). Filosofi utama Cruyff adalah bahwa penguasaan bola merupakan cara terbaik untuk mengendalikan pertandingan. Prinsip tersebut kemudian menjadi identitas utama Guardiola. Kedua positional play (juego de posicion). Inilah warisan terbesar Cruyff. Cruyff mengadaptasi prinsip Total Football dari Rinus Michels menjadi permainan berbasis ruang (space-oriented football). Pendekatan ini menjadi dasar permainan Barcelona (2008–2012), Bayern Munchen, hingga Manchester City.
Ketiga, membangun serangan dari belakang (build-up play). Cruyff percaya bahwa serangan harus dibangun secara sabar dari belakang. Guardiola memperluas konsep tersebut melalui: kiper sebagai pemain pertama saat membangun serangan; bek tengah melebar; gelandang bertahan turun menerima bola; full-back masuk ke tengah (inverted full-back); pencarian ruang kosong secara bertahap. Akibatnya, build-up Guardiola jauh lebih kompleks dibanding era Cruyff. Keempat pressing setelah kehilangan bola Guardiola mengembangkan konsep tersebut menjadi counter-pressing (gegenpressing ringan) yang terkenal. Kelima, pemanfaatan ruang. Menurut Cruyff, Sepak bola adalah permainan ruang (space), bukan sekadar permainan bola.
Dan keenam fleksibilitas posisi. Cruyff mengembangkan konsep bahwa pemain harus memahami permainan secara menyeluruh. Guardiola memperluasnya menjadi: bek menjadi gelandang; gelandang menjadi bek; false nine; inverted full-back; box midfield; rotasi posisi yang berlangsung sepanjang pertandingan. Dengan demikian struktur tim tetap terjaga meskipun posisi pemain terus berubah.
Selain itu sebagai penambah, ditangan dingin Pep, lapangan hijau dibelah menjadi 20 bagian, dimana masing-masing pemain tidak boleh berada dalam satu petak yang sama. Dan setiap pemain tidak boleh lebih dari 5 detik untuk transisi ke petak lainnya. Plus dengan pressing ketat, dimana pemain lawan dilarang memegang bola lebih dari tiga detik.
Dari sinilah Pep telah bertransformasi dari figur pelatih biasa, menjadi seorang filsuf sepak bola, yang dalam bahasa Kuhn disebut sebagai extraordinary research(er). Pep berhasil mensintesakan mazhab besar taktik strategi sepak bola, dan memadukannya dalam lapangan hijau yang indah.
Dengan filosofi khas Pep, pertahanan terbaik adalah menyerang dan formasi tetap 4-3-3, Barcelona menjadi tim paling brutal. Dengan ball possession, shot on goal, shot on target, accurate passing, pass accuracy, accurate passes, crossing, yang tinggi serta di atas rata-rata tim lainnya. Mencetak tiga gol bahkan lebih pada setiap pertandingan, adalah makanan setiap pekan. Ketika berhadapan dengan Cules (julukan Barcelona), tim lawan hanya memiliki satu pilihan. Bertahan ketat (parkir bis).
Load more