Piala Dunia 2026: Spanyol dan Revolusi Taktik Lapangan Hijau Barcelona
- REUTERS/Hannah Mckay
Nou Camp stadion Barca, juga pada akhirnya menjadi Coloseum bagi para pemain. Dimana tim lawan bertindak sebagai gladiator, yang “dipaksa” bertahan dengan tekanan masif para tentara Roma yang haus akan gol. Dalam ketidaksadarannya, 11 pemain lawan “terpenjara” dalam jaringan disipliner (disciplinary network) ala Foucault. Dari sebuah sistem destruktif yang paling halus. Dimana operan pendek dan crossing, menjadi tebasan pisau yang cepat, lincah dan mematikan. Gambaran itu dalam bahasa ala Foucault-dian (Discipline and Punish-1975) disebut genealogi “lapangan hijau”.
Disini figure seperti Messi adalah subjek yang diproduksi oleh regime of knowledge. Juga sebagai produk apparatus dispositive. Dispositive disini adalah jaringan yang terdiri dari berbagai unsur material dan nonmaterial yang saling berkelindan untuk mengatur dan membentuk (mendisplinkan) perilaku, cara berfikir yang termanifestasikan dalam kekuasaan strategi Tiki-Taka. Ya Messi bertindak sebagai aparat dan algojo peluang. Lawan lengah sepersekian detik, bola sudah menggetarkan jaring gawang.
Tanpa Barcelona era itu, mungkin kita akan melihat sepak bola dengan sedikit perubahan sekarang.
La Furia Roja dan Warisan Cules
Pada saat Spanyol pertama kali World Cup pada 2010 di Afrika Selatan, adalah tahun yang sama saat Barcelona sedang bertransformasi sebagai tim terkuat di dunia. Bahkan saking “over power-nya” Cules saat itu, banyak pengamat dan pers yang mengatakan bahwa “bukan Spanyol yang menjuarai Piala Dunia, tapi Barcelona”. Bukan berlebihan, pasalnya, Barcelona saat itu nyumbang para pemain bintang yang menjadi kunci dan tulang punggung Tim Matador itu.
Mereka yang tergabung dalam skuad La Furia Roja itu adalah Gerard Pique, Carlos Puyol, Andres Iniesta, Xavi, Victor Valdes, Sergio Busquets, David Villa dan Pedro. Plus satu pemain hasil dari pendidikan La Masia asli. Yakni Cesc Fabregas (saat itu bermain di Arsenal dan pindah ke Barca saat piala dunia usai.
Tidak hanyak menyumbang pemain. Nahkoda kapal Vicente Del Bosque juga menerapkan cara bermain ala Tiki-Taka Barcelona. Dengan pengusaan bola, high pressing, dan build up dari bawah, operan pendek, false nine dan overload pemain di ruang tengah. Tidak ada klub yang menggunakan strategi serupa selain Barca saat itu. Tak terbantahkan.
Load more