Pelatih Iran Murka dan Sebut Timnya Diperlakukan Tak Adil selama Piala Dunia 2026: Kami di Sini untuk Sepak Bola, Bukan Politik
- REUTERS/Daniel Cole
Jakarta, tvOnenews.com - Pelatih Timnas Iran, Amir Ghalenoei, kembali menyuarakan keresahannya terkait perlakuan yang diterima negaranya selama Piala Dunia 2026. Kali ini, ia berharap para pelatih dari negara peserta lain turut bersuara mengenai situasi yang dialami Team Melli sepanjang turnamen berlangsung.
Iran menjadi salah satu tim yang paling banyak mendapat sorotan di luar lapangan pada Piala Dunia 2026. Situasi geopolitik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat membuat perjalanan tim berlangsung jauh dari kondisi ideal.
Berbeda dengan mayoritas peserta lain yang dapat bermarkas di negara tuan rumah, Iran justru harus menjalani aktivitas mereka dari Meksiko. Kondisi tersebut membuat persiapan tim menjadi lebih rumit dibandingkan negara-negara lain.
Selama turnamen berlangsung, Iran tidak diizinkan menetap di wilayah Amerika Serikat. Akibatnya, setiap kali memiliki jadwal pertandingan di AS, mereka harus melakukan perjalanan khusus dari markas mereka di Meksiko.
Situasi itu pertama kali terlihat ketika Iran menghadapi Selandia Baru pada laga pembuka. Saat itu, para pemain dan staf baru tiba di Amerika Serikat hanya beberapa jam sebelum pertandingan dimulai.
Setelah pertandingan selesai, Iran juga tidak memiliki keleluasaan untuk tinggal lebih lama. Mereka diminta segera meninggalkan wilayah Amerika Serikat dan kembali ke markas yang berada di Meksiko.
- REUTERS/Matthew Childs
Kondisi tersebut memicu keluhan dari kubu Iran. Mereka kemudian menyampaikan keberatan secara langsung kepada Presiden FIFA, Gianni Infantino.
Pihak FIFA disebut memberikan respons terhadap keluhan tersebut. Menurut laporan yang beredar, Iran dijanjikan fasilitas yang lebih baik untuk pertandingan berikutnya.
Perubahan memang terjadi menjelang laga melawan Belgia. Timnas Iran memperoleh waktu persiapan yang sedikit lebih panjang dibandingkan pertandingan pertama mereka.
Meski demikian, kondisi yang didapat Iran masih jauh dari kata ideal. Mehdi Taremi dan rekan-rekannya hanya diperbolehkan berada di Amerika Serikat sekitar 16 jam sebelum pertandingan berlangsung.
Selain keterbatasan waktu, Iran juga mengeluhkan pengawasan yang sangat ketat selama berada di wilayah Amerika Serikat. Situasi tersebut dinilai memengaruhi kenyamanan tim dalam mempersiapkan diri menghadapi pertandingan.
Karena alasan itulah, Ghalenoei berharap negara-negara peserta lain menunjukkan solidaritas. Ia merasa persoalan yang dialami Iran seharusnya menjadi perhatian seluruh insan sepak bola, bukan hanya timnya sendiri.
Pelatih berusia 63 tahun itu menegaskan bahwa keberatan yang disampaikan Iran tidak berkaitan dengan urusan politik. Menurutnya, fokus utama tim tetap pada sepak bola dan kompetisi yang sedang berlangsung.
"Saya meminta kepada 47 pelatih lainnya, dan tidak satu pun dari mereka yang menjawab saya," ujar Ghalenoei, dikutip dari Yahoo News, Senin (22/6/2026).
"Kami di sini untuk sepak bola, bukan politik, dan kami menegaskan itu lagi. Keluhan kami adalah tentang cara mereka (Amerika Serikat) memperlakukan kami," tambahnya.
Meski belum mendapat respons dari pelatih negara lain, Ghalenoei mengaku memahami situasi yang sedang dihadapi setiap peserta Piala Dunia. Ia menyadari bahwa seluruh tim saat ini tengah fokus mempersiapkan pertandingan masing-masing.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa dirinya akan bersikap berbeda jika melihat negara lain mengalami perlakuan serupa. Ghalenoei menilai semangat solidaritas seharusnya tetap hidup di tengah kompetisi sebesar Piala Dunia.
"Saya belum mendengar apa pun dari pelatih lain, dan saya yakin mereka sibuk mempersiapkan tim mereka sendiri, dan kita tidak pernah mengharapkan mereka untuk bereaksi," kata Ghalenoei.
"Namun, jika saya melihat tim lain diperlakukan seperti kami, saya akan mengatakan sesuatu," tutupnya.
(igp)
Load more