Atlet Adalah Pahlawan Nasional: Alasan Mengapa Timnas Korea Selatan Dihujat usai Tereliminasi dari Piala Dunia 2026
- REUTERS/Eloisa Sanchez
tvOnenews.com - Piala Dunia 2026 menjadi mimpi buruk yang berakhir getir bagi tim nasional sepak bola Korea Selatan.
Langkah Taegeuk Warriors harus terhenti prematur di babak penyisihan grup setelah menelan kekalahan tipis 0-1 dari Afrika Selatan.
Kekalahan ini bukan sekadar hasil di papan skor, melainkan sebuah kegagalan sistemik yang membuat Korea Selatan gagal melaju ke babak 32 besar.
Sontak, hasil ini memicu gelombang kritik pedas dari publik hingga media Negeri Ginseng. Tak hanya itu saja, kekecewaan warga Korea Selatan juga mencapai titik didih, bahkan tak sedikit influencer hingga masyarakat biasa yang terekam kamera terlihat menangis karena kegagalan timnasnya di edisi Piala Dunia kali ini.
Lantas, mengapa reaksi masyarakat Korea Selatan begitu keras, bahkan menjurus pada kebencian terhadap tim nasional mereka sendiri?
Atlet adalah pahlawan nasional
- REUTERS/Paul Childs
Untuk memahami kemarahan publik, kita harus melihat bagaimana masyarakat Korea Selatan memandang sosok atlet, terutama yang punya prestasi serta pengaruh luar biasa di level internasional.
Di Negeri Ginseng, atlet bukanlah sekadar penghibur di lapangan hijau. Mereka dipandang sebagai pahlawan nasional yang mengemban kehormatan negara. Salah satu atlet yang disematkan gelar "pahlawan nasional" ini adalah Song Heung-min yang menjadi salah satu legenda sepak bola dunia di gelaran Piala Dunia 2026.
Son Heung-min juga mendapat gelar tersebut karena karier dan prestasi internasionalnya yang membanggakan, serta pengaruhnya baik di dalam maupun luar negeri.
The Athletic dalam artikelnya berjudul Man in the mask Son ready in time to be Korea’s super hero (2022) menyebut, bahwa Son Heung-min bukan hanya ikon dan pemain sepak bola terbaik, tapi juga seorang pahlawan nasional, yang bahkan bagi beberapa orang lebih populer daripada boy group BTS.
"Orang-orang mengaguminya karena kepribadiannya yang sama (luar biasanya) seperti bakatnya di lapangan," tulis The Athletic, dikutip Rabu (1/7/2026).
- REUTERS/Raquel Cunha
Gelar "pahlawan nasional" sendiri disematkan bukan tanpa sebab. Menurut jurnal Nationalism and the Representation of National Sport Heroes in 1990s South Korea (2021), berdasarkan pencarian kata "국민 영웅" (re: gugmin-yeong-ung) di Naver Library Search, istilah "pahlawan nasional" awalnya digunakan untuk menggambarkan tokoh-tokoh terkenal dari negara lain, seperti Aung San dan Sukarno.
Lalu, istilah tersebut pertama kali digunakan untuk merujuk pada orang Korea (dengan prestasi membanggakan) adalah ketika Kyunghyang Shinmun menyematkannya kepada sosok Park Chan Ho di tahun 1997 lalu. Park Chan Ho sendiri dikenal sebagai salah satu legenda olahraga bisbol dari Korea Selatan.
Jurnal yang sama juga menjelaskan tentang bagaimana sosok Hwang Young-cho, peraih medali emas maraton Olimpiade Musim Panas 1992 dan Asian Games 1994, sebagai sosok "pahlawan nasional".
Tak hanya prestasinya yang membanggakan, tapi juga bagaimana Hwang Young-cho sangat mewakili "orang Korea", baik itu secara fisik maupun sikapnya.
Dengan demikian, ketika seorang atlet atau tim nasional mengenakan seragam kebanggaan, mereka memikul ekspektasi jutaan orang.
Kegagalan di panggung sebesar Piala Dunia tidak dianggap sebagai "bagian dari permainan" semata. Ketika performa mereka di lapangan tidak sebanding dengan ekspektasi nasionalis tersebut, kekecewaan publik pun dengan mudah berubah menjadi hujatan yang menuntut pertanggung jawaban.
Beban sejarah dan ekspektasi yang tinggi
- koreaherald, aljazeera, newstraittimes
Kemarahan suporter juga berakar dari rekor emas yang pernah ditorehkan Korea Selatan di masa lalu. Korea Selatan telah lama memposisikan diri sebagai kekuatan utama sepak bola Asia.
Pencapaian legendaris saat menembus babak semifinal Piala Dunia 2002 menjadi tolok ukur standar bagi tim nasional. Sejak saat itu, publik bak selalu menuntut Taegeuk Warriors untuk tampil dominan dan mampu menaklukkan tim-tim kuat dunia.
Sepanjang keikutsertaan mereka di Piala Dunia, Korea Selatan juga sudah pernah mencatatkan sejumlah rekor membanggakan dengan menumbangkan tim-tim kuat. Sebut saja seperti saat mereka menumbangkan Jerman (Piala Dunia 2018) dan Portugal (Piala Dunia 2022).
Ketika mereka gagal melaju melewati fase grup, seperti yang terjadi di edisi 2026 ini, publik merasa tim nasional telah mengalami kemunduran yang tidak dapat diterima. Kegagalan ini dianggap sebagai noda yang mencoreng sejarah panjang keberhasilan mereka.
Pada akhirnya, hujatan yang diterima Timnas Korea Selatan bukanlah semata-mata karena kebencian, melainkan manifestasi dari kecintaan yang terluka.
Harapan yang terlalu besar terhadap standar prestasi yang telah ditetapkan di masa lalu membuat masyarakat Korea Selatan sulit menerima realita ketika tim kebanggaannya harus angkat koper lebih awal. (ism)
Load more