Menilik Sejarah Berulang Spanyol di Final Piala Dunia 2010 dan 2026, Gol Tunggal yang Antarkan La Roja Angkat Trofi
- REUTERS - Jose Hernandez/Anadolu
tvOnenews.com - Keberhasilan Spanyol merengkuh gelar juara Piala Dunia 2026 menyisakan cerita luar biasa mengenai bagaimana sejarah sepak bola dapat berulang dengan sangat presisi.
Kemenangan dramatis Spanyol atas Argentina di partai final Piala Dunia 2026 tidak hanya melahirkan pesta pora bagi pendukung La Roja, tetapi juga membangkitkan memori indah belasan tahun silam.
Dengan performa yang solid, Spanyol seolah mengulang kembali sejarah emas kemenangan mereka seperti yang pernah dilakukan pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.
Turnamen legendaris tahun 2010 tersebut menjadi momen bersejarah di mana skuad Matador untuk pertama kalinya mengangkat trofi Piala Dunia sepanjang sejarah, dan kini kejayaan serupa berhasil mereka replikasi kembali.
Skor kacamata dan dominasi total di lapangan
- REUTERS/Kai Pfaffenbach
Menilik lebih dalam jalannya pertandingan, terdapat kemiripan taktik yang luar biasa antara dua generasi emas Spanyol ini.
Babak final di Piala Dunia 2010 dan 2026 sama-sama berakhir dengan skor kacamata alias 0-0 pada waktu normal menit ke-90. Kebuntuan tersebut memaksa pertandingan di kedua edisi harus berlanjut ke babak perpanjangan waktu (extra time).
Tidak hanya secara skor, Spanyol pada dua edisi tersebut juga sama-sama mencatatkan persentase ball possession yang sangat dominan.
Skuad Spanyol mencatat 57% penguasaan bola saat menumbangkan Belanda di Piala Dunia 2010, dan angka dominasi tersebut melonjak hingga 68% saat menaklukkan perlawanan sengit Argentina di Piala Dunia 2026.
Catatan statistik komparatif mengenai penguasaan bola Spanyol ini membuktikan konsistensi filosofi sepak bola mereka yang mengutamakan kontrol permainan atas lawan.
Gol semata wayang penentu takdir juara
- REUTERS/Carlos Barria
Karakteristik lain yang membuat dua laga final ini begitu serupa adalah hasil akhir yang ditentukan oleh gol semata wayang.
Satu gol tunggal di masing-masing laga final tersebut berhasil menjadi pembeda kelas sekaligus penentu kemenangan mutlak bagi La Roja untuk mengunci gelar juara dunia.
Sejarah mencatat nama-nama pahlawan yang menjadi pemecah kebuntuan di momen krusial tersebut. Pada Piala Dunia 2010, gelandang legendaris Andres Iniesta menjadi aktor utama yang mengoyak jala gawang Belanda melalui sepakan dramatisnya.
Sementara itu, pada final Piala Dunia 2026 melawan Argentina, bintang muda Ferran Torres tampil sebagai pahlawan baru yang mencetak gol tunggal kemenangan bagi Spanyol setelah memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan lawan.
Magis di babak perpanjangan waktu jelang akhir laga
- REUTERS/Kai Pfaffenbach TPX IMAGES OF THE DAY
Kesamaan paling dramatis dari kedua pencapaian monumental ini terletak pada waktu terciptanya gol penentu kemenangan.
Gol kemenangan Spanyol di dua edisi tersebut sama-sama lahir ketika para pemain sudah berada di batas puncak kelelahan fisik, yaitu pada babak extra time.
Pada Piala Dunia 2010, gol penentu kemenangan krusial tersebut tercipta pada menit ke-109 setelah melewati pertarungan fisik yang sangat keras melawan Belanda.
Pola yang hampir persis kembali terulang di edisi tahun 2026, di mana gol emas penentu kejayaan Spanyol ke gawang Argentina berhasil dilesakkan pada menit ke-106.
Garis takdir yang sangat mirip ini terekam jelas dalam linimasa sejarah final Piala Dunia yang menunjukkan kekuatan mentalitas juara Spanyol dalam menghadapi tekanan tinggi di babak tambahan.
Keberhasilan Spanyol di Piala Dunia 2026 membuktikan bahwa sejarah yang berulang bukanlah sebuah kebetulan belaka.
Dengan menyamai catatan epik dari tahun 2010, Spanyol menunjukkan bahwa dominasi permainan, kesabaran dalam membongkar pertahanan rapat, serta ketenangan di babak perpanjangan waktu adalah formula abadi untuk merajai panggung sepak bola internasional. (ism)
Load more