Bukan Skill! Ini 5 Fakta Mengejutkan Soal Realita Timnas Indonesia Menurut Shin Tae-yong
- Instagram Shin Tae-yong777
tvOnenews.com - Pernyataan blak-blakan kembali datang dari Shin Tae-yong yang kini menjabat sebagai Penasihat Teknik Timnas Indonesia Football 7.
Dalam pengalamannya melatih Timnas Indonesia, ia menemukan sejumlah fakta penting yang selama ini menjadi tantangan utama perkembangan sepak bola nasional.
Pelatih asal Korea Selatan itu tidak berbicara berdasarkan asumsi. Selama lima tahun bersama PSSI, ia menangani berbagai level tim, mulai dari U-20, U-23, hingga senior.
Dari sana, ia menyimpulkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada bakat, melainkan aspek fundamental seperti mentalitas dan kondisi fisik pemain.
Pengalaman tersebut kini menjadi bekal penting bagi Shin dalam peran barunya.
Ia menegaskan bahwa pelajaran selama membesut Timnas Indonesia akan diterapkan untuk mengembangkan pemain di Football 7, sebuah format sepak bola yang lebih dinamis namun tetap menuntut kualitas dasar yang kuat.
1. Bakat Pemain Indonesia Diakui, Tapi Belum Maksimal
Salah satu fakta yang diungkap Shin adalah kualitas individu pemain Indonesia sebenarnya sangat baik.
“Mungkin kalian semua yang ada di sini tahu bahwa saya sudah lima tahun berada di PSSI. Saya juga sudah banyak belajar juga bagaimana bisa mengembangkan pemain-pemain muda dengan baik dan dengan cara apa,” ujarnya.
Namun, menurutnya, potensi tersebut belum bisa dimaksimalkan karena tidak didukung oleh aspek lain yang sama kuatnya. Ini menjadi ironi tersendiri, karena secara teknik, pemain Indonesia dinilai tidak kalah dari negara lain di Asia.
2. Masalah Mental Jadi Penghambat Utama
Shin secara tegas menyebut bahwa mentalitas pemain masih menjadi pekerjaan rumah terbesar.
“Ada permasalahan mental di pemain-pemain Indonesia. Jadi, pertama kali saya datang ke Indonesia, saya memperbaiki mental para pemain,” katanya.
Dalam sepak bola modern, mentalitas menjadi faktor pembeda di level kompetisi tinggi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan mampu tampil konsisten karena memiliki mental bertanding yang kuat, sesuatu yang menurut Shin masih perlu dibangun di Indonesia.
3. Fisik Lemah, Performa Tak Maksimal
Selain mental, kondisi fisik pemain juga menjadi sorotan serius.
“Jadi, kemampuan individu mereka sangat baik, tetapi tidak ada fisik yang baik. Itu tidak bisa mengeluarkan atau menampilkan yang terbaik,” lanjut Shin.
Data dari FIFA menunjukkan bahwa pemain di level elite rata-rata menempuh jarak lebih dari 10 kilometer per pertandingan dengan intensitas tinggi.
Tanpa fisik yang kuat, pemain akan kesulitan menjaga performa sepanjang laga, terutama dalam pertandingan internasional.
4. Pengalaman 5 Tahun Jadi Modal Besar
Shin Tae-yong tidak hanya mengkritik, tetapi juga membawa solusi berbasis pengalaman. Selama lima tahun bekerja sama dengan PSSI, ia menangani Timnas U-20, U-23, hingga senior.
Pengalaman ini membuatnya memahami secara mendalam karakter pemain Indonesia, sekaligus menemukan metode pengembangan yang lebih efektif.
Ia menegaskan bahwa proses belajar tersebut menjadi bekal penting dalam membangun sistem pembinaan yang lebih baik.
5. Fokus Baru di Football 7: Transfer Ilmu dan Pengembangan Pemain
Kini, sebagai penasihat teknik Football 7 Indonesia, Shin berupaya menerapkan semua pelajaran yang didapat.
Ia mengungkapkan bahwa pengalamannya akan digunakan untuk membantu mengembangkan pemain muda dengan pendekatan yang lebih terstruktur.
“Saya juga sudah pernah berada di Timnas Indonesia U-20, U-23, dan juga senior. Jadi, mungkin bisa menjadi dukungan yang baik untuk mentransfer ilmu saya kepada pemain-pemain muda di Football 7,” tuturnya.
Football 7 sendiri merupakan format sepak bola 7 lawan 7 yang berada di bawah naungan FIF7. Indonesia dijadwalkan tampil di Intercontinental Cup 2026 di Roma, yang menjadi ajang pembuktian awal bagi pengembangan pemain di format ini.
Dari lima fakta tersebut, terlihat jelas bahwa tantangan Timnas Indonesia bukan sekadar soal teknik bermain.
Mentalitas, fisik, dan sistem pembinaan menjadi fondasi yang harus diperkuat jika ingin bersaing di level global. Shin Tae-yong sudah membuka peta masalahnya tinggal bagaimana eksekusi di lapangan ke depan. (udn)
Load more