Masih Ingat 5 Striker Persib dari Benua Hitam Ini? Ternyata Punya Kesan Sendiri di Hati Bobotoh
- ANTARA/Raisan Al Farisi
tvOnenews.com - Puluhan jasa pemain asing sudah digunakan Persib sejak 2003 lalu. Sektor yang paling sering dirombak ada di lini depan karena hampir selalu diubah di jendela transfer kompetisi.
Kini Persib memiliki duo striker asing asal Brasil, David Da Silva dan Ciro Alves. Namun sebelum itu, ada nama Maciej Dolega merupakan penyerang asing pertama di skuad Maung Bandung.
Setelah itu, striker dari asal negara yang berbeda didatangkan. Postur, kualitas dan naluri gol penyerang asing tentu dibutuhkan untuk mendulang gol.
Setelah era Dolega, Persib sempat rutin mendaratkan penyerang-penyarang dari Amerika Latin seperti Rodrigo Sanhueza, Julio Lopez, Adrian Colombo, Osvaldo Moreno dan Cristian Molina.
Baru setelah itu, sempat hadir beberapa bomber asal Afrika. Perawakan besar dengan insting tajam mencetak gol pun membuat Persib sempat langganan striker asal Benua Hitam itu.
Dari musim 2005 hingga 2020, tercatat ada delapan striker Afrika yang pernah direkrut.
Tidak sedikit bomber asal Afrika yang direkrut Persib dan mayoritas ketajaman mereka cukup membuat Bobotoh puas.
Berikut 5 striker Asal Afrika yang punya kesan positif di hati Bobotoh Persib:
Ekene Ikenwa membuka jalur bagi striker asing asal Afrika gabung Persib. Di musim debutnya, dia mampu menghasilkan dua digit gol. Postur tinggi dan kokoh dalam duel jadi karakter Ikenwa.
Dia didatangkan Persib dari Persik. Pemain kelahiran Lagos, Nigeria, 14 September 1977 itu didatangkan Persib pada Liga Indonesia 2005. Namun ada hal unik yang dimiliki Ikenwa bersama Persib.
Dia dijuluki 'si jago kandang' karena ketajamannya hanya hadir saat Persib bermain di Stadion Siliwangi. Dia mencatatkan dua hattrick yaitu ketika melawan Deltras Sidoarjo dan Semen Padang.
Dirinya juga sempat menorehkan quattrick alias empat gol dalam satu laga. Saat itu gawang PSDS Deli Serdang yang jadi bulan-bulanan Ikenwa. Hanya saja hanya satu musim kerjasamanya dengan Persib.
Kepergian Ikenwa dari Persib dijawab Persib dengan merekrut striker asal Afrika lain untuk musim 2006. Adalah penyerang asal Maroko, Redouane Barkaoui yang didaratkan untuk menjadi tumpuan Persib di barisan depan.
Aksinya pun langsung menuai decak kagum. Gol debut langsung ditorehkan Barkaoui ketika menjamu Arema Malang pada pekan keenam. Tampil sebagai starter, sebuah gol cantik dipersembahkan pada Bobotoh.
Selebrasi ikonik juga dilakukannya dengan memanjat pagar tribun Siliwangi dan merayakan bersama dengan Bobotoh. Gol ini hadir ketika Persib benar-benar membutuhkan kemenangan usai mengalami paceklik di awal musim.
Di musim pertamanya bersama Persib, memang Barkaoui hanya mencetak 5 gol dan Persib nyaris terdegradasi. Tapi Arcan Iurie tetap mempercayakan dia untuk terus bersama di musm berikutnya. Koleksi gol Barkaoui pun meningkat di Liga Indonesia 2007, dia mencetak 9 gol.
Di musim 2007 dia membawa Persib jadi juara paruh musim wilayah Barat. Sayang ada penurunan performa pada putaran kedua. Barkaoui juga punya ciri khas selebrasi goyang jaipongnya yang merupakan tarian khas budaya Sunda.
Salah satu striker asing dengan rekam jejak bagus yang didaratkan Persib adalah Cristian Bekamenga. Kapten tim nasional Kamerun U-23 ini punya teknik tinggi, cerdas dan punya postur tinggi.
Bekamenga menjadi penyerang yang produktif karena kuat dalam duel udara, penyelesaian akhir mematikan dan naluri golnya tinggi. Dia direkrut dari PKNS Negeri Sembilan di Malaysia.
Di putaran pertama Liga Indonesia 2007 dia tampil bagus dan membatu tim jadi juara paruh musim untuk wilayah Barat. Bekamenga menjadi pemain paling subur dengan koleksi 10 golnya.
Aksi Bekamenga yang paling diingat Bobotoh adalah ketika mencetak brace ke gawang Persija. Pada laga tersebut, Persib menang dengan skor 3-0 atas sang rival di Stadion Siliwangi, Bandung.
Akan tetapi situasi berbalik 180 derajat di paruh kedua. Keputusan Persib melepas Nyeck Nyobe dengan status pinjaman ke Persela untuk memberi tempat pada Leo Chitescu kabarnya jadi alasan Bekamenga ngambek. Dia hanya mencetak satu gol di putaran kedua lalu hengkang ke klub Prancis, Nantes.
Satu-satunya bomber asing yang pernah membawa Persib menjadi juara kompetisi kasta tertinggi Indonesia. Djibril Coulibaly merupakan roster Persib di ajang Indonesia Super League 2014.
Pemain asal Mali tersebut didatangkan dari Barito Putera. Dia punya titel sebagai bomber tajam usai pada musim 2013 menorehkan 21 gol dalam satu musim dan membuat Maung Bandung kepincut.
Sayang Djibril mempunyai cedera bawaan di bagian tulang metatarsal-nya, dia akhirnya dicoiret dari tim. Namun karena Persib tidak punya pengganti sepadan, Djibril direkrut kembali meski masih dalam proses pemulihan.
Djibril baru bisa tampil di pekan keempat melawan Persik. Datang sebagai pengganti, dirinya mampu mencetak gol debut bersama Persib. Setelah itu kran golnya mengalir deras, pada tiga laga berikutnya, pemilik nomor punggung 21 tersebut mencetak empat gol.
Sayang cedera kambuhan membuatnya harus menepi dan diparkir pelatih. Total delapan gol disarangkannya selama satu musim. Meski terbilang minim, tapi dia punya andil membawa Persib menuntaskan dahaga juara.
5. Ezechiel N’douassel
Striker sekaligus kapten tim nasional Chad direkrut Persib di jendela transfer paruh musim Liga 1 2017. Tipikal striker komplit yang didatangkan tim untuk menambal perginya Carlton Cole.
Musim debutnya kurang bersinar karena hanya mampu mencetak empat gol saja. Tapi angka itu bertambah signifikan di musim 2018 saat Persib diasuh Mario Gomez.
Sebanyak 17 gol bisa disarangkan Ezechiel, tetapi dirinya juga punya masalah dengan emosinya. Bomber kelahiran 22 April 1988 ini sulit mengontrol diri sehingga mudah mendapatkan kartu dan sanksi dari Komdis.
Jasanya masih digunakan di musim 2019 dan 15 gol mampu dihasilkan. Secara perbendaharaan gol memang dia produktif, tapi perangai yang buruk membuatnya akhirnya berpisah jelang Liga 1 2020.
Selain kelima striker ini, ada beberapa sosok lain dari benua Afrika yang pernah membela Persib. Mereka adalah Brahima Traore (Burkina Faso), Moses Sakyi (Ghana) dan Herman Dzumafo (Kamerun).(dwi/hfp)
Load more