Cara Tak Biasa dan Filosofi Aneh Allegri yang Membawa AC Milan Masuk Bursa Scudetto: Biarkan Lawan Menekan, Serang Saat Kelelahan
- REUTERS/Violeta Santos Moura
Jakarta, tvOnenews.com - Massimiliano Allegri kembali menjadi pusat perbincangan di sepak bola Italia setelah membawa AC Milan bersaing dalam perburuan Scudetto musim ini. Sosoknya tetap memancing perdebatan, antara mereka yang memuji kecerdasannya dan pihak yang mempertanyakan pendekatannya yang kerap dianggap pragmatis.
Allegri memang bukan tipe pelatih yang selalu menawarkan sepak bola indah dengan dominasi penuh. Namun, rekam jejak trofi yang ia miliki menjadi bukti bahwa efektivitas sering kali lebih penting daripada estetika semata.
Ketika kembali ke Milan pada awal musim, tak sedikit pihak yang meragukan kemampuannya membawa perubahan signifikan. Keraguan itu muncul karena Allegri dinilai sulit beradaptasi dengan tuntutan sepak bola modern yang menuntut intensitas tinggi sepanjang laga.
Perjalanan musim ini perlahan menjawab keraguan tersebut. Milan justru tampil matang dalam menghadapi tekanan dan mampu bertahan di papan atas klasemen.
Kecerdikan Allegri dalam membaca situasi pertandingan menjadi kunci utama. Ia tidak memaksakan timnya untuk terus menyerang, melainkan mengajarkan kapan harus menekan dan kapan perlu bertahan.
Pandangan menarik soal filosofi Allegri datang dari Hernanes, mantan gelandang Juventus dan Inter Milan. Lewat unggahan di media sosial, ia menggambarkan pendekatan Allegri dengan analogi yang tak biasa.
Hernanes menyebut Allegri bukan sekadar memahami sepak bola, melainkan memahami “fisika” permainan. Ia mengibaratkan Milan seperti kabel baja pada kereta gantung yang sengaja dibuat melengkung untuk menahan beban.
Menurut Hernanes, kabel yang tampak melengkung justru tidak lemah. Lengkungan itu berfungsi menyebarkan tekanan agar mampu mengangkat beban dengan lebih aman dan efisien.
Analogi tersebut ia kaitkan dengan performa Milan dalam beberapa pertandingan terakhir. Rossoneri kerap terlihat tertekan, membuat kesalahan sederhana, dan tidak selalu mendominasi permainan.
Bagi sebagian pengamat, situasi itu mudah ditafsirkan sebagai tanda kelemahan. Namun, Hernanes melihatnya sebagai bagian dari kekuatan tersembunyi Milan.
Ia menilai Allegri memahami keterbatasan manusia dalam menjaga fokus selama 90 menit penuh. Otak, menurutnya, bekerja dalam fase-fase tertentu, bukan dalam kondisi agresif tanpa henti.
Karena itu, tim yang terus dipaksa bermain menekan sepanjang laga justru berisiko kehilangan keseimbangan. Allegri memilih pendekatan berbeda dengan membiarkan timnya “melengkung” pada momen tertentu.
Pendekatan ini memungkinkan Milan menyerap tekanan lawan sebelum kembali bangkit pada saat yang tepat. Hasilnya, Rossoneri kerap mampu mencuri momentum di tengah situasi sulit.
Di situlah letak apa yang disebut Hernanes sebagai “keajaiban” Allegri. Milan tidak selalu terlihat dominan, tetapi tahu bagaimana caranya bertahan dan menyerang secara efektif.
Strategi ini membuat Milan tetap kompetitif di jalur perebutan gelar. Allegri berhasil membentuk tim yang tahan banting, tidak panik, dan mampu membaca alur pertandingan.
Meski perjalanan menuju Scudetto masih panjang, fondasi yang dibangun Allegri mulai terlihat jelas. Milan kini tampil sebagai tim yang dewasa secara mental dan tak mudah runtuh saat ditekan.
Pada akhirnya, sepak bola tidak selalu soal siapa yang paling menekan atau menguasai bola. Terkadang, kemampuan untuk bertahan, menunggu, dan bangkit pada saat yang tepat justru menjadi pembeda utama.
Allegri memahami hal tersebut dengan sangat baik. Seperti kabel baja yang dianalogikan Hernanes, Milan perlahan mengangkat dirinya sendiri menuju level yang lebih tinggi.
(sub)
Load more