Dituduh Rasis Usai Bikin Kalulu Diusir Wasit, Bastoni Dibela Jurnalis Senior Italia
- REUTERS/Daniele Mascolo
Jakarta, tvOnenews.com – Polemik usai laga panas antara Inter Milan dan Juventus dalam tajuk Derby d’Italia masih terus memanas. Isu yang awalnya berkutat pada insiden di lapangan kini melebar menjadi perdebatan serius di ruang publik.
Bek Inter, Alessandro Bastoni, menjadi pusat sorotan setelah dituding melakukan tindakan bernuansa rasis terhadap Pierre Kalulu. Tuduhan tersebut mencuat setelah insiden yang berujung kartu kuning kedua bagi Kalulu, memaksanya meninggalkan pertandingan lebih cepat.
Kontroversi bermula ketika Bastoni terlibat duel yang dinilai sebagai aksi simulasi. Wasit kemudian mengganjar Kalulu dengan kartu kuning kedua, keputusan yang langsung memicu protes keras dari kubu Juventus.
Perdebatan pun tak terhindarkan. Sebagian pengamat menilai insiden itu sebagai bagian dari tensi tinggi khas Derby d’Italia, sementara yang lain menganggap tindakan Bastoni sebagai perilaku tidak sportif.
Bastoni sendiri tak menghindar dari sorotan. Ia telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui bahwa reaksinya di lapangan turut memengaruhi keputusan wasit.
Namun situasi semakin rumit ketika mantan jurnalis RAI, Giovanna Botteri, melontarkan tudingan serius dalam program “In altre parole” di stasiun televisi LA7. Dalam pernyataannya, Botteri menyebut ada unsur rasis dalam tindakan Bastoni terhadap Kalulu.
Botteri menyoroti latar belakang Kalulu sebagai pemain kulit hitam. Ia bahkan menilai selebrasi Bastoni setelah insiden tersebut memiliki makna yang melampaui sekadar rivalitas di atas lapangan.
Pernyataan itu langsung memantik respons beragam. Tidak sedikit pihak yang menganggap tudingan tersebut terlalu jauh dan berpotensi memperkeruh suasana.
Jurnalis senior Italia, Beppe Severgnini, yang turut hadir dalam diskusi tersebut mencoba meredakan polemik. Ia menilai bahwa memberi label rasis kepada Bastoni tanpa bukti yang jelas merupakan langkah yang berlebihan.
Menurut Severgnini, simulasi memang mencederai etika permainan. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak otomatis berkaitan dengan isu rasial.
Ia bahkan menyindir bahwa jika semua pemain yang pernah melakukan diving dilarang membela tim nasional, maka daftar pemain yang tersisa akan sangat sedikit. Pernyataan itu disambut tawa sebagian panelis, meski perdebatan tetap berlangsung serius.
Di sisi lain, Botteri tetap pada pendiriannya. Ia menyebut tindakan Bastoni sebagai sesuatu yang menjijikkan dan mempertanyakan ketulusan permintaan maaf sang bek Inter.
Kasus ini menunjukkan betapa tipisnya batas antara kontroversi olahraga dan isu sosial yang lebih luas. Sepak bola kerap menjadi cerminan dinamika masyarakat, namun tuduhan serius seperti rasisme tentu memerlukan kehati-hatian serta landasan bukti yang kuat.
Kini publik menanti sikap resmi dari Bastoni maupun manajemen Inter. Yang pasti, polemik ini menambah panjang daftar kontroversi di Serie A musim ini dan menjadi pengingat bahwa setiap tindakan di lapangan bisa berdampak jauh melampaui 90 menit pertandingan.
(sub)
Load more