Badai Cedera Jadi Alasan Klasik AC Milan Gagal Scudetto Meski Sudah Absen dari Kompetisi Eropa Musim Ini
- REUTERS/Daniele Mascolo
Jakarta, tvOnenews.com - AC Milan menghadapi persoalan serius yang kerap luput dari sorotan utama sepanjang musim ini. Bukan hanya soal performa di lapangan, tetapi juga krisis cedera yang terus membayangi stabilitas tim.
Harapan sempat muncul ketika AC Milan tidak tampil di kompetisi Eropa musim ini. Dengan jadwal yang lebih ringan, banyak pihak memperkirakan jumlah cedera akan berkurang secara signifikan.
Namun, realitas di lapangan justru berkata sebaliknya. Intensitas cedera tetap tinggi, bahkan nyaris menyamai catatan musim sebelumnya.
Dilansir dari MilanNews, salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah keputusan manajemen dalam menyusun komposisi skuad. Milan memilih merampingkan jumlah pemain, yang berujung pada meningkatnya beban bermain bagi individu.
Dengan opsi rotasi yang terbatas, para pemain inti dipaksa tampil lebih sering. Situasi ini secara tidak langsung meningkatkan risiko kelelahan dan cedera.
Sejumlah nama penting pun harus menepi dalam periode yang tidak singkat. Christian Pulisic menjadi salah satu pemain yang mengalami lebih dari satu cedera sepanjang musim.
Rafael Leão juga mengalami masalah kebugaran yang cukup mengganggu ritme permainannya. Cedera yang berulang membuat kontribusinya tidak selalu maksimal di setiap pertandingan.
Di lini tengah, Ardon Jashari menjadi salah satu korban cedera paling serius. Patah tulang yang dialaminya membuatnya absen cukup lama dan mengganggu keseimbangan tim.
Lini belakang pun tidak luput dari masalah serupa. Mike Maignan, Fikayo Tomori, hingga Matteo Gabbia harus bergantian masuk ruang perawatan.
Kondisi ini membuat pelatih harus terus melakukan penyesuaian. Stabilitas permainan pun menjadi sulit terjaga karena komposisi tim yang kerap berubah.
Beberapa cedera bahkan terjadi saat pemain menjalani tugas internasional. Hal ini semakin memperumit situasi karena klub tidak memiliki kendali penuh terhadap kondisi fisik pemain.
Masalah juga datang dari cedera jangka panjang yang dialami sejumlah pemain. Santiago Giménez, misalnya, harus melewatkan sebagian besar musim akibat operasi.
Ruben Loftus-Cheek mengalami nasib serupa setelah mengalami cedera serius. Benturan yang terjadi di lapangan berujung pada cedera yang membutuhkan waktu pemulihan panjang.
Jika dibandingkan dengan musim sebelumnya, jumlah cedera memang tidak berbeda jauh. Namun, kondisi ini menjadi lebih mengkhawatirkan karena terjadi tanpa tekanan jadwal Eropa.
Situasi tersebut menjadi sinyal bahwa ada hal yang perlu dievaluasi secara menyeluruh. Mulai dari manajemen kebugaran hingga kedalaman skuad harus mendapat perhatian serius.
AC Milan kini dihadapkan pada kebutuhan untuk membangun tim yang lebih tahan terhadap tekanan fisik. Tanpa perbaikan di sektor ini, ambisi untuk bersaing di level tertinggi bisa kembali terhambat.
(sub)
Load more