Jurnalis Italia Beri Kritik Pedas AC Milan, Model Investasi RedBird yang Terlalu Pelit Bikin Rossoneri Gagal Juara
- REUTERS/Daniele Mascolo
Jakarta, tvOnenews.com - Suasana tidak kondusif kembali menyelimuti AC Milan dalam beberapa hari terakhir. Gelombang kritik dari berbagai pihak muncul seiring menurunnya performa tim di momen krusial musim ini.
Sebelumnya, AC Milan sempat terlihat mampu meredam tekanan dari luar. Aksi protes mereda dan optimisme terhadap masa depan klub perlahan tumbuh di kalangan suporter.
Namun, situasi itu berubah drastis setelah kekalahan dari Sassuolo. Hasil tersebut seolah menjadi pemicu kembalinya ketidakpuasan yang sebelumnya sempat mereda.
Pasca pertandingan, para pemain bahkan memilih menghindari suporter. Kondisi ini kembali memunculkan pertanyaan besar terkait arah dan ambisi klub ke depan.
Situasi yang terjadi saat ini dinilai mengulang pola yang sama seperti akhir musim lalu. Milan seakan ingin segera menutup musim demi meredakan tekanan yang terus meningkat.
Sorotan pun mengarah kepada jajaran manajemen klub. Jurnalis Il Sole 24 Ore, Carlo Festa, menjadi salah satu pihak yang cukup vokal mengkritik kebijakan internal AC Milan.
Dalam wawancaranya bersama MilanNews, Festa menilai manajemen memiliki peran besar dalam hasil mengecewakan musim ini. Ia juga menyoroti arah kebijakan klub yang dinilai terlalu berhati-hati.
- REUTERS/Daniele Mascolo
Sebelumnya, kritik juga datang dari Fedele Confalonieri yang menyebut RedBird lebih mirip lembaga keuangan. Ia menilai pendekatan tersebut membuat klub tidak lagi berorientasi pada prestasi.
Menanggapi hal tersebut, Festa memberikan perspektif yang lebih luas. Ia menegaskan bahwa RedBird Capital Partners adalah perusahaan private equity, bukan bank, sehingga memiliki pendekatan berbeda dalam mengelola klub.
Menurut Festa, model ini memang mengutamakan disiplin finansial. Pengeluaran besar yang tidak terkontrol dianggap berisiko terhadap kesehatan keuangan klub.
Meski begitu, ia menekankan bahwa kepemilikan oleh private equity tidak selalu identik dengan kegagalan. Beberapa klub tetap mampu meraih prestasi tinggi dengan pengelolaan yang tepat.
Ia bahkan menyinggung Inter Milan sebagai contoh nyata. Klub tersebut tetap mampu meraih gelar meski berada di bawah model kepemilikan serupa.
Festa menilai masalah utama Milan terletak pada keseimbangan antara ambisi dan kehati-hatian finansial. Strategi yang terlalu defensif justru berpotensi menghambat perkembangan tim.
Menurutnya, Milan seharusnya berani mengambil langkah investasi yang lebih progresif. Tanpa itu, klub akan kesulitan bersaing di level tertinggi secara konsisten.
- Inter.it
Ia juga menyoroti pentingnya peran manajemen yang memahami sepak bola secara mendalam. Sosok berpengalaman dinilai mampu memberikan dampak signifikan terhadap performa tim.
Festa mencontohkan figur seperti Giuseppe Marotta yang sukses membawa perubahan nyata di klub yang ia kelola. Pengalaman dan visi sepak bola menjadi kunci dalam meraih hasil.
Lebih jauh, ia menilai masa depan Milan sangat bergantung pada hasil akhir musim ini. Lolos atau tidaknya ke Liga Champions akan menentukan arah kebijakan klub selanjutnya.
Jika berhasil finis di empat besar, peluang untuk meningkatkan investasi akan terbuka. Namun jika gagal, pengetatan anggaran kemungkinan besar akan kembali diberlakukan.
Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian di kalangan suporter. Kekhawatiran bukan hanya soal keuangan, tetapi juga tentang arah prestasi klub ke depan.
Festa juga menyinggung kebijakan transfer yang cenderung menjual pemain terlebih dahulu sebelum membeli. Strategi tersebut dinilai wajar, namun harus diimbangi dengan perekrutan yang tepat.
Menurutnya, kunci keberhasilan terletak pada kombinasi pemain muda potensial dan pemain berpengalaman. Tanpa keseimbangan itu, sulit bagi tim untuk meraih hasil maksimal.
Di sisi lain, struktur manajemen klub juga menjadi perhatian. Meski kepemilikan telah berubah, posisi CEO Giorgio Furlani tetap tidak mengalami pergantian.
Festa melihat hal ini sebagai indikasi bahwa fokus utama masih berada pada stabilitas finansial. Sementara aspek prestasi dinilai belum mendapat porsi yang seimbang.
Padahal, dalam sepak bola modern, hasil di lapangan tetap menjadi tolok ukur utama. Tanpa prestasi, stabilitas finansial tidak akan cukup untuk memenuhi ekspektasi publik.
Kini, AC Milan berada di persimpangan penting. Hasil di sisa musim akan menentukan apakah mereka mampu bangkit atau justru semakin terjebak dalam ketidakpastian.
(sub)
Load more