Skandal Paspor Ternyata Masih Belum usai di Suriname, Bagaimana dengan Timnas Indonesia?
- REUTERS/Stelios Misinas
Jakarta, tvOnenews.com - Skandal paspor atau paspoortgate yang sempat mencuat di awal tahun ini masih berlanjut di Suriname. Sebelumnya, para pemain Timnas Indonesia juga terkena dampaknya.
Kasus ini bermula dari pemain Timnas Indonesia, Dean James, yang bermain di laga Go Ahead Eagles melawan NAC Breda. NAC yang menderita kekalahan dengan skor telak 0-6.
Status James sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) diprotes oleh NAC yang menginginkan laga itu untuk diulang. Namun, hal ini berdampak kepada para pemain naturalisasi Timnas Indonesia lainnya di Liga Belanda, dan bahkan meluas ke para pemain naturalisasi Suriname.
Masalah ini sudah terselesaikan sejak Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) memutuskan bahwa permintaan NAC tidak bisa diwujudkan. Sedangkan para pemain yang sudah kehilangan warga negara Belanda-nya bisa mengurus kembali administrasi dan kini sudah bisa bermain di lapangan.
Dean James dan para pemain skuad Garuda lainnya, seperti Justin Hubner, Mees Hilgers, dan Nathan Tjoe-A-On tetap bisa bermain untuk klubnya masing-masing di Eredivisie. Namun, kasus para pemain Suriname tampaknya masih belum usai.
Sebagaimana dilaporkan oleh NOS via Voetbalzone, kasus ini masih belum usai. Para pemain Suriname masih terancam kehilangan kewarganegaraan Belanda.
“Permasalahan paspor yang melanda tim nasional Suriname masih belum terselesaikan. NOS fokus pada masalah yang terus berlanjut bagi para pemain sepak bola yang memiliki akar Belanda dan Suriname,” tulis Voetbalzone.
“Para pemain masih berisiko kehilangan kewarganegaraan Belanda mereka ketika memperoleh kewarganegaraan Suriname untuk bermain bagi tim nasional. Melalui amandemen legislatif, Suriname berupaya mencegah pemain keturunan Suriname yang tinggal di luar negeri kehilangan kewarganegaraan Belanda mereka setelah memperoleh kewarganegaraan Suriname,” tambahnya.
Pada saat ini, belum ada solusi untuk para pemain yang dinaturalisasi Suriname. Sebab, undang-undangnya belum sesuai dengan yang diberlakukan di Belanda.
“Konsekuensi dari kesepakatan Suriname terhadap kewarganegaraan Belanda dinilai berdasarkan kasus per kasus sesuai dengan undang-undang kewarganegaraan Belanda. Fakta bahwa kewarganegaraan Suriname diperoleh berdasarkan hukum saja tidak cukup untuk masuk ke dalam salah satu kategori pengecualian menurut undang-undang,” kata seorang juru bicara Kementerian Kehakiman dan Keamanan Belanda kepada NOS.
Pelatih Timnas Suriname, Henk Fraser, berada dalam kebingungan karena banyak pemainnya yang berada dalam status tak jelas. “Kedua negara harus bekerja sama dan memberikan kejelasan,” katanya.
“Anda hanya berurusan dengan orang-orang yang mengikuti kata hati mereka, yang ingin bermain sepak bola untuk Suriname, tetapi sekarang tidak tahu di mana posisi mereka. Mereka dihukum tanpa ampun dengan cara ini. Saya merasa itu benar-benar tidak dapat dipahami,” kata pelatih tim nasional, yang mengindikasikan bahwa beberapa pemain tidak turun bermain selama jeda internasional baru-baru ini karena ketidakpastian tersebut.
Salah satu pemain yang terdampak adalah Jean-Paul Boetius yang sudah debut dengan Suriname sejak 2025. Bersama dengan Tjaronn Chery dan Virgil Misidjan, dia berusaha untuk meraih kembali paspor Belanda.
Paspor Suriname-nya pada saat ini hanya membolehkannya tinggal selama setahun saja. Jadi, dia berniat untuk kembali menjadi warga Belanda lagi.
“Sekarang saya memiliki stiker di paspor Suriname saya, yang memberi saya izin tinggal untuk tinggal di Belanda. Tapi, itu hanya untuk satu tahun lagi. Ya, ini situasi yang sangat tidak menyenangkan. Saya hanya ingin menjadi warga negara Belanda lagi. Saya lahir dan dibesarkan di sini,” kata mantan pemain Feyenoord dan RKC tersebut.
Boetius merasa bahwa dirinya telah disesatkan karena memilih untuk membela Suriname. Namun, di sisi pribadi, mereka kehilangan haknya sebagai warga negara Belanda.
“Kami merasa disesatkan oleh orang-orang yang, ngomong-ngomong, sudah tidak bekerja lagi untuk federasi Suriname. Para pendahulu mereka memperkenalkan apa yang disebut paspor olahraga. Hanya saja… itu sama sekali tidak ada,” pungkasnya.
Load more