Tak Ditutupi, John Herdman Bicara Jujur soal Biang Kerok Kegagalan Timnas Indonesia di Era Patrick Kluivert
- X @timnasindonesia
tvOnenews.com - Datang sebagai pelatih anyar, John Herdman langsung menaruh perhatian serius pada fondasi Timnas Indonesia dan alasan di balik hasil yang belum maksimal di masa lalu.
Pelatih asal Inggris itu tak membutuhkan waktu lama untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap Skuad Garuda.
Herdman aktif memantau pertandingan Super League 2025/2026, berdiskusi dengan jajaran teknis PSSI, hingga terbang langsung ke Eropa untuk melihat kondisi para pemain yang merumput di luar negeri.

- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
Dari proses tersebut, ia menemukan satu kesimpulan penting: kegagalan Timnas Indonesia di era Patrick Kluivert bukan disebabkan oleh minimnya kualitas pemain.
Dalam penilaiannya, Herdman justru melihat Indonesia memiliki modal yang sangat kuat, khususnya di sektor pertahanan.
Ia bahkan menempatkan kedalaman skuad Timnas Indonesia di level elite Asia jika berbicara soal kualitas pemain tier satu dan tier dua.
“Ya, saya pikir Anda tahu saat Anda mengevaluasi di AFC, saya memiliki pemahaman yang sangat jelas tentang apa yang memberi Anda peluang untuk sukses, dan itu berkaitan dengan pemain tier satu dan tier dua,” ujar John Herdman, dikutip dari kanal YouTube resmi Timnas Indonesia.

- persija.id
Menurutnya, pool pemain Timnas Indonesia saat ini berada di jajaran teratas Asia. Herdman secara spesifik menyoroti kedalaman skuad yang didominasi pemain bertahan berkualitas internasional.
“Kedalaman pemain tier satu dan dua kita, menurut saya, kita berada di peringkat keempat atau kelima di AFC dengan kualitas pool pemain kita,” lanjutnya.
Dengan fondasi tersebut, Herdman menegaskan dirinya tidak sepakat dengan anggapan bahwa Timnas Indonesia kekurangan talenta.
Ia justru memilih pendekatan realistis: membangun tim berdasarkan kekuatan yang sudah ada, bukan memaksakan skema yang tidak sesuai karakter pemain.

- Dok. AFC | Dok. PSSI
“Menurut saya, setiap pelatih harus bekerja dengan apa yang ada, bukan dengan apa yang dia pikir harus dia miliki,” tegas Herdman.
“Jika ini adalah inti dan kekuatan tim kita, kita akan membangun di sekitarnya. Jadi, menurut saya, jelas, tidak ada alasan lagi tentang talenta kami,” lanjutnya.
Dari hasil evaluasi itu pula, Herdman mengungkap faktor utama yang menurutnya menjadi biang kegagalan Timnas Indonesia pada siklus Kualifikasi Piala Dunia 2026 sebelumnya.
Masalahnya bukan kualitas individu, melainkan minimnya waktu untuk membangun koneksi dan chemistry antarpemain.
Ia menilai, Timnas Indonesia kala itu kerap menghadapi laga-laga berat, terutama pertandingan tandang, tanpa kesiapan kolektif yang matang.
“Dan saya pikir pada siklus Piala Dunia sebelumnya. Mereka tidak punya waktu untuk membangun koneksi yang diperlukan untuk melewati momen-momen sulit dalam pertandingan tandang,” ungkapnya.
Kini, Herdman optimistis situasinya berbeda. Dengan waktu persiapan yang lebih terstruktur dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap karakter pemain, ia yakin koneksi antarpemain bisa dibangun secara bertahap namun solid.
“Tapi kami akan punya waktu dan akan membawa koneksi itu bersama-sama. Jadi talenta ada, kesempatan ada sekarang,” pungkas Herdman. (asl)
Load more