John Herdman Gigit Jari, 3 Pemain Keturunan Tolak Mentah-mentah Bela Timnas Indonesia
- Kolase tvOnenews.com | Vancouver Whitecaps FC - Instagram Pascal Struijk
tvOnenews.com - Ambisi besar tengah disiapkan pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, dalam membangun skuad kompetitif menuju 2026.
Salah satu strateginya adalah mendekati sejumlah pemain keturunan di Eropa untuk dinaturalisasi menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).
Bahkan, Herdman dijadwalkan terbang ke Eropa pada akhir Januari atau awal Februari 2026 guna melakukan pendekatan langsung kepada para pemain diaspora.
Namun, upaya tersebut tak sepenuhnya berjalan mulus.
Sejumlah nama yang memiliki darah Indonesia justru belum tertarik mengenakan seragam Merah Putih.
Berikut tiga pemain keturunan yang untuk saat ini memilih menolak panggilan Timnas Indonesia.
1. Pascal Struijk (Leeds United)
Bek jangkung milik Leeds United ini menjadi salah satu nama yang paling sering dikaitkan dengan Timnas Indonesia.
Struijk memiliki garis keturunan Indonesia dari sang ibu, dan secara regulasi FIFA memenuhi syarat untuk berganti federasi.
Musim ini, ia tampil reguler bersama Leeds dan dikenal sebagai bek modern dengan kemampuan distribusi bola yang baik serta duel udara kuat berkat tinggi badan 190 sentimeter.
Dengan pengalaman bermain di kompetisi kasta tertinggi Inggris, kualitas Struijk jelas akan menjadi tambahan besar bagi lini belakang Garuda.
Namun, sang pemain belum membuka pintu untuk Indonesia. Ia masih memendam ambisi membela Timnas Belanda yang berpeluang tampil di Piala Dunia 2026.
"Menyenangkan melihat betapa bersemangatnya para penggemar dan betapa mereka menginginkan saya di sana (Indonesia). Ini menunjukan betapa besarnya negara sepakbola itu," kata Pascal Struijk dikutip dari ESPN.
"Bermain untuk negara ibu saya (Indonesia_ bukanlah sesuatu yang saya fokuskan. Belanda? Mari berharap itu terjadi suatu hari nanti," lanjut Pascal Struijk.
Pernyataan itu menegaskan bahwa prioritas utamanya saat ini adalah menembus skuad senior De Oranje.
2. Jayden Oosterwolde (Fenerbahce)
Nama berikutnya adalah Jayden Oosterwolde, pemain serbabisa yang kini memperkuat raksasa Turki, Fenerbahce.
Ia memiliki darah Indonesia dari ibunya dan juga memenuhi syarat membela Indonesia maupun Suriname.
Oosterwolde tampil konsisten di Turki dan dikenal fleksibel karena bisa bermain sebagai bek kiri maupun bek tengah.
Kecepatan dan fisiknya menjadi nilai plus yang membuatnya dipantau banyak pihak.
Meski begitu, ia secara terbuka menyatakan masih ingin memperjuangkan tempat di Timnas Belanda.
“Ibu saya berasal dari Indonesia. Ia menghubungi saya setiap bulan dan menanyakan apakah saya ingin bermain Indonesia atau Suriname,” kata Jayden Oosterwolde kepada A Spor dikutip dari @TimnasXtra.
“Namun, saya masih ingin bermain untuk Belanda. Saya merasa punya peluang dan itulah hal yang ingin saya perjuangkan,” lanjut mantan pemain FC Twente dan Parma ini.
Keputusannya memperlihatkan bahwa peluang tampil di level tertinggi Eropa masih menjadi prioritas utama.
3. Laurin Ulrich (FC Magdeburg)
Berbeda dari dua nama sebelumnya, Laurin Ulrich tidak sepenuhnya menutup peluang.
Winger muda milik VfB Stuttgart yang saat ini dipinjamkan ke 1. FC Magdeburg itu masih fokus memperkuat Timnas Jerman kelompok usia.
Ulrich mencatat kontribusi assist di kompetisi kasta kedua Jerman musim ini dan dipandang sebagai talenta muda potensial.
Ia juga masuk radar federasi Jerman di level junior.
“Saya tahu ada permintaan (untuk membela Timnas Indonesia), tapi saya kini bermain untuk Jerman. Saya menilai itu penting bagi saya,” kata Laurin Ulrich dikutip dari Podcast FC Madgeburg.
“Namun, saya tidak akan pernah bilang tidak. Jadi, saya tidak sepenuhnya menutup kemungkinan (membela Timnas Indonesia),” tutup Laurin Ulrich.
Pernyataan tersebut memberi secercah harapan bahwa peluang masih terbuka di masa depan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan naturalisasi telah menjadi bagian dari strategi memperkuat Timnas Indonesia.
Regulasi FIFA memungkinkan pemain berpindah federasi selama memenuhi kriteria keturunan dan belum tampil di laga kompetitif level senior untuk negara lain.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya administratif, melainkan pilihan karier pemain itu sendiri.
Banyak dari mereka masih melihat peluang membela negara Eropa sebagai prioritas, terutama menjelang turnamen besar seperti Piala Dunia 2026.
Bagi John Herdman, situasi ini tentu menjadi ujian tersendiri.
Ia harus meyakinkan para pemain bahwa proyek Timnas Indonesia memiliki visi jangka panjang yang menarik dan kompetitif di level Asia.
Meski saat ini ketiganya belum bersedia, dinamika sepak bola selalu berubah.
Bukan tidak mungkin suatu saat nanti, pintu yang kini tertutup bisa terbuka lebar untuk Merah Putih.
(tsy)
Load more