Bisa Cetak Gol ke-100 di Usia 40 Tahun, Sang 'Mutiara Hitam' Timnas Indonesia Ini Juga Nikmati Hidup Jadi PNS
tvOnenews.com - Dunia sepak bola Indonesia mungkin telah melahirkan banyak talenta. Namun, sangat sedikit yang bisa menyamai karisma dan loyalitas seorang Boaz Solossa.
Pria yang akrab disapa "Bochi" ini bukan sekadar penyerang biasa. Kini, di usia yang telah menginjak kepala empat, sang "Mutiara Hitam" Timnas Indonesia ini membuktikan bahwa api semangatnya tak kunjung padam, baik saat mengenakan seragam dinas maupun jersey kebesaran Persipura Jayapura.
Gol ke-100 di usia senja
- Instagram/persipurapapua1963
Jika banyak pemain memilih pensiun di usia 35 tahun, Boaz justru baru saja mengukir tinta emas yang membuat publik terperangah.
Tepat pada 11 April 2026 lalu, Boaz Solossa resmi mencatatkan gol ke-100 bersama Persipura Jayapura. Pencapaian ini terasa sangat spesial karena diraih tepat di usianya yang ke-40 tahun.
Gol bersejarah tersebut menjadi bukti shahih bahwa insting membunuh di depan gawang dan akurasi kaki kiri mautnya sama sekali belum berkarat.
Di kasta kedua kompetisi Indonesia, Boaz tetap menjadi momok menakutkan bagi bek-bek muda yang usianya mungkin separuh darinya.
Tampaknya, usia hanyalah deretan angka bagi Boaz, sementara mencetak gol adalah sebuah kewajiban moral bagi publik Jayapura.
Sang legenda yang jadi abdi negara
- Instagram/boazsolossa
Lama tak terdengar di hiruk-pikuk kasta tertinggi, Boaz kini menikmati babak baru dalam hidupnya. Di balik kegarangannya menjebol gawang lawan, Boaz adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) yang berdedikasi di lingkungan Pemerintah Provinsi Papua. Bertugas di Kantor Otonom Provinsi Papua, Bochi menjalankan fungsi administratif layaknya pegawai pemerintah lainnya.
Pilihan ini bukanlah kebetulan. Boaz memiliki latar belakang pendidikan mentereng dengan gelar S1 dan S2 dari Universitas Cenderawasih (Uncen).
Darah birokrat memang mengalir kuat di nadinya. Ia diketahui merupakan keponakan dari mendiang Gubernur Papua periode 2000-2005, Jaap Solossa.
Meski sibuk dengan urusan kedinasan, pemerintah setempat tetap memberikannya izin untuk terus merumput, sebuah bentuk apresiasi atas jasanya mengharumkan nama Bumi Cendrawasih.
Kesetiaan yang melampaui tawaran Eropa
- Instagram/boazsolossa
Melihat ketajamannya yang abadi, publik teringat kembali pada momen krusial beberapa tahun silam.
Saat itu, klub Liga Belanda, VVV-Venlo, sempat menyodorkan "tiket emas" untuk membawa Boaz berkarier di Eropa.
Namun, kecintaan Bochi pada tanah kelahiran mengalahkan ambisi pribadi untuk mencicipi atmosfer Benua Biru.
Boaz memilih setia. Ia menolak tawaran tersebut dan memilih membangun dinasti di Persipura, yang akhirnya membuahkan empat mahkota juara liga.
Kesetiaan itulah yang membuat namanya tak sekadar menjadi statistik dalam buku sejarah, melainkan simbol kehormatan.
Kini, setiap kali Boaz mencetak gol, ia tidak hanya merayakan poin untuk timnya, tetapi juga merayakan daya tahan seorang legenda yang memilih untuk tetap membumi di tengah gemerlapnya dunia sepak bola.
Dari lapangan hijau ke ruang kantor, Boaz Solossa adalah bukti nyata bahwa pengabdian tidak mengenal batas ruang dan waktu. (ism)
Load more