Media Vietnam Tak Habis Pikir, Pengamat Eropa Sebut Pemain Timnas Indonesia Masih Kurang 'Bertalenta'
- Instagram/jayidzes
tvOnenews.com - Sorotan terhadap perkembangan sepak bola Indonesia terus bermunculan. Kali ini, media Vietnam, VNExpress, mengulik pandangan seorang pengamat Eropa yang menilai kualitas regenerasi pemain di kawasan ini masih tertinggal.
Dalam laporan tersebut, pengamat Jernel Kamensek memberikan penilaian jujur terhadap kondisi sepak bola Indonesia dan Thailand.
Ia menilai dua kekuatan besar Asia Tenggara itu belum konsisten melahirkan pemain dengan kualitas kelas dunia.
“Sejujurnya, saya tidak terlalu mengenal sistem pembinaan usia muda di Thailand maupun Indonesia,” ujar Jernel Kamensek, dikutip dari VNExpress.
Meski mengakui keterbatasan pengetahuannya soal sistem akar rumput di ASEAN, ia menegaskan bahwa hasil akhir tetap menjadi tolok ukur utama.
“Namun, Timnas Indonesia dan Thailand belum banyak menghasilkan pemain yang benar-benar bertalenta luar biasa,” lanjutnya.
- Kitagaruda.id
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Ia membandingkan perkembangan pemain di Asia Tenggara dengan sistem pembinaan di Eropa yang sudah mapan dan terstruktur sejak usia dini.
Sebagai contoh, ia menyoroti keberhasilan Slovenia dalam membentuk pemain elite seperti Jan Oblak dan Benjamin Sesko.
Keduanya sudah terpantau bakatnya sejak usia belia dan diarahkan melalui sistem yang jelas.
“Saya mengikuti perkembangan Jan Oblak sejak usia 15 tahun, dan Benjamin Sesko sejak 13 tahun. Mereka adalah pesepakbola kelas dunia yang sudah dikenal sejak remaja,” ungkapnya.
Menurutnya, perbedaan utama terletak pada konsistensi pembinaan.
Negara-negara Eropa memiliki kurikulum jangka panjang yang terintegrasi, mulai dari akademi hingga level profesional.
Sebaliknya, di Asia Tenggara, pengembangan pemain masih kerap bergantung pada bakat tanpa dukungan sistem yang benar-benar matang.
Tak hanya membahas sistem, pengamat tersebut juga menyinggung performa pemain Indonesia yang berkarier di luar negeri. Nama seperti Marselino Ferdinan dan Egy Maulana Vikri ikut disorot.
Meski memiliki potensi besar, ia menilai para pemain tersebut belum mampu menembus level tertinggi kompetisi Eropa secara konsisten.
Pandangan ini sejalan dengan fakta bahwa sebagian besar pemain Indonesia yang merumput di luar negeri masih berjuang mendapatkan menit bermain reguler.
Dalam beberapa tahun terakhir, PSSI memang mulai melakukan berbagai terobosan. Mulai dari mengirim pemain muda ke luar negeri, bekerja sama dengan akademi internasional, hingga program naturalisasi pemain diaspora.
Langkah ini terbukti membawa dampak instan, terutama dalam peningkatan performa tim nasional di level Asia.
Namun, banyak pengamat menilai kebijakan tersebut belum cukup untuk membangun fondasi jangka panjang.
Data dari FIFA dan AFC juga menunjukkan bahwa negara dengan sistem pembinaan kuat cenderung lebih stabil dalam menghasilkan pemain berkualitas secara berkelanjutan.
Menutup analisanya, pengamat tersebut menekankan pentingnya dukungan finansial dan keberanian pemain untuk keluar dari zona nyaman.
“Perlu dana untuk mendukung pemain agar bisa mengikuti sistem pelatihan terbaik di dunia,” ujarnya.
Ia menilai, tanpa dukungan finansial yang memadai, talenta muda akan kesulitan mengakses pelatihan berkualitas tinggi di Eropa.
“Para pemain ini membutuhkan dukungan finansial agar tidak takut bermain di luar negeri,” tambahnya.
(tsy)
Load more