Berkah Buat Timnas Indonesia? Menerka Dampak Wacana Presiden Prabowo soal Kewarganegaraan Ganda
- tvOnenews-Julio Tri Saputra
Jakarta, tvOnenews.com - Wacana kewarganegaraan ganda terbatas di Indonesia berpotensi membawa perubahan bagi sepak bola nasional. Jika diterapkan, Timnas Indonesia bisa memiliki akses lebih luas kepada pemain berdarah Indonesia yang berstatus WNA.
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto sebelumnya mengusulkan kewarganegaraan ganda terbatas bagi talenta tertentu. Mereka dinilai memiliki kemampuan istimewa dan dibutuhkan untuk kepentingan bangsa.
Dalam pidatonya, Prabowo bahkan secara khusus menyebut atlet hingga pesepak bola profesional kelas dunia sebagai kelompok yang bisa masuk dalam skema tersebut. Wacana itu disampaikan pada Jumat (14/8/2026).
"Untuk kami izinkan dwikewarganegaraan ganda bagi talenta-talenta tertentu yang dibutuhkan oleh bangsa. Indonesia memiliki jutaan diaspora, di antara mereka terdapat ilmuwan yang hebat-hebat," ujar Prabowo.
"Dokter, insinyur, ahli kecerdasan buatan, peneliti, pengusaha, seniman, atlet, terutama pemain bola profesional kelas dunia," tambahnya.
Namun, perubahan tersebut tidak akan berlangsung secara otomatis. Pemerintah harus terlebih dahulu mengajukan revisi UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan kepada DPR RI.
Jika disahkan, kebijakan itu bisa menjadi instrumen baru Indonesia untuk menjaga hubungan dengan diaspora. Khusus di sepak bola, potensi tersebut dapat menjangkau pemain keturunan berkualitas yang saat ini berstatus WNA.
- Kolase TVR Parlemen & tvOneNews
Salah satu keuntungan terbesar ialah memperluas pilihan pemain Timnas Indonesia. Selama ini, Indonesia harus menjalankan proses naturalisasi bagi pemain berdarah Indonesia yang belum berstatus WNI.
Dengan kewarganegaraan ganda terbatas, pemain keturunan yang memenuhi syarat bisa mempertahankan kewarganegaraan asing sekaligus memiliki kewarganegaraan Indonesia. Hubungan pemain diaspora dengan Tanah Air pun berpotensi menjadi lebih fleksibel.
Fenomena pemain diaspora sendiri bukan hal baru dalam sepak bola dunia. Kehadiran pemain dengan latar belakang negara berbeda telah menjadi bagian penting dalam perkembangan sepak bola internasional.
Prancis menjadi salah satu contoh negara dengan banyak pemain berlatar belakang kewarganegaraan atau garis keturunan berbeda. Negara tersebut mengizinkan seseorang memiliki dua atau lebih kewarganegaraan dalam kondisi tertentu.
Jerman juga mengubah aturan kewarganegaraannya sejak 27 Juni 2024. Warga Jerman kini dapat memperoleh kewarganegaraan negara lain tanpa harus kehilangan kewarganegaraan Jerman.
Model tersebut dapat memberikan keuntungan bagi sepak bola karena pemain tidak harus memutus seluruh ikatan kewarganegaraannya. Namun, kewarganegaraan dan kelayakan membela tim nasional merupakan dua hal yang berbeda.
Memiliki dua paspor tidak otomatis membuat pemain bebas membela dua tim nasional. FIFA memiliki aturan tersendiri terkait kelayakan pemain, termasuk kewarganegaraan dan riwayat penampilan internasional.
- X @timnasindonesia
Artinya, jika Indonesia menerapkan kewarganegaraan ganda, PSSI tetap harus memastikan pemain memenuhi regulasi FIFA. Pemain juga tidak bisa sembarangan berpindah tim nasional setelah memiliki riwayat pertandingan internasional tertentu.
Keuntungan lainnya ialah Indonesia berpotensi mengurangi kehilangan talenta keturunan sejak usia muda. Pemain yang tumbuh di akademi Eropa dapat tetap memiliki hubungan hukum dengan Indonesia tanpa harus langsung memilih satu kewarganegaraan.
Situasi tersebut bisa menjadi penting dalam perekrutan pemain muda. PSSI memiliki peluang melakukan pendekatan lebih awal kepada pemain keturunan berpotensi sebelum mereka mencapai level senior.
Namun, kebijakan tersebut juga memiliki sisi negatif. Salah satu risikonya ialah muncul anggapan bahwa Timnas Indonesia terlalu bergantung kepada pemain diaspora dan mengabaikan pembinaan pemain lokal.
Jika tidak diatur dengan baik, kemudahan mendapatkan pemain keturunan bisa membuat federasi memilih jalan pintas. Padahal, pemain diaspora seharusnya menjadi pelengkap pembinaan nasional, bukan pengganti sistem pengembangan pemain muda.
Risiko lain berkaitan dengan persaingan di dalam skuad. Semakin banyak pemain keturunan berkualitas yang tersedia, semakin ketat pula persaingan dengan pemain yang berkembang melalui akademi dan kompetisi domestik.
Di sisi lain, persaingan tersebut bisa memberikan dampak positif. Pemain lokal akan terdorong meningkatkan kualitas karena harus bersaing dengan pemain yang mendapat pendidikan sepak bola dari sistem berbeda.
Kewarganegaraan ganda juga dapat memperkuat daya tawar Indonesia dalam membangun jaringan diaspora. Pemerintah tidak hanya bisa memanfaatkannya untuk sepak bola, tetapi juga teknologi, ilmu pengetahuan, kesehatan, bisnis, seni, dan olahraga lainnya.
Meski demikian, aspek keamanan dan kepentingan negara tetap menjadi tantangan. Pemerintah sebelumnya menegaskan skema tersebut akan dirancang secara selektif dan terukur, termasuk melalui uji integritas.
Indonesia sendiri telah mengenal konsep kewarganegaraan ganda terbatas dalam kondisi tertentu. UU Nomor 12 Tahun 2006 memberikan status tersebut kepada anak dengan kondisi tertentu sebelum mereka diwajibkan memilih kewarganegaraan.
Karena itu, wacana yang disampaikan Prabowo memiliki perbedaan penting. Pemerintah membuka kemungkinan memperluas konsep tersebut kepada talenta tertentu, termasuk pesepak bola profesional.
Bagi Timnas Indonesia, kebijakan ini pada akhirnya bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, Garuda berpotensi mendapatkan akses kepada lebih banyak pemain berkualitas dari diaspora.
Namun, PSSI harus memastikan kebijakan tersebut tidak mengorbankan pembinaan pemain lokal. Keseimbangan antara talenta diaspora dan pemain hasil pembinaan nasional akan menjadi kunci.
Jika dirancang dengan tepat, kewarganegaraan ganda dapat menjadi jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan talenta sepak bola di berbagai negara. Keberhasilannya tentu tidak hanya diukur dari jumlah pemain keturunan yang membela Garuda.
Fondasi utama tetap berada pada kualitas pembinaan, kompetisi domestik, scouting, pengembangan usia muda, serta kemampuan PSSI mengintegrasikan pemain diaspora dan lokal. Dengan begitu, kewarganegaraan ganda menjadi tambahan kekuatan, bukan satu-satunya jalan meningkatkan prestasi Timnas Indonesia.
(igp)
Load more