Bangladesh Siap Rusak Skenario Timnas Indonesia ke Final FIFA ASEAN Cup 2026: Kami di Sini Bukan untuk Berlibur!
- tvonenews.com - Ilham Giovani
Keyakinan Dooley juga muncul setelah melihat perkembangan permainan Bangladesh dalam dua pertandingan sebelumnya. Kekalahan tipis dari Singapura dianggap menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan ketika mereka dihajar Malaysia pada laga pertama.
Perkembangan tersebut ingin diteruskan saat menghadapi Indonesia di SUGBK. Dooley menyadari lawannya memiliki kualitas lebih baik, tetapi kondisi itu tidak membuat Bangladesh menyerah sebelum pertandingan dimulai.
"Kami menghadapi tim yang bagus. Apakah mereka sebagus Bahrain atau tim-tim peringkat 100 besar? Belum tentu. Namun, mereka lebih baik daripada kami saat ini, dan kami masih bisa berkembang," kata pelatih yang pernah malang melintang di sepak bola Asia Tenggara.
"Peningkatan selalu datang ketika Anda berbuat kesalahan lalu memperbaikinya, atau ketika Anda menemukan taktik yang berhasil dan mendatangkan rasa percaya diri," sambungnya.
Selain menuntut semangat bertarung, Dooley ingin Bangladesh lebih berani menguasai dan memainkan bola. Ia tidak ingin anak asuhnya terlalu mudah menggunakan umpan panjang yang justru berpotensi membuat penguasaan bola kembali berpindah kepada lawan.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu aspek yang ingin diperbaiki Bangladesh sebelum menghadapi Indonesia. Dooley ingin para pemainnya memainkan sepak bola dengan bola di kaki ketimbang menghabiskan energi untuk terus mengejar penguasaan lawan.
"Karena secara statistik, 90 persen umpan lambung jarak jauh akan hilang begitu saja. Anda kehilangan bola lalu terpaksa mengejarnya. Saya suka memainkan sepak bola, bukan mengejar bola," ucap Dooley.
"Saat melawan Malaysia, rata-rata pemain kami berlari sejauh 9.500 hingga 10.000 meter. Itu jarak yang sangat jauh. Namun, 8.000 meter di antaranya dihabiskan hanya untuk mengejar bola. Itu bukan permainan yang baik," tutupnya.
(igp/rda)
Load more