Apakah Pertanian Regeneratif Berbasis Teknologi AI Bisa Jadi Masa Depan Pertanian Indonesia?
- Istockphoto
tvOnenews.com - Di tengah ancaman krisis iklim dan degradasi lahan yang kian masif, inovasi pertanian regeneratif berbasis AI mulai menjadi sorotan global.
Dunia pertanian tidak lagi hanya mengandalkan intuisi dan pengalaman turun-temurun, tetapi juga data, algoritma, dan analisis canggih untuk memastikan produktivitas tetap terjaga sekaligus ramah lingkungan.
Sejumlah negara maju telah lebih dulu mengadopsi teknologi ini. Amerika Serikat, misalnya, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menganalisis kondisi tanah dan cuaca secara real-time melalui platform seperti Climate FieldView.
Sementara di Belanda, teknologi AI digunakan untuk mengoptimalkan penggunaan air dan pupuk di lahan terbatas, menjadikannya salah satu negara dengan produktivitas pertanian tertinggi di dunia meski memiliki lahan sempit.
Tren global ini menunjukkan bahwa pertanian masa depan tidak bisa dilepaskan dari teknologi. AI memungkinkan petani memahami kondisi tanah hingga level mikro, bahkan memprediksi hasil panen dan potensi risiko.
Pendekatan ini menjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Indonesia kini mulai mengikuti jejak tersebut melalui berbagai riset berbasis teknologi.
Inovasi AI untuk Pulihkan Tanah dan Tingkatkan Pangan
Melansir dari laman resmi, salah satu inisiatif datang dari kolaborasi global yang melibatkan PepsiCo dan National Geographic Society melalui program Food for Tomorrow, yang mendukung pengembangan pertanian regeneratif di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, proyek LIFE (Land Innovation for Food & Empowerment) yang dipimpin oleh Al Greeny S. Dewayanti menjadi contoh nyata penerapan AI dalam pertanian regeneratif.
Proyek ini berfokus pada pemulihan lahan terdegradasi melalui sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman bernutrisi tinggi yang dikenal sebagai superfood karena kandungan Omega 3, 6, dan 9.
Pendekatan yang digunakan tidak hanya mengandalkan praktik tradisional, tetapi juga teknologi canggih. Sampel tanah dianalisis menggunakan metode metabarcoding DNA untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang hidup di dalamnya.
Data tersebut kemudian diolah melalui aplikasi berbasis AI untuk memberikan rekomendasi praktis kepada petani.
Hasilnya, petani dapat mengetahui kondisi tanah mereka secara lebih akurat. Misalnya, sistem dapat memberikan saran seperti menambahkan kompos untuk meningkatkan bakteri pengikat nitrogen atau menentukan waktu terbaik untuk mulai menanam.
Load more