Literasi Film Indonesia Tertinggal? Kampus Didorong Perbaiki Literasi Film Nasional, Jadi Garda Edukasi Baru
- Gambar ilustrasi AI
tvOnenews.com - Di tengah derasnya arus konten digital, literasi film tidak lagi sekadar kemampuan menikmati karya visual, tetapi juga memahami konteks, nilai, dan batasan usia penonton.
Kampus sebagai pusat intelektual memiliki peran strategis dalam menanamkan kesadaran tersebut. Tidak cukup hanya menjalin kerja sama formal, perguruan tinggi dituntut mengintegrasikan literasi film ke dalam kurikulum, riset, dan pengabdian masyarakat.
Di negara maju, pendekatan ini sudah menjadi standar. Inggris melalui British Board of Film Classification (BBFC) aktif bekerja sama dengan institusi pendidikan untuk mengedukasi publik soal klasifikasi usia.
Sementara di Amerika Serikat, sistem rating oleh Motion Picture Association (MPA) tidak hanya berlaku di industri, tetapi juga menjadi materi pembelajaran di sekolah dan universitas.
Data menunjukkan, lebih dari 70 persen orang tua di negara-negara tersebut mempertimbangkan rating usia sebelum memilih tontonan, jauh di atas rata-rata di banyak negara berkembang.
Indonesia masih menghadapi tantangan serupa. Survei nasional menunjukkan hanya sekitar 46 persen masyarakat yang memperhatikan klasifikasi usia dalam memilih tontonan.
Di sinilah peran kampus menjadi krusial: bukan hanya sebagai penghasil lulusan, tetapi juga agen perubahan budaya menonton yang lebih bertanggung jawab.
Melansir dari laman resmi, langkah konkret terlihat dari kolaborasi antara Universitas Mercu Buana dan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) yang memperbarui Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta, Senin (27/4). Kerja sama ini menegaskan bahwa literasi film dan klasifikasi usia penonton menjadi bagian dari tanggung jawab akademik, bukan sekadar formalitas kelembagaan.
Rektor UMB, Andi Adriansyah, menegaskan bahwa kolaborasi ini berlandaskan Tridharma Perguruan Tinggi. Dalam bidang pengajaran, literasi film akan diintegrasikan ke dalam kurikulum, khususnya di Program Studi Ilmu Komunikasi.
“Kami mewajibkan seluruh dosen melaksanakan penelitian dengan tema-tema yang berhubungan dengan lembaga mitra, dan hasilnya harus dipublikasikan serta diseminasikan kepada masyarakat,” ujarnya.
Pendekatan ini mencerminkan praktik di negara maju, di mana literasi media menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi. Mahasiswa tidak hanya diajarkan teori komunikasi, tetapi juga bagaimana memahami dampak konten visual terhadap masyarakat.
Load more