Strategi Pemberdayaan Perempuan Bangun Ekonomi Keluarga Lewat UMKM dan Ekonomi Syariah
- Antara
tvOnenews.com - Pemberdayaan perempuan kini menjadi salah satu kunci penting dalam memperkuat ekonomi nasional.
Di Indonesia, jutaan perempuan, terutama ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, masih menghadapi tantangan besar seperti keterbatasan akses modal, pelatihan usaha, hingga literasi digital.
Padahal, ketika perempuan memiliki akses ekonomi yang lebih baik, dampaknya tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga komunitas hingga pertumbuhan ekonomi negara secara keseluruhan.
Data Bank Dunia menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam sektor ekonomi mampu mendorong produktivitas dan menekan angka kemiskinan.
Sementara laporan UN Women menyebutkan bahwa perempuan cenderung mengalokasikan pendapatannya untuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan keluarga.
Artinya, investasi terhadap perempuan memiliki efek berantai yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat.
Berbagai negara maju telah membuktikan keberhasilan program pemberdayaan perempuan berbasis pelatihan dan akses pembiayaan.
Di Bangladesh misalnya, model pembiayaan mikro Grameen Bank berhasil membantu jutaan perempuan membangun usaha kecil mandiri.
Sementara di Korea Selatan dan Jepang, pemerintah aktif memberikan pelatihan digital serta dukungan kewirausahaan bagi perempuan agar mampu bersaing di era ekonomi modern.
Konsep serupa kini mulai diperkuat di Indonesia melalui berbagai program pemberdayaan berbasis komunitas dan ekonomi syariah.
Pemberdayaan Perempuan Jadi Fokus Penguatan Ekonomi Syariah
Melansir dari Antara, upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi perempuan di Indonesia kembali diperkuat melalui kolaborasi antara Permodalan Nasional Madani dan Masyarakat Ekonomi Syariah.
Keduanya meluncurkan program Mba Maya atau “Membina dan Memberdaya”, yang difokuskan untuk mendukung perempuan prasejahtera, khususnya pelaku usaha mikro.
Program ini dirancang untuk memperkuat kapasitas usaha perempuan melalui pendekatan ekonomi syariah, mulai dari pelatihan usaha, pendampingan, hingga penguatan literasi ekonomi berbasis nilai-nilai syariah.
Pendekatan tersebut dinilai relevan karena mayoritas pelaku usaha ultra mikro di Indonesia berasal dari sektor informal dan banyak dijalankan oleh perempuan.
Menteri Koperasi RI Ferry Juliantono yang juga menjabat Ketua Harian Pengurus Pusat MES menyebut program tersebut sejalan dengan agenda pembangunan pemerintah yang menekankan pemerataan ekonomi dari desa dan kelompok masyarakat bawah.
Menurutnya, pemberdayaan perempuan menjadi salah satu strategi penting dalam mengurangi kesenjangan ekonomi dan memperluas kesempatan usaha di berbagai daerah.
Ia juga menilai kolaborasi lintas lembaga menjadi faktor penting agar program pemberdayaan tidak berhenti pada bantuan modal semata, tetapi juga menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
Selain akses pembiayaan, aspek peningkatan kapasitas usaha juga menjadi perhatian utama, dengan terus mendorong penguatan ekosistem usaha perempuan melalui pendekatan syariah.
"Kami berkomitmen untuk terus mendorong pemberdayaan perempuan, terutama melalui ekosistem syariah. Ini adalah langkah nyata untuk mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan di Indonesia,” ujar Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi.
Saat ini, sebagian besar pembiayaan yang disalurkan perusahaan disebut telah berbasis syariah. Tidak hanya itu, ribuan pelaku usaha binaan juga telah difasilitasi untuk memperoleh sertifikasi halal.
Langkah tersebut dinilai penting karena produk halal kini memiliki potensi pasar yang terus berkembang, baik di dalam negeri maupun global.
Berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy, industri halal dunia terus mengalami pertumbuhan setiap tahun, mencakup sektor makanan, fesyen muslim, kosmetik, hingga pariwisata.
Indonesia sendiri disebut memiliki peluang besar menjadi pusat ekonomi syariah global karena jumlah populasi muslim yang besar dan tingginya pertumbuhan UMKM.
Bagi perempuan pelaku usaha mikro, sertifikasi halal dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus memperluas akses pasar. Terlebih di era digital saat ini, banyak UMKM mulai memasarkan produknya melalui platform daring yang membutuhkan standar kualitas dan legalitas lebih baik.
Pengamat ekonomi menilai bahwa keberhasilan program pemberdayaan perempuan sangat bergantung pada keberlanjutan pendampingan. Banyak program bantuan usaha gagal berkembang karena pelaku usaha hanya mendapatkan modal tanpa edukasi pengelolaan bisnis.
Karena itu, model pendampingan berkelanjutan dinilai lebih efektif, terutama bagi perempuan prasejahtera yang baru memulai usaha. Pendampingan dapat mencakup pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pengembangan produk, hingga membangun jaringan usaha.
Program Mba Maya sendiri diikuti lebih dari 30 ribu peserta secara hybrid, baik daring maupun luring. Kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai pihak, termasuk lembaga pembiayaan syariah dan tokoh ekonomi syariah nasional.
Kolaborasi antara lembaga keuangan, organisasi masyarakat, hingga pemerintah dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas dampak pemberdayaan perempuan di Indonesia.
Dengan dukungan yang tepat, perempuan tidak hanya menjadi pelaku usaha mandiri, tetapi juga motor penggerak ekonomi keluarga dan daerah.
Di tengah tantangan ekonomi global, penguatan UMKM perempuan berbasis ekonomi syariah dapat menjadi salah satu strategi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Load more