Boom Spending dan Pinjol Makin Mengkhawatirkan, Gen Z Diminta Waspada Sebelum Terjebak Utang Konsumtif
- Gambar ilustrasi AI
Pola pikir tersebut dikenal dalam berbagai kajian perilaku konsumen sebagai bentuk present bias, yakni kecenderungan lebih mengutamakan kepuasan saat ini dibandingkan manfaat jangka panjang.
Psikolog menjelaskan bahwa aktivitas belanja memang dapat memicu pelepasan hormon dopamin yang menimbulkan rasa senang sesaat.
Namun efek tersebut biasanya hanya berlangsung sementara. Setelahnya, rasa bersalah dan tekanan akibat pengeluaran yang membengkak justru dapat memicu siklus belanja impulsif berikutnya.
Kondisi inilah yang kemudian diperparah ketika akses terhadap pinjaman online menjadi semakin mudah.
Pinjaman Online Mempermudah Konsumsi, tetapi Menyimpan Risiko
Fenomena boom spending menjadi semakin kompleks karena didukung berbagai layanan keuangan digital, termasuk pinjaman online.
Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Barat, **Bayu Rakhmana**, mengatakan kemudahan pembayaran digital sering kali membuat masyarakat sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
"Sehingga digital payment dapat menjadi masalah kalau tidak diatur dengan bijak. Sekarang kapan pun bisa belanja online, bahkan malam sekalipun. Tidak ada uang tinggal pinjol," ujarnya melansir dari Jabarprov, Jumat (12/6/2026).
Menurut Bayu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan menjadi sangat penting agar generasi muda tidak mudah tergoda menggunakan pinjaman online hanya untuk memenuhi gaya hidup konsumtif.
"Jangan mudah tergiur pinjol dan apalagi judi online," tegasnya.
Pandangan senada disampaikan Rektor Universitas Islam Bandung, **Prof. A. Harits Nu'man**. Ia menilai perkembangan digital membawa banyak kemudahan, tetapi juga dapat menjadi bumerang apabila tidak dibarengi literasi keuangan yang memadai.
"Tinggal pencet beli online, timeless 24 jam bisa dilakukan. Sehingga kami wajib memberikan wawasan agar bijak dalam menggunakan aplikasi dan tidak terjerat hutang pinjaman online. Bukan sekadar FOMO, tapi perkuat literasi keuangan digital agar tidak terjebak."
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai negara maju. Di Amerika Serikat, penggunaan layanan Buy Now, Pay Later meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kalangan usia 18–34 tahun.
Para ekonom mengingatkan bahwa kemudahan pembayaran cicilan dapat mendorong perilaku konsumtif apabila tidak disertai kemampuan mengelola keuangan secara sehat.
OJK: Literasi Keuangan Menjadi Kunci Menghindari Jerat Pinjol
Load more