Kunjungi Sidoarjo, UNDP-AIS Forum Buktikan Potensi Rumput Laut Bagi Pertumbuhan Ekonomi
- Istimewa
Sidoarjo, tvOnenews.com - Delegasi tingkat tinggi dari Pemerintah Indonesia dan United Nations Development Programme (UNDP) mengunjungi Sidoarjo pada 17-18 September 2026 untuk melihat bagaimana rumput laut dapat membantu membuka potensi ekonomi biru Indonesia yang lebih luas, memperkuat mata pencaharian masyarakat pesisir, menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global yang terus berkembang.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas di bawah Archipelagic and Island States (AIS) Forum, sebuah inisiatif Pemerintah Indonesia didukung dan difasilitasi oleh UNDP untuk menunjukkan solusi praktis bagi pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan.
Ketua Koperasi Agar Makmur Sentosa, Hery Sudarmono menjelaskan peran koperasi dalam pengelolaan pascapanen dan pemasaran rumput laut.
"Rumput laut merupakan salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk membuka potensi ekonomi birunya secara lebih luas. Indonesia termasuk salah satu produsen rumput laut tropis terbesar di dunia, termasuk Gracilaria dan tetap menjadi eksportir utama dunia dengan menyumbang sekitar 69 persen ekspor rumput laut global pada 2025," katanya, Kamis (24/9/2026).
Ia menjelaskan peningkatan produktivitas, pengolahan, teknologi, dan akses pasar, disertai peningkatan investasi di sepanjang rantai nilai, dapat memungkinkan Indonesia memperoleh nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, dan meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir.
Kepala Perwakilan UNDP Indonesia, Sara Ferrer Olivella mengatakan pendekatan ini menghubungkan berbagai upaya perbaikan di sepanjang rantai nilai, yaitu tahapan-tahapan yang dilalui rumput laut dari lokasi budidaya hingga sampai ke konsumen, mulai dari budidaya dan panen hingga pengolahan, penjualan, dan pemasaran.
Upaya tersebut mencakup rehabilitasi tambak dan perbaikan pengelolaan air, sekaligus memperkuat fasilitas pascapanen, penyediaan peralatan bersama, pengelolaan koperasi, dan keterampilan petani.
“Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin global dalam industri rumput laut, bukan hanya karena besarnya sumber daya kelautan yang dimiliki, tetapi juga karena masyarakat, pengetahuan, dan inovasi yang dapat mengubah sumber daya tersebut menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan,” kata Sara.
“Peluangnya adalah beralih dari pemimpin dalam volume menjadi pemimpin dalam nilai, dengan memobilisasi investasi dan inovasi untuk menciptakan produk bernilai lebih tinggi, pekerjaan yang lebih baik, dan pendapatan yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi biru global. Apa yang kita lihat di Sidoarjo merupakan salah satu contoh praktis bagaimana potensi tersebut dapat diwujudkan," sambungnya.
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Arif Havas mengatakan Sidoarjo mencerminkan besarnya potensi Indonesia untuk membangun ekonomi biru yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kekayaan sumber daya kelautan dan produksi rumput laut yang telah berkembang, Indonesia berada pada posisi yang baik untuk membuka nilai ekonomi dan sosial yang lebih besar dari sektor ini.
“Bagi Indonesia, laut bukan hanya sumber peluang ekonomi, tetapi juga bagian penting dari identitas, ketahanan pangan, dan mata pencaharian jutaan orang,” ujar Arif Havas Oegroseno.
“Karena itu, ekonomi biru kita harus menemukan keseimbangan yang tepat antara pembangunan dan perlindungan ekosistem laut yang menjadi tumpuan masyarakat. Sidoarjo menunjukkan bagaimana inovasi praktis dan kemitraan yang kuat dapat membantu mewujudkan ambisi tersebut menjadi tindakan nyata, sekaligus membuka peluang untuk berbagi pengalaman Indonesia dengan negara-negara kepulauan dan pulau lainnya," sambungnya.(raa)
Load more