MBG Dikhawatirkan Sebabkan Inflasi di Bali
- Antara
tvOnenews.com - Permintaan tinggi untuk kebutuhan program makan bergizi gratis (MBG) di Pulau Dewata. dikhawatirkan akan menyebabkan inflasi akibat permintaan tinggi.
“Pada 2026 perlu menjadi perhatian dampak inflasi dengan adanya kenaikan jumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang akan beroperasi,” kata Kepala Perwakilan BI Bali Erwin Soeriadimadja di Denpasar, Rabu.
Menurut dia, selama 2025 jumlah SPPG yang beroperasi di Bali mencapai 173 unit dan pada 2026 diperkirakan meningkat menjadi 355 unit.
Erwin yang juga Wakil Ketua Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bali itu mengatakan bahwa komoditas yang berpotensi menyumbang inflasi karena banyak dibutuhkan untuk MBG yaitu wortel, jeruk, dan telur ayam ras.
Sedangkan lima komoditas pangan teratas penyumbang inflasi pada 2025 yaitu cabai rawit, bawang merah, beras, daging ayam dan cabai merah.
Untuk mengantisipasi potensi inflasi itu, TPID Bali dan kabupaten/kota berencana akan mengadakan total 317 kali pasar murah yang dipaparkan di sela rapat koordinasi TPID Bali.
Ia menekankan pasar murah itu agar sesuai dengan target 3T yakni tepat waktu, sasaran dan kualitas.
Erwin menambahkan pelaksanaan pasar murah itu masih data sementara dan berpeluang bertambah lebih banyak.
Selain menyiapkan pasar murah, ia menekankan perlu konsistensi masa tanam dan musim puncak pemenuhan kebutuhan, serta mempertimbangkan cuaca, rantai pasok dan permintaan pangan untuk MBG.
Selama 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Bali mencatat inflasi mencapai 2,91 persen.
Sedangkan pada Januari 2026, inflasi di Pulau Dewata mencapai 2,58 persen.
“Target inflasi kami untuk 2026 berada pada target 2,5 persen, plus dan minus satu persen,” ujar dia.
Berdasarkan data historis, ada 10 komoditas pangan di Bali yang banyak dibutuhkan yaitu cabai rawit, bawang merah, beras, daging ayam, cabai merah, wortel, pepaya, jeruk, tongkol, telur ayam ras.
“Itu komoditas yang bisa menjadi fokus dalam upaya mengendalikan inflasi 2026. Selain karena cuaca, juga faktor meningkatnya jumlah SPPG,” katanya menambahkan.(chm)
Load more