Jangan Karena Politik, Sejarah Pembangunan NTT Dihapus
- Antara
"Inilah makna Indonesia-sentris: negara hadir bukan hanya di pusat-pusat pertumbuhan, tetapi juga di wilayah perbatasan, kepulauan, dan pelosok yang selama ini menghadapi keterisolasian. Sehingga bagi sebagian masyarakat NTT, Bapak Jokowi bukan sekadar mantan Presiden. Beliau adalah sosok yang meninggalkan cerita, kebijakan, dan pembangunan yang masih dirasakan hingga hari ini,” jelasnya.
Junaidin mengatakan, kunjungan Jokowi ke NTT bukan hanya dipandang sebagai agenda politik, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat berbagai kebijakan yang pernah dijalankan pemerintah pusat di wilayah tersebut. Dia menambahkan, kedatangan Jokowi kembali ke NTT akan membangkitkan memori masyarakat terhadap berbagai pembangunan yang telah dilakukan.
"Karena itu, ketika Bapak Jokowi datang kembali ke NTT, yang muncul bukan hanya nostalgia, tetapi juga memori kolektif masyarakat NTT tentang apa yang pernah dikerjakan dan apa yang masih menjadi legacy beliau,” ungkapnya.
Junaidin menegaskan, pihaknya tidak bermaksud mengkultuskan tokoh tertentu, melainkan mengingat rekam jejak pembangunan yang menurutnya masih dirasakan hingga sekarang. Menurutnya, hubungan emosional antara Jokowi dan masyarakat NTT terbentuk melalui perhatian dan kebijakan yang dirasakan langsung oleh masyarakat selama masa pemerintahannya.
"Bagi banyak masyarakat NTT, Pak Jokowi telah meninggalkan jejak. Dan jejak itu masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan, dan masih menjadi bagian dari cerita pembangunan NTT. Maka ketika Pak Jokowi kembali datang ke NTT, jangan heran kalau masyarakat menyambut dengan hangat. Karena hubungan emosional antara Pak Jokowi dan masyarakat NTT tidak lahir kemarin sore. Hubungan itu dibangun melalui proses cukup lama, melalui perhatian, dan melalui kebijakan yang dirasakan masyarakat,” tutupnya.(chm)
Load more