Ancaman Ruang Digital Mengintai, Komdigi Dorong “Seni Menunda Layar” dan Penguatan PP Tunas
- Istimewa
tvOnenews.com - Lonjakan penggunaan internet di kalangan anak dan remaja mendorong pemerintah memperkuat langkah perlindungan di ruang digital. Melalui kegiatan di Pondok Pesantren Rubath Nurul Musthofa, Cilodong, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan urgensi penerapan seni menunda layar serta implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP Tunas).
Data terbaru menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia telah menembus lebih dari 230 juta orang pada 2026, menandakan hampir seluruh populasi telah terhubung ke ruang digital. Namun, di balik tingginya penetrasi tersebut, kualitas penggunaan masih menjadi tantangan, termasuk kecepatan internet yang belum merata.
Generasi Z tetap menjadi kelompok dominan dalam ekosistem ini, sementara Komdigi mencatat tingkat adiksi gim pada pelajar SMA berada di kisaran 30–33 persen. Kondisi ini menempatkan anak sebagai kelompok paling aktif sekaligus paling rentan terhadap paparan negatif di ruang digital.
Direktur Komunikasi Publik Komdigi, Nunik Purwanti, menegaskan bahwa PP Tunas merupakan langkah strategis negara dalam menciptakan ruang digital yang aman bagi anak, namun tetap membutuhkan peran keluarga sebagai garda terdepan.
“Negara tidak bisa mengawasi penggunaan gawai anak setiap saat. Perlindungan utama tetap ada pada orang tua melalui komunikasi, pendampingan dan kasih sayang,” tegasnya pada Minggu (26/4).
Tenaga Ahli Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media, Latief Siregar, menambahkan bahwa regulasi ini tidak menyasar anak secara langsung, melainkan mendorong tanggung jawab platform digital.
“Fokusnya adalah pada platform digital agar menyediakan ruang yang aman bagi anak, termasuk dalam pengelolaan algoritma dan sistem interaksi,” jelasnya.
Dosen Psikologi Universitas Jayabaya, Irma Bayani, menekankan pentingnya kesiapan mental anak dalam penggunaan teknologi melalui pendekatan seni menunda layar.
“Teknologi tidak perlu dijauhi, tetapi perlu ada seni menunda layar. Anak sebaiknya tidak diberikan akses penuh sebelum usia matang secara kognitif. Peran keluarga menjadi kunci untuk menggantikan paparan layar dengan interaksi yang hangat,” ujarnya.
Dalam tausyiahnya, ustadz menyampaikan bahwa pembentukan karakter anak tidak hanya bergantung pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kekuatan nilai dan akhlak. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara perkembangan zaman dan pembinaan moral agar generasi muda tetap memiliki arah dan tujuan hidup yang kuat.
Ketua Yayasan Pesantren, Prof. Alhadi Bustaman, menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pesantren menjadi langkah penting dalam menghadapi disrupsi digital.
“Teknologi harus diimbangi dengan nilai kemanusiaan dan karakter. Ini penting agar anak tetap memiliki kontrol diri di tengah arus digital,” ujarnya.
Selain penguatan literasi digital melalui PP Tunas, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya dukungan aspek lain seperti ketahanan fisik dan kognitif anak. Melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pemerintah mendorong pemenuhan gizi sebagai fondasi penting dalam membentuk daya pikir anak agar lebih tangguh menghadapi pengaruh negatif di ruang digital.
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Komdigi dalam memperkuat implementasi PP Tunas melalui pendekatan berbasis komunitas. Kolaborasi antara pemerintah, keluarga, dan institusi pendidikan diharapkan mampu menciptakan ekosistem digital yang lebih aman sekaligus membentuk karakter anak yang tangguh di era disrupsi.
Upaya ini sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas Indonesia 2045, di mana kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan kekuatan karakter dan akhlak.(chm)
Load more