Kontes Batu Tembak Warnai Malam Satu Suro di Surabaya, Ratusan Pecinta Batu Akik Ikut Berpartisipasi
- tim tvOne
Surabaya, tvOnenews.com – Suasana khas dengan nuansa budaya Jawa mewarnai kawasan Surabaya Utara pada peringatan Malam Satu Suro, Minggu (15/6/2026). Ratusan pecinta batu akik dari berbagai daerah berkumpul mengikuti kontes batu tembak yang digelar dalam rangka memperingati malam tersebut.
Dalam kegiatan itu, sejumlah peserta membawa batu koleksi yang diyakini memiliki nilai sejarah, budaya, maupun makna tersendiri bagi pemiliknya. Batu-batu tersebut kemudian diuji ketahanannya melalui mekanisme yang telah ditetapkan panitia, yakni ditembak dari jarak dekat. Batu yang tetap utuh setelah pengujian dinyatakan lolos.
Kegiatan yang digelar Persatuan Batu Nusantara ini diikuti antusias oleh para penggemar batu alam. Sebelum proses pengujian dimulai, setiap batu yang didaftarkan dibalut kain putih, lalu dimasukkan ke dalam gelas berisi air agar lebih mudah dibidik. Penembakan dilakukan menggunakan bantuan cahaya laser dan direkam kamera untuk mendokumentasikan jalannya proses.
“Kontes ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati Malam Satu Suro. Tujuannya bukan sekadar adu kesaktian semata, tapi lebih ke menjalin persaudaraan. Namun sesuai kesepakatan, setiap batu akan diuji dengan cara ditembak. Yang tidak pecah, itulah yang memenangkan pertandingan,” ujar Gus Sunyoto, Ketua Persatuan Batu Nusantara.
Selama proses berlangsung, batu-batu peserta diuji satu per satu oleh penembak yang ditunjuk panitia. Kondisi batu dan gelas setelah pengujian menjadi bagian dari penilaian yang dilakukan penyelenggara.
Salah satu yang menarik perhatian terjadi saat pengujian nomor 254. Batu milik Haji Toyah asal Kepulauan Telango, Sumenep, Madura, dinyatakan tetap utuh setelah proses pengujian. Gelas yang digunakan sebagai media penempatan batu juga hanya mengalami goresan tipis.
“Setiap batu yang lolos akan dinilai berdasarkan besar kecilnya goresan bekas tembakannya. Alhamdulillah, batu saya malam ini bisa menjaga keutuhannya. Bagi saya ini bukan soal menang kalah semata, tapi bukti kepercayaan dan warisan yang kami jaga,” ungkap Haji Toyah.
Tak kalah antusias, hadir pula Sutiono, Ketua Maisoh Komunitas Pecinta Batu Akik asal Sumenep, Madura. Ia datang bersama 10 orang perwakilan dan membawa sekitar 200 batu koleksi. Menurutnya, koleksi tersebut berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun dari luar negeri, termasuk Australia dan Kolombia.
“Batu akik bagi kami bukan sekadar hobi, melainkan warisan budaya Nusantara yang sangat berharga. Lebih dari itu, ajang seperti ini menjadi sarana silaturahmi yang ampuh mempersatukan anak bangsa dari berbagai daerah,” tegasnya.
Dalam kontes tersebut, peserta dikenakan biaya pendaftaran sebesar Rp50 ribu untuk setiap batu yang didaftarkan. Panitia juga menyiapkan hadiah bagi para pemenang sesuai ketentuan yang telah ditetapkan penyelenggara.
Penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus berlangsung sebagai wadah silaturahmi antarkomunitas sekaligus menjadi bagian dari upaya melestarikan tradisi dan budaya yang berkembang di kalangan pecinta batu alam di Indonesia. (gol)
Load more