Jasad Korban Pendaki Gunung Piramid Bondowoso Dimakamkan di Babat Lamongan
- tim tvone - mahrus
Lamongan, tvOnenews.com - Suasana haru menyelimuti rumah duka di Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Kamis (6/8). Sejak pagi, ratusan pelayat memadati kediaman almarhumah Hj Maliya Finda untuk memberikan penghormatan terakhir kepada pendaki yang dikenal ramah dan memiliki semangat tinggi menjelajahi alam.
Kecintaan almarhum Hj. Maliya Finda (51) terhadap alam dan pegunungan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, pendakian terakhirnya di Gunung Piramid, Bondowoso, justru menjadi perjalanan yang mengantarkannya kembali ke pangkuan Sang Pencipta.
Jenazah Maliya tiba di rumah duka sekitar pukul 07.00 WIB setelah dievakuasi dari Gunung Piramid. Tangis keluarga dan kerabat pecah saat prosesi salat jenazah dan tahlil berlangsung. Duka mendalam begitu terasa mengiringi kepergian perempuan yang selama bertahun-tahun telah menaklukkan puluhan gunung di berbagai daerah.
Usai disalatkan, jenazah diberangkatkan menuju pemakaman keluarga di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat. Iring-iringan pelayat mengantar almarhumah ke peristirahatan terakhir dalam suasana penuh doa dan isak tangis.
Di balik kegemarannya mendaki, tersimpan kisah haru yang kini menjadi kenangan terakhir bagi keluarga. Paman almarhumah, Naim Mahzumi, menceritakan bahwa Maliya merupakan sosok yang sangat mencintai alam. Selain mendaki gunung, ia juga gemar bersepeda dan telah menjelajahi banyak puncak di Indonesia.
"Almarhumah memang sangat mencintai alam. Dulu setiap hendak mendaki selalu meminta izin kepada ibunya. Namun setiap kali diminta izin, ibunya selalu menangis seolah berat melepas kepergiannya. Karena itu, beberapa pendakian berikutnya dilakukan tanpa memberi tahu ibunya," tutur Naim. Kamis (6/26).
Takdir rupanya telah menuliskan cerita berbeda pada pendakian kali ini. Sebelum berangkat menuju Gunung Piramid, Maliya sempat menemui ibu yang sedang berada di Bali untuk meminta izin dan restu.
"Ternyata itu menjadi izin dan restu yang terakhir," ucap Naim dengan suara bergetar.
Perjalanan terakhir Maliya dimulai pada Minggu (2/8). Ia mendaki Gunung Piramid bersama seorang pemandu lokal asal Bondowoso. Namun hingga Selasa (4/8) pagi, keduanya tidak kunjung turun dari jalur pendakian dan dinyatakan hilang.
Kabar hilangnya Maliya pertama kali diterima keluarga melalui komunitas pendaki. Tim SAR gabungan kemudian melakukan pencarian, meski sempat terkendala cuaca buruk yang menyulitkan proses evakuasi di kawasan pegunungan.
Setelah pencarian intensif, pada Rabu (5/8), Tim SAR akhirnya menemukan Maliya Finda dalam kondisi meninggal dunia. Kepergiannya menyisakan duka mendalam, bukan hanya bagi keluarga, tetapi juga sahabat dan komunitas pecinta alam yang mengenalnya sebagai sosok sederhana, tangguh, dan selalu membawa semangat dalam setiap perjalanan.
Sementara, Kasihumas Polres Lamongan IPDA M. Hamzaid, membenarkan bahwa Polres Lamongan melalui Polsek Babat memberikan pelayanan kepolisian berupa pengamanan selama proses pemakaman berlangsung.
"Kami membenarkan bahwa personel Polsek Babat melaksanakan pengamanan dan membantu kelancaran prosesi pemakaman almarhum MF sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Kehadiran anggota Polri diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib," ujarnya.
Kasihumas juga menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas musibah tersebut.
"Atas nama keluarga besar Polres Lamongan, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya almarhumah. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, serta keikhlasan dalam menghadapi cobaan ini," ucapnya. (mmr/hen)
Load more