BI Jatim Lepas Program Jelajah UMKM dan Pesantren, Angkat Kisah Kemandirian Pondok Pesantren Annuqayah
- tim tvOne
Surabaya, tvOnenews.com - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur resmi melepas program "Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren" melalui prosesi flag off di De Javasche Bank Surabaya pada 30 Juli 2026. Program ini menggandeng media nasional untuk mengangkat kisah sukses UMKM dan pesantren dalam membangun kemandirian ekonomi.
Tiga lokasi menjadi tujuan program tersebut, yakni Desa Wisata Ketapanrame di Mojokerto, UMKM beras organik Sirtanio di Banyuwangi, serta Pondok Pesantren Annuqayah di Kabupaten Sumenep.
Prosesi pelepasan diawali dengan talkshow dan presentasi dari pelaku usaha serta perwakilan pesantren. Kegiatan ini menjadi titik awal perjalanan tim liputan untuk menelusuri proses di balik keberhasilan dan kemandirian ekonomi yang dibangun di masing-masing daerah.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan, ada tiga kata kunci penting dalam membangun usaha hingga mampu berkembang secara berkelanjutan, yaitu konsistensi, inovasi, dan sinergi.
“Dan tentu saja inovasi ini ketika kita konsisten dengan upaya, ditambahkan dengan inovasi yang terus berkembang, maka kita perlu fondasi yang ketiga, yaitu adanya sinergitas. Sinergi menunjukkan bahwa kemajuan siapapun tidak bisa berdiri sendiri,” ujar Ibrahim.
Salah satu tujuan perjalanan tersebut adalah Pondok Pesantren Annuqayah di Kecamatan Guluk-Guluk, Sumenep. Pesantren yang berdiri sejak 1887 ini dipilih karena memiliki sejarah panjang dalam membangun kemandirian sekaligus kedekatan dengan masyarakat.
Didirikan oleh KH Muhammad Syarqawi, Annuqayah sejak awal menanamkan prinsip agar pesantren mampu berdiri di atas kaki sendiri. Nilai tersebut kemudian berkembang tidak hanya dalam bidang pendidikan dan dakwah, tetapi juga melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan berbagai unit usaha produktif.
Saat ini, Annuqayah mengelola sedikitnya 13 unit usaha, mulai dari perdagangan ritel, jasa keuangan syariah, air minum dalam kemasan, percetakan, hingga sektor agrobisnis. Keseluruhan unit usaha tersebut disebut memiliki total omzet sekitar Rp30miliar per tahun.
Anggota Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, KH Moh. Naqib Hasan, mengatakan, pengembangan usaha menjadi bagian dari upaya pesantren untuk tidak bergantung sepenuhnya pada pemasukan dari santri dan wali santri.
“Karena memang kita tidak bisa mengandalkan pemasukan dari santri, dari wali santri, maka bagaimanapun kita harus beralih kepada kemandirian ekonomi.” ujar Naqib.
Kemandirian ekonomi Annuqayah juga memiliki dampak yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Berbagai unit usaha pesantren membuka lapangan pekerjaan, menyerap produk masyarakat, sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di lingkungan pesantren dan Kabupaten Sumenep.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, menilai, keberadaan pesantren memiliki potensi besar dalam mendukung perekonomian daerah, mengingat ekosistem pesantren melibatkan santri, wali santri, tenaga pendidik, hingga berbagai unit usaha.
“Pada saat beberapa hal ini menjadi bagian dari satu kesatuan, maka tidak akan ada sebuah persoalan pada saat perekonomian dikembangkan di pondok pesantren,” ujar Achmad Fauzi.
Melalui program Jelajah UMKM dan Pondok Pesantren, BI Jatim ingin membawa kisah-kisah tersebut ke panggung yang lebih luas. Annuqayah menjadi salah satu contoh bagaimana nilai pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan kemandirian ekonomi dapat tumbuh dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. (far)
Load more