Antrean Ketapang-Gilimanuk Capai Belasan Kilometer, Gapasdap Ungkap Kendala Dermaga
- tvOne - happy oktavia
Banyuwangi, tvOnenews.com – Antrean kendaraan yang masih terjadi di lintas Ketapang, Banyuwangi, dan Gilimanuk, Bali, hingga kini belum terurai. Ketersediaan kapal yang cukup banyak belum diimbangi dengan kapasitas dan kemampuan dermaga yang memadai.
Ketua DPC Gapasdap Banyuwangi, Nurjatim, menjelaskan bahwa jumlah armada yang tersedia sebenarnya sudah mencukupi. Namun, pengoperasiannya masih terkendala fasilitas kepelabuhanan. Dari 58 kapal yang tersedia, hanya 28 kapal yang dapat dioperasikan dengan dukungan tujuh dermaga. Dalam pola pelayanan tersebut, setiap dermaga mendukung pengoperasian empat kapal.
“Saat ini sedang ada perbaikan dermaga MB II Gilimanuk sehingga cuma 23 kapal saja yang bisa beroperasi atau 40%nya saja dari jumlah kapal yang banyak itu,” ujar Nurjatim kepada wartawan, Senin (28/9/2026).
Menurut Nurjatim, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penumpukan kendaraan tidak dapat semata-mata dilihat sebagai persoalan kekurangan kapal. Penambahan dermaga diperlukan untuk membuka kesempatan operasi bagi armada yang sudah tersedia.
Gapasdap Banyuwangi juga menyoroti daya dukung dermaga terhadap kendaraan yang naik maupun turun dari kapal. Nurjatim membenarkan bahwa kebutuhan fasilitas yang mampu dilalui truk berbobot sekitar 30–50 ton belum dapat dipenuhi oleh seluruh dermaga yang ada saat ini.
Menurutnya, kebutuhan tersebut bukan hanya terkait tempat sandar, tetapi juga peningkatan kapasitas pelayanan yang mencakup kemampuan fasilitas bongkar muat.
Perawatan fasilitas sandar, termasuk dermaga plengsengan dan dolphin, juga menjadi perhatian. Nurjatim menekankan bahwa fasilitas tersebut harus terpelihara dan memiliki kekuatan yang sesuai dengan kapal yang dilayani.
Sebab, saat ini sudah ada kapal berukuran 2.000–3.000 GT yang membutuhkan dukungan fasilitas pelabuhan yang memadai.
“Kalau meminta kapal diperbesar, dermaganya juga harus diperkuat. Jangan dermaganya tetap seperti itu, sementara kapal yang harus dilayani semakin besar,” tegasnya.
Nurjatim meminta agar evaluasi terhadap persoalan penyeberangan dilakukan secara menyeluruh dan objektif. Menurutnya, penilaian tidak seharusnya hanya diarahkan kepada kapal atau perusahaan pelayaran, tetapi juga terhadap kesiapan pelabuhan yang menentukan kelancaran pengoperasian armada.
“Kapal yang tersedia bisa dimanfaatkan secara maksimal agar antrean kendaraan segera terurai. Dan perputaran ekonomi bisa lancar,” pungkas Nurjatim. (hoa/gol)
Load more