Doa Bersama di Hari Santri 2026, untuk Keselamatan Bangsa dan Bencana Karhutla Segera Berakhir
- tim tvone - sandi irwanto
Surabaya, tvOnenews.com - Semangat santri untuk membangun negeri harus terus terjaga. Santri dinilai sebagai perekat terkuat bangsa yang memiliki sikap toleran, semangat juang, serta keikhlasan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara. Dalam kesempatan upacara Hari Santri yang digelar Kementerian Agama Surabaya ini, juga dibacakan doa bersama untuk keselamatan bangsa dari bencana, termasuk bahaya kebakaran hutan dan lahan segera berakhir.
Ratusan pegawai Kementerian Agama Kota Surabaya dan siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri menggelar upacara memperingati Hari Santri nasional 2026. Upacara bendera yang dihelat di lapangan MAN Siravatan ini dipimpin oleh Kepala Kementerian Agama Surabaya, Muhammad Muslim.
Dalam sambutannya, dia menegaskan bahwa sebagai kota Pahlawan, santri-santri di Surabaya harus bangkit lebih awal untuk menunjukkan kepada dunia , bahwa santri Surabaya siap menjadi pelopor masa depan.
"Tema santri ini terus bersemangat untuk membangun negeri. Saya meyakini bahwa santrilah yang sebenarnya menjadi perekat terkuat di negeri yang kita cintai ini. Walaupun berbeda-beda tapi santri ini memiliki sikap toleran, memiliki semangat yang kuat, keikhlasan dalam berjuang dan mengabdi kepada bangsa dan negara," ungkap Muslim.
Ia berharap, santri tetap berada di garda terdepan untuk menjadi contoh terbaik bagi bangsa. Peran santri dinilai krusial untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 agar terus maju dan berkembang sesuai target pemerintah Republik Indonesia.
"Kita semua tentu memiliki harapan yang besar Indonesia Emas tahun 2045 bisa tercapai dan santri tetap harus berada di garda terdepan untuk menjadi contoh yang terbaik bagi bangsa yang kita cintai," tegasnya.
Lebih lanjut, Muslim mengingatkan kembali sejarah penetapan Hari Santri yang tidak lepas dari peristiwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.
Resolusi Jihad yang dimotori oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari tersebut menjadi pemicu bangkitnya semangat perjuangan melawan penjajah, yang salah satunya dikomandoi Bung Tomo di Surabaya hingga mengantarkan kota ini sebagai Kota Pahlawan.
"Bahwa Hari Santri ini ditetapkan karena pada tanggal 22 Oktober 1945 yang dimotori oleh Kyai Hasyim Asy'ari dan kemudian bangkitlah perjuangan melawan penjajah pada waktu itu termasuk juga Bung Tomo yang kemudian menjadi Kota Pahlawan di Surabaya. Maka itu semua ditandai dengan resolusi jihad dan negeri ini menjadi merdeka dan maju sampai sekarang," pungkasnya.
Dalam kesempatan ini, Kepala Kemenag juga memimpin doa bersama untuk para santri yang ikut berjuang merebut kemerdekaan, dan juga untuk keselamatan bangsa dari segala bencana, termasuk ancaman bencana karhutla, yang saat ini tengah melanda sejumlah daerah di Indonesia segera berakhir. (msi/hen)
Load more