Begini Awal Mula Korban DH Mengenal Tersangka Budi dalam Kasus Pembunuhan di Madiun
- Syamsul Huda/tvOne
Jakarta, tvonenews.com- Awal mula korban, Dini Hardayanti (DH) mengenal tersangka, Dwi Bagus Martono dijelaskan keluarga. Keduanya telah menikah pada 2023 lalu.
Dalam ceritanya, ibu dari DH bahwa kedua pihak saling mengenal sejak 2023. Lalu menikah pada September 2026, sehingga hubungannya sudah berjalan kurang lebih 3 tahun.
Ibu Dini mengaku sempat menolak hubungan anaknya dengan Bagus. Sebab pihak tersangka sempat memaksa dan keduanya menikah siri secara diam-diam.
"(awalnya) keluarga si tidak setuju, tidak setuju sama Bagus itu. Nah dia memaksanya dia memaksa dengan korban," jelas ibu DH, dikutip dari youtube tvonenews, Jumat (30/10/2026).
- tangkapan layar YouTube tvOnenews
Lebih lanjut, ia menjelaskan kalau hubungan korban dan tersangka sebagai suami-istri tidak ada masalah. Ketika ada selisih tidak ada pertengkaran hanya diam.
Ibu DH pun sempat menolak, niat sang anak ingin pindah tempat tinggal ke luar Kota. Niat almarhum ditolak karena beralasan tidak ada yang bisa menjaga sang cucu.
"aslinya biasa aja sih, dia suka curhat, kalau (suami siri/tersangka) tidak sekasar itu. Dia cuman diam-diam gitu kalau marah, tidak sekasar seperti ini," sambungnya.
Sebelum diketahui hilang kontak dan menjadi korban pembunuhan. DH diketahui sempat melakukan panggilan video dengan sang ibu, setelah ia dan anaknya sampai di Hotel daerah Madiun.
Firasat tidak enaknya muncul setelah DH mematikan panggilan videonya secara mendadak. Lalu pesannya tidak terkirim dan tidak kunjung direspons.
"katanya mau ada acara, tidak lama itu Bagus datang dan marah, dan ngobrol bentar langsung mati video callnya," katanya dikutip dari youtube tvonenews, Jumat (30/10/2026).
"terus saya wa kenapa teh kok gak aktif lagi, saya cek ceklis ya saya anggap oh lagi ada acara ulang tahun, tapi hati ibu janggal aneh, kok ini tidak ada video. Kan ada cara pasti ada video, dan ibu tlp sudah nggak aktif, dan suaminya saya tlp gak diangkat," jelas ibu DH.
Dalam ceritanya tersebut, Ibu DH melakukan panggila diduga di hari korbang dibunuh. Korban berada di Hotel bersama anaknya yang berusia 4 tahun.
Pada hari besoknya, Ibu DH kembali mencoba menghubungi sang anak. Dengan perasaan tidak enak itu, ia pun meminta tolong pada keluarga lainnya untuk mengirim pesan ke tersangka Bagus.
Suami siri Dini, ia juga disebutkan tidak menjawa panggilan dan tidak membalas pesan ibu korban di hari yang sama.
Setelah dilakukan upaya komunikasi, dengan meminta tolong saudara lain. Lalu ibu korban, kembali mencoba kirim pesan ke suami siri sang anak dengan nada ancaman mau lapor ke Polisi.
"Akhirnya saya kirim pesan 'maaf ganggu, mau tanya aja bagaiaman kabarnya neng dan koko, kalau sehat alhamdulillah," cerita Ibu DH.
"akhirnya, saya minta tolong kirim pesan lagi, saya ancam 'kalau nggak dibls saya lapor polisi saja ya' terus 1 jam kemudian dia jawab katanya (korban) kabur," sambung cerita ibu korban.
Untuk diketahui, polisi menyebut tersangka DBM merupakan lulusan salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia dengan tes psikologis di atas rata-rata.
Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim Ajun Komisaris Besar Polisi Arbaridi Jumhur menyebut penyidik terus mendalami proses pembakaran dan keberadaan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan dengan upaya menghilangkan jejak kejahatan tersangka DBM (40), yang tak lain suami siri korban.
"Jadi, tungku itu dibuat setelah ada proses pembakaran di situ. Setelah itu abunya dibersihkan dan dilarutkan. Jadi, tungku itu untuk menutupi ada pembakaran," ujarnya, dikutip dari antara.
Tersangka diduga menyiapkan kayu untuk membakar jasad korban beberapa hari setelah peristiwa pembunuhan di hotel. Setelah itu, pelaku menutupi dengan tungku.
Penyidik masih mendalami dugaan penggunaan mesin pencacah atau penggiling yang dibeli tersangka untuk menggiling sisa pembakaran jasad kedua korban. Mesin tersebut menjadi salah satu barang bukti yang diperiksa dalam pengungkapan kasus ini.(klw)
Load more