Program Kosabangsa AKPRIND dan STIPRAM Terapkan Teknologi Tepat Tingkatkan Nilai Limbah Organik dan Anorganik
- Istimewa
tvOnenews.com - Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) menerapkan Teknologi Tepat Guna untuk meningkatkan produktifitas petani serta peternak, meningkatkan nilai limbah organik serta anorganik, serta meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan.
Program Kosabangsa ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Universitas AKRPIND Indonesia melalui tim selaku perguruan tinggi pendamping berkolaborasi dengan tim dari Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo sebagai perguruan tinggi pelaksana berkomitmen untuk menjadi bagian dari upaya pengentasan permasalahan yang ada Purwoharjo.
“Program Kosabangsa adalah salah satu bentuk perwujudan komitmen pembangunan dari pemerintah bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk menjalankan fungsi kewajian pengabdian, dan itu langsung dirasakan oleh masyarakat,” ujar Dr. Edhy Sutanta selaku ketua tim pendamping.
"Program kosabangsa ini bertujuan untuk mempertemukan perguruan tinggi dan masyarakat, modelnya adalah kolaborsi untuk mengatasi malah disana (Purwoharjo)," terangnya.
Edhy menjelaskan kegiatan Kosabangsa diawali dengan kegiatan sosialisasi yang dihadiri oleh lurah dan staf pemerintah desa Purwoharjo, Tim Pendamping dari Universitas AKPRIND Indonesia, Tim Pelaksana dari STiPRAM, serta kelompok mitra yaitu Kelompok Tani Ternak Ngudi Makmur Purwoharjo dan Pokdarwis Desa Purwoharjo.
Sosialisasi tersebut fokus pada pemaparan rencana kegiatan sekaligus menjadi forum dengar pendapat dari seluruh pemangku kepentingan agar TTG dan progam pelatihan dapat menjadi solusi dari permasalahan mitra.
"Program Kosabangsa ini merupakan kegiatan kolaboratif untuk menerapkan Teknologi Tepat Guna yang dibuat oleh perguruan tinggi untuk bisa langsung bermanfaat bagi masyarakat atau yang lebih luas," jelasnya.
Teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktifitas petani serta peternak, meningkatkan nilai limbah organik serta anorganik, dan meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan.
Penerapan TTG memang dirancang untuk berdampak pada sektor potensial melaui mitra-mitra terpilih. "TTG yang dipilih harapannya bisa meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kualitas wisatawan secara langsung, itu tujuan diterapkannya TTG," ujar Edhy.
Ia menjelaskan Kelurahan Purwoharjo yang terletak di Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi yang dapat memberikan manfaat yang luas antara lain pertanian, peternakan, dan pariwisata (desa wisata).
Potensi tersebut belum sepenuhnya dikonversi menjadi manfaat karena kondisi alam yang tidak menguntungkan, sumber daya manusia yang belum cakap, dan tidak tersedianya teknologi tepat guna yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.
Hal tersebut dapat dilihat dari fakta bahwa Purwoharjo adalah kelurahan dengan tingkat kemiskinan ekstrim dan ketersediaan air yang terbatas dengan kualitas yang tidak aman untuk konsumsi.
Novi Irawati selaku ketua tim pelaksana menyampaikan bahwa pelatihan teknis seperti penggunaan/perawatan TTG dan peningkatan kapasitas mitra menjadi langkah utama untuk mewujudkan tujuan program Kosabangsa. Pelatihan teknis meliputi operasionalisasi/perawatan TTG agar mitra secara mandiri dalam mengoperasionalkan dan merawat teknologi tersebut.
"Kemandirian dan inovasi adalah tujuan dari dilaksanakannya pelatihan. Harapannya masyarakat bisa mengerti bagaimana pengunaan teknologi dan merawatnya, harapannya mereka bisa terinspirasi dan mengembangan sendiri teknologi yang berguna untuk pekerjaan atau hidup mereka" jelasnya.
Selain aspek peningkatan produktivitas petani dan peternak dengan fokus teknologi irigasi, pakan ternak, dan pengolahan kompos, aspek pengelolaan limbah anorganik dan peningkatan kualitas berkunjung wisatawan melalui teknologi pencacah limbah anorganik dan sensor kualitas air layak konsumsi menjadi fokus penerapan teknologi Kosabanga ini.
Selanjutnya, Novi juga menjelaskan bahwa Kosabangsa tidak hanya semata penerapan teknologi tepat guna tetapi juga peningkatan kapasitas mitra. Topik pelatihan yang disampaikan yaitu peningkatan nilai/pengolahan bahan makanan lokal, manajemen pengelolaan/pengembangan destinasi, pemetaan atraksi desa wisata, serta pelatihan upcycling produk kerajinan dari bahan sisa pohon kelapa.
"Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas dan daya kreatif masyarakat. Paparan yang diberikan diharapkan bisa membuka wawasan terkait manajemen prima dan inovasi produk terutama bahan sisa dari kelapa yang kami harapkan bisa memiliki nilai seni dan berkualitas ekspor" tambah Novi.
Di sisi lain, pelatihan upcycling merupakan pelatihan tindak lanjut dari teknologi yang diterapkan. Sampah anorganik dan organik merupakan permasalahan yang tidak dapat dihindarkan dari dijalankannya usaha kepariwisataan. Peningkatan nilai dari produk sisa atau limbah diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi mitra agar dapat penciptakan produk yang bernilai seni dan jual tinggi.
Penerapan teknologi sensor kualitas air dan penyaring air merupakan komitmen tim untuk menciptakan kualitias berwisata yang maksimal, hal tersebut didasari karena air yang berada di Purwoharjo memiliki kandungan kapur yang tinggi.
"Dalam rangkaian program ini, kami berharap masyarakat bisa mandiri dan mengembangan sendiri produknya ke level yang lebih tinggi" pungkasnya. (*)
Load more