Ketika Krisis Datang: Instagram Menjadi Panggung Klarifikasi
- @Pemprovkaltim
Namun, kehadiran di media sosial tidak otomatis menyelesaikan krisis. Di ruang digital, setiap pesan dapat ditafsirkan berbeda, dipotong konteksnya, bahkan memunculkan percakapan baru yang memperpanjang isu. Karena itu, klarifikasi bukan lagi sekadar memberikan penjelasan, melainkan bagian dari strategi komunikasi yang mempertimbangkan waktu, cara penyampaian, pilihan kata, serta kemampuan membangun kembali kepercayaan publik. Respons yang terlambat dapat dianggap sebagai penghindaran, sementara respons yang kurang tepat justru dapat memperbesar perhatian terhadap isu yang berkembang.
Video klarifikasi Gubernur Kalimantan Timur berhasil menarik perhatian publik dalam skala besar. Dalam sepekan, konten tersebut ditonton lebih dari 3 juta kali dan memperoleh ratusan ribu interaksi. Namun tingginya jangkauan tidak sepenuhnya diikuti ruang dialog yang terbuka. Pembatasan kolom komentar dan tingginya tingkat moderasi komentar menjadi perhatian karena dinilai mengurangi kesempatan publik untuk menyampaikan respons secara langsung. Lalu bagaimana publik memaknai strategi komunikasi tersebut?
Untuk memahami bagaimana publik muda memaknai video tersebut, penulis mewawancarai enam mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman yang aktif mengikuti isu publik dan media sosial. Wawancara dilakukan pada pertengahan Mei 2026 untuk melihat bagaimana mereka menilai strategi klarifikasi yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Instagram.
Infografis Penilaian Efektivitas Video Klarifikasi
Hasil wawancara menunjukkan bahwa video klarifikasi Gubernur Kalimantan Timur di Instagram menghasilkan respons awal yang relatif positif pada sebagian informan. Beberapa informan mengaku bahwa permintaan maaf yang disampaikan dalam video sempat menurunkan rasa marah dan membuat mereka menilai bahwa gubernur berupaya merespons kritik publik secara langsung. Respons emosional tersebut menunjukkan bahwa penyampaian klarifikasi melalui media sosial memiliki kemampuan membentuk persepsi publik dalam waktu cepat.
Namun, efek tersebut tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, sebagian besar informan mulai mempertanyakan konsistensi antara isi klarifikasi dan tindakan lanjutan yang dilakukan setelah video diunggah. Tidak adanya tindak lanjut yang dianggap konkret seperti penyampaian data pendukung, transparansi kebijakan, maupun ruang dialog lanjutan membuat kepercayaan publik kembali menurun.
Publik Menginginkan Dialog, Bukan Sekadar Pernyataan
Load more