Ketika Krisis Datang: Instagram Menjadi Panggung Klarifikasi
- @Pemprovkaltim
Salah satu temuan yang paling konsisten dari hasil wawancara adalah munculnya ketidakpuasan terhadap pembatasan kolom komentar pada unggahan klarifikasi. Seluruh informan menilai bahwa pembatasan interaksi membuat proses komunikasi terasa sepihak dan mengurangi ruang bagi publik untuk menyampaikan respons.
Bagi informan, klarifikasi di media sosial seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai sarana menyampaikan penjelasan, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk bertanya, mengkritik, maupun memperoleh jawaban secara langsung. Ketika ruang interaksi dibatasi, muncul persepsi bahwa pemerintah hanya ingin menyampaikan pesan tanpa benar-benar mendengarkan publik.
Temuan ini sejalan dengan penelitian Rahayu dan Hidayat (2024) yang menyebut praktik tersebut sebagai monolog digital, yaitu penggunaan media sosial yang tetap mempertahankan pola komunikasi satu arah meskipun platform dirancang untuk interaksi. Temuan serupa juga disampaikan Ferré-Pavia dan Bajouk (2025), yang menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah di media sosial sering gagal membangun kepercayaan karena hanya berorientasi pada penyampaian informasi, bukan dialog.
Dalam perspektif Teori Pemulihan Citra, kondisi ini menunjukkan bahwa strategi komunikasi tidak cukup berhenti pada tahap penyampaian pesan. Upaya pemulihan citra membutuhkan keterbukaan terhadap respons publik karena legitimasi di ruang digital dibangun melalui partisipasi, bukan hanya melalui publikasi.
Saat Visual Mengalahkan Substansi
Selain isi pesan, aspek visual juga menjadi perhatian informan dalam menilai efektivitas klarifikasi. Beberapa informan menilai bahwa pencahayaan redup, ekspresi wajah yang terlalu serius, dan gestur yang ditampilkan justru menimbulkan kesan dramatis. Alih-alih memperkuat kesan tulus, elemen visual tersebut pada sebagian audiens memunculkan kecurigaan bahwa video telah dirancang secara berlebihan.
Temuan ini menunjukkan bahwa publik media sosial tidak hanya menilai apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana pesan ditampilkan. Dalam komunikasi digital, visual menjadi bagian penting dari pembentukan makna.
Krisno, Budiman, dan Al-Nahari (2025) menjelaskan bahwa pada era pasca-kebenaran, emosi memiliki pengaruh besar terhadap penerimaan publik. Namun, ketika ekspresi emosional terlihat terlalu dibuat, publik dapat merespons dengan skeptisisme. Pendapat tersebut diperkuat oleh Phorueang dan Siripanich (2024) yang menyatakan bahwa narasi verbal dan tampilan visual harus menunjukkan konsistensi agar tidak dianggap sebagai manipulasi citra.
Load more