Bebas Biaya Sewa dan Tanpa Target, Skema Beli Putus EDC Orderkuota Untungkan Pelaku UMKM
- Antara
tvOnenews.com - Transisi menuju era ekonomi serba cashless nyatanya belum sepenuhnya menyentuh masyarakat di tingkat akar rumput. Fakta di lapangan menunjukkan masih banyak warga desa hingga pinggiran kota yang sangat bergantung pada perputaran uang fisik.
Di sisi lain, ekosistem perbankan seringkali terasa berjarak bagi warga biasa yang kerap merasa canggung atau kurang percaya diri untuk sekadar datang ke kantor cabang lantaran hanya mengenakan pakaian santai sehari-hari.
Menjawab tantangan riil tersebut, EDC Orderkuota kini hadir menjembatani kesenjangan akses finansial. Perangkat ini tak sekadar menjadi alat bayar biasa, tetapi dirancang sebagai solusi hibrida yang menyulap toko kelontong atau agen pulsa biasa menjadi pusat layanan perbankan mini yang ramah bagi warga sekitar.
Menghapus Jarak, Memutus Birokrasi Bank
Banyak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang sebenarnya sangat berpotensi membuka layanan keuangan mandiri. Namun, mereka kerap kali terbentur oleh ketatnya birokrasi pengajuan mesin Electronic Data Capture (EDC) ke pihak bank, belum lagi ditambah adanya bayang-bayang beban target transaksi bulanan yang memberatkan.
"Momentum akselerasi EDC Orderkuota di tahun 2026 ini berangkat dari cerita riil para mitra di lapangan," ungkap Head Partnership & Open Banking Orderkuota, Tegar Herlambang saat di Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Melalui layanan terpadunya, warga kini bisa dengan leluasa melakukan tarik tunai dan transaksi perbankan cukup dengan melangkah ke warung tetangga, tanpa perlu repot menempuh jarak jauh mencari mesin ATM.
Infrastruktur Tangguh, Sepenuhnya Bebas Biaya Sewa
Soal ketahanan teknis, perangkat keras ini sama sekali tidak bisa dipandang sebelah mata. Orderkuota menggandeng salah satu manufaktur teknologi global yang sudah teruji rekam jejaknya sejak 2005. Desain fisiknya yang ringkas dan tangguh dipadukan dengan stabilitas arsitektur server serta sistem keamanan berlapis. Spesifikasi ini membuatnya menjadi mesin yang tangguh menghadapi dinamika operasional harian warung sekaligus memitigasi risiko kejahatan siber.
Daya tarik paling kuat bagi para agen justru terletak pada skema kepemilikannya. Manajemen menerapkan sistem "beli putus" yang sangat bersahabat. Setelah mesin dibeli, mitra sepenuhnya terbebas dari jerat biaya sewa bulanan maupun potongan biaya administrasi tersembunyi. Tidak ada cerita mesin tiba-tiba ditarik karena target tak tercapai. Seluruh profit seratus persen masuk ke kantong agen, dan Orderkuota memberikan dukungan penuh, salah satunya dengan membekali agen merchandise pendukung seperti spanduk toko guna mendongkrak visibilitas bisnis.
- Istimewa
Strategi "Turun Gunung" Melesatkan Target
Memasuki Kuartal 3 tahun ini, manajemen mematok target distribusi yang cukup agresif, yakni mencapai angka penjualan konsisten 100 unit perangkat setiap minggunya. Fokus ekspansi diarahkan tajam untuk menyasar wilayah-wilayah perdesaan (rural) yang selama ini minim sentuhan fasilitas finansial. Pihak manajemen sangat optimistis angka tersebut bisa ditembus. Keyakinan ini bukan sekadar omong kosong di atas kertas. Manajemen membuktikan keseriusannya lewat pendekatan lapangan (direct engagement).
Tanpa sekat perwakilan, mereka terjun langsung blusukan menemui para pemilik toko kelontong, baik yang sudah menjadi mitra maupun yang belum, untuk mendengar langsung keluh kesah dan kebutuhan riil warga. Manager Partnership & Open Banking Orderkuota, Eka Mei Dita Erlinia menekankan bahwa peran perusahaan tidak lantas putus begitu saja usai mesin terjual.
"Kami terus berupaya merawat dan mendampingi mitra secara intensif melalui layanan purna jual (after-sales) yang responsif, memastikan tidak ada satupun agen UMKM yang merasa berjuang sendirian dalam membesarkan usahanya," papar Eka Mei.(chm)
Load more