Inovasi Medis Anastesi, La Siape Raih Penghargaan TvOne Award
- erdika mukdir
Kendari, tvOnenews.com - Putra asal Kabupaten Muna La Siape, BSc diganjar penghargaan atas dedikasi inovasi medis terkait anastesi. Ia dianugerahi penghargaan dari tvOne karena dianggap berkontribusi membangun negeri melalui inovasi medis.
Pihaknya berkeinginan memberi pelajaran serta pengetahuan untuk pelajar tingkat SMA di Sultra tentang penolongan pertama pada kasus stop jantung. Namun ia masih perlu melakukan koordinasi dengan Pemprov Sultra.
“Kalau Pemprov bersedia, kami akan melakukan sosialisasi dan mengajarkan bagaimana langkah-langkah yang dilakukan bila menemukan kasus seperti stop jantung,” ujarnya saat ditemui di Kendari, Sabtu (31/10).
Ketua Ikatan Alumni Aknes Jakarta itu mengatakan kemampuan pertolongan kasus stop jantung tidak hanya dimiliki oleh tenaga kesehatan, tapi siapapun yang mau belajar. Ia mengatakan telah mengedukasi masyarakat mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD) di empat provinsi. Yakni Jakarta, Bandung (Jawa Barat), Sulawesi Utara dan Jawa Tengah.
"Dengan mengedukasi masyarakat tentang BHD, maka semakin banyak orang yang punya kemampuan melakukan pertolongan pada kasus stop jantung," tambahnya.
Lanjut, dirinya mencontohkan di ruang publik, di sekolah, di ruang kantor, di mana pun itu, tiba-tiba ada yang jatuh pingsan, tidak sadarkan diri, tidak bernapas. Maka tiga langkah yang harus dilakukan. Yaitu amankan diri kita, aman korban dan aman lingkungan.
"Kita amankan dia (korban), terus apa yang kita lakukan? Panggil bantuan. Yang kita lakukan sebagai kita yang teredukasi dan sebelum bantuan datang adalah melakukan pijatan jantung. Pijatan jantung itu kalau orang dewasa sampai 120 kali per menit. Jangan berhenti. Kemungkinan besar dia akan kembali jantungnya, bisa balik lagi, bisa berdenyut lagi,” bebernya.
Selain itu, kata dia, mereka yang teredukasi juga akan paham bagaimana mengangkat korban sampai di kendaraan. Sebab ada posisi tertentu. Di Magelang, Jawa Tengah, kata dia, timnya mengedukasi warga negara asing tentang BHD. Ternyata turis juga belum paham soal pertolongan pertama terhadap kasus stop jantung.
"Kalau kalangan pelajar di Sultra bersedia diedukasi, maka kami akan membawa alat peraga. Tentu edukasi yang dilakukan tanpa dipungut biaya," tegasnya.
Ia mengutamakan Sultra karena kampung halaman, sebab ada provinsi lain yang bersedia bekerjasama. Rencananya, pengetahuan BHD akan diperjuangkan masuk dalam kurikulum pendidikan. Di dunia, sudah ada enam negara yang memasukkan BHD dalam kurikulum.
Menurutnya, BHD masih belum familiar di masyarakat termasuk satuan pendidikan. Kalau Sultra jadi tempat edukasi BHD, maka pihaknya akan presentasikan hal it uke sekolah-sekolah itu terutama guru pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan.
“Jadi ini gratis. Kita akan melatih guru-guru, kita edukasi guru-guru sampai bisa. Kami dari pranata anastesi seluruh Indonesia, yang punya keterampilan BHD, kami siap untuk edukasi, kami siap untuk mengadakan simposium atau talk show ataupun juga seminar-seminar dan tidak tidak berbayar,” pungkasnya.
(erd/asm)
Load more