Konsul Jenderal Jepang Ungkap Kerja Sama Investasi dan Penempatan Perawat Sumut ke Jepang
- Tim tvOne
Medan, tvOnenews.com - Jepang terus memperkuat kerja sama dengan Sumatera Utara di sektor ekonomi dan ketenagakerjaan. Kerja sama tersebut mencakup investasi perusahaan Jepang di bidang perkebunan karet, industri elektronik, hingga penempatan tenaga kerja perawat dan perawat lansia ke Jepang.
Hal itu disampaikan Konsul Jenderal Jepang di Medan, Furugori Toru, dalam acara media gathering yang berlangsung di kediaman resmi Konsul Jenderal Jepang di Medan, Rabu (24/6/2026).
Menurut Furugori, sejumlah perusahaan Jepang saat ini telah menjalankan kegiatan usaha di Sumatera Utara, khususnya di sektor ekonomi.
“Terkait kerja sama di bidang ekonomi di Sumatera Utara yang pertama ada perusahaan karet Jepang, mereka menanam pohon karet dan diekspor ke Jepang untuk dikelola, yang kedua ada perusahaan elektronik yang akan digunakan untuk mobil yang juga diekspor ke negara-negara lain,” kata Furugori Toru.
Selain sektor ekonomi, kerja sama antara Jepang dan Sumatera Utara juga berlangsung di bidang jasa, terutama dalam penempatan tenaga kerja ke Jepang.
Furugori menjelaskan, profesi perawat dan perawat lansia menjadi salah satu bidang yang banyak diminati lulusan program studi keperawatan dari Sumatera Utara untuk bekerja di Jepang.
“Ada perusahaan Jepang yang menjembatani perawat dan perawat lansia dari Sumut yang akan bekerja di Jepang,” ujarnya.
Salah seorang perawat lansia asal Indonesia yang kini bekerja di Jepang, Darul Fahmi, mengatakan dirinya berangkat melalui Program Government to Government (G to G) Jepang atau Economic Partnership Agreement (EPA) Batch 15 yang difasilitasi pemerintah Indonesia melalui Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia.
Darul Fahmi, perawat asal Kota Medan, Sumut, yang bekerja di Jepang.
Menurut Darul, program tersebut dibuka setiap tahun dengan tahapan seleksi yang cukup panjang, mulai dari psikotes, tes bahasa Jepang, tes kesehatan, hingga wawancara langsung dengan perusahaan Jepang yang datang ke Jakarta.
“Program ini dibuka setiap tahunnya sekali, dengan proses yang cukup panjang. Seperti tes psikotes, tes bahasa Jepang, tes kesehatan, dan juga tahap wawancara langsung dengan pihak perusahaan Jepang yang langsung datang ke Jakarta,” ujarnya.
Setelah dinyatakan lulus, peserta akan mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama enam bulan di Indonesia yang diajarkan langsung oleh pengajar asal Jepang sebelum diberangkatkan ke negara tujuan.
Darul juga menjelaskan seluruh biaya keberangkatan ditanggung oleh pemerintah melalui program tersebut.
Saat ini, ia telah bekerja selama kurang lebih lima tahun di salah satu panti jompo di wilayah Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang.
“Kurang lebih saya sudah lima tahun bekerja di salah satu panti jompo di Nagoya, Aichi, dengan gaji yang terbilang cukup secara nominal,” katanya.
Sebagai lulusan keperawatan di Indonesia, Darul mengaku ilmu yang diperoleh selama masa perkuliahan sangat membantu dan dapat diterapkan dalam pekerjaannya sehari-hari di Jepang.
“Saya sebagai lulusan keperawatan di Indonesia merasa ilmu-ilmu yang sudah saya dapatkan selama perkuliahan semuanya bisa diaplikasikan di dalam pekerjaan,” tuturnya.
Kerja sama tersebut diharapkan dapat terus berkembang dan membuka peluang yang lebih luas bagi masyarakat Sumatera Utara, baik melalui investasi maupun kesempatan kerja di Jepang.
Load more