Dari Pemulihan Ekosistem ke Pariwisata, Destinasi Mangrove Karang Gading Dilirik Wisatawan Mancanegara
- tim tvOne/Ahmidal Yauzar
Langkat, tvOnenews com - Muhammad Aliandi Syahputra, ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera menunjuk beberapa jenis pohon mangrove yang membentang luas di areal konservasi saat menyusuri sungai di perairan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.
Di sela perjalanan, menaiki perahu mesin menuju salah satu lokasi hutan mangrove yang dikelola KTH Mangrove Sejahtera, Aliandi bercerita bahwa sebelum bergabung di kelompok tani untuk pemulihan hutan mangrove, dirinya pernah terlibat dalam perusakan kayu bakau.
Minimnya pemahaman dan desakan ekonomi saat itu membuat dirinya menebang pohon mangrove untuk dijadikan arang, kemudian menjualnya. Hasil yang didapat diperuntukkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Aktivitas itu berlangsung dari tahun 1996, hingga pada tahun 2000 ia mulai sadar bahwa pohon mangrove sebagai penahan abrasi perlahan mulai hilang, sementara ekonomi masyarakat nelayan terpuruk akibat hasil tangkap ikan yang berkurang.
"Sejak saat itu saya tersadarkan. Ketika kayu yang saya tebang habis saya tidak lagi dapat uang. Pernah saya membubuh jaring, kepitingnya gak ada, ikannya gak ada, udangnya juga tidak ada. Jadi saya berpikir berarti lebih baik ada hutannya dari pada memotong kayunya," kata Aliandi, Senin (5/10/2026).
KTH Mangrove Sejahtera merupakan kelompok tani hutan mangrove di Desa Ibus, Kecamatan Secanggang, binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Utara yang berfokus pada pengelolaan kawasan konservasi hutan mangrove di Suaka Margasatwa Karang Gading Langkat Timur Laut, Kabupaten Langkat.
Kelompok pemberdayaan masyarakat ini mulai melakukan pemulihan ekosistem hutan mangrove di lahan kawasan hutan yang dulunya terdegradasi lahan sawit dan tambak ilegal.
Pada tahun 2018, KTH Mangrove Sejahtera bersama masyarakat setempat mulai menjaga hutan mangrove. Mereka melakukan pembibitan, penanaman, hingga pelestarian hutan mangrove.
M. Aliandi Syahputra mengatakan, sejak mendapatkan pendampingan BBKSDA Sumut, masyarakat setempat yang tergabung dalam KTH Mangrove Sejahtera mulai menjaga kelestarian hutan mangrove .
Lahan-lahan yang dulunya ditanami sawit dan tambak kini mulai tertutup oleh rimbun pohon-pohon mangrove. Sesekali tampak beberapa hewan seperti monyet, burung tampak di balik hijaunya pohon bakau.
Melihat potensi itu, KTH Mangrove Sejahtera didampingi BBKSDA Sumut mulai mengembangkan ekowisata mangrove di kawasan konservasi Karang Gading Langkat Timur, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.
Pada tahun 2024, wisatawan mancanegara seperti Amerika, Australia, Inggris, Francis, Jerman, Selandia Baru, dan Spanyol datang menelusuri kawasan hutan mangrove.
"Kalau mereka itu datang dengan minat yang berbeda-beda karena di sini ada beberapa spot yang menarik, mulai dari melihat pengembangbiakan belangkas, pengamatan burung migran, kelelawar raksasa, mendokumentasikan reptile, ada pula yang mengetahui tentang edukasi mangrove itu apa," ujar Aliandi.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, mengatakan, wisata mangrove Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut merupakan kawasan konservasi di wilayah pesisir Pantai Timur Sumatra Utara dengan cakupan luas 14.000 hektar.
Dari kawasan ini, terdapat beberapa lokasi yang dapat dijadikan objek wisata edukasi dengan daya tarik menyusuri sungai dan mengamati flaura dan fauna.
Pengelolaan dan pengembangan ekowisata mangrove sangat berdampak baik bagi kelangsungan ekonomi masyarakat maupun kelestarian alam dan biota laut.
"Sangat positif, ekonomi masyarakat mulai tumbuh. Tentunya kita berharap pengelolaan ekosistem dan ekowisata mangrove di sini memberikan banyak manfaat," tutupnya. (Ayr/wna)
Load more